Perang Dagang Trump Bikin The Fed Pangkas Bunga Bulan Depan?

Market - Prima Wirayani, CNBC Indonesia
20 June 2019 07:04
Perang Dagang Trump Bikin The Fed Pangkas Bunga Bulan Depan?
Washington, CNBC Indonesia - Bank sentral Amerika Serikat (AS) Federal Reserve pada Rabu (19/6/2019) menegaskan siap menghadapi berbagai risiko ekonomi global dan dalam negeri dengan penurunan suku bunga paling cepat bulan depan.

The Fed menyebut ketegangan perdagangan dan meningkatnya kekhawatiran terkait inflasi yang masih saja lemah sebagai alasan sikapnya itu.

Bank sentral memutuskan menahan suku bunga acuannya Federal Funds Rate tetap di kisaran target 2,25%-2,5%. Namun, Presiden The Fed St. Louis James Bullard menyatakan bunga acuannya seharusnya turun bulan ini.


Meski masih menahan suku bunga, perubahan sikap dibandingkan rapat penentuan kebijakan (FOMC) bulan lalu tetap terasa.



Proyeksi ekonomi baru dari The Fed menunjukkan bahwa hampir separuh dari 17 pembuat kebijakan kini menunjukkan keinginan untuk menurunkan suku bunga dalam enam bulan ke depan. Bahkan, tujuh orang tercatat memperkirakan bunga acuan dapat turun hingga 0,5 poin persentase.

Para pelaku pasar telah memperkirakan adanya kebijakan moneter yang lebih longgar pada Juli. Mereka juga memperkirakan bank sentral akan memangkas bunga acuan pada September dan Desember, menurut FedWatch.

Bank sentral juga menghapuskan kata "sabar" dalam pernyataannya dan mengatakan akan "mengambil tindakan yang sesuai" untuk mendukung perekonomian.

Powell juga tidak lagi menyebut kondisi lemahnya inflasi saat ini sebagai sesuatu yang sifatnya sementara, dilansir dari Reuters.

Meskipun pertumbuhan ekonomi diperkirakan terus berlanjut, Powell mengatakan kecemasan para pembuat kebijakan menguat dalam beberapa pekan terakhir akibat perkembangan yang mengejutkan dari perseteruan dagang AS-China.

Perang Dagang Trump Bikin The Fed Pangkas Bunga Bulan Depan?Foto: Gubernur Federal Reserve AS Jerome Powell berpartisipasi dalam diskusi Economic Club di Washington, AS, 10 Januari 2019. REUTERS / Jim Young

Presiden AS Donald Trump menaikkan bea impor terhadap berbagai produk China senilai US$200 miliar dari 10% menjadi 25% pada 10 Mei lalu. Langkah itu langsung dibalas oleh China dengan kebijakan serupa yang menyasar barang-barang AS senilai US$60 miliar.

Bahkan, peluang bertemunya Trump dan Presiden China Xi Jinping di G20 pekan depan masih sulit untuk diperkirakan hasilnya oleh The Fed.

"Tujuh pekan lalu kita mendapat laporan pekerjaan yang sangat baik dan rasa yang datang dari pertemuan terakhir The Fed adalah bahwa ekonomi dan kebijakan kami ada di tempat yang tepat," ujarnya. "Kabar mengenai perdagangan menjadi penggerak penting sentimen untuk saat ini."

"Kami cukup sadar akan risiko-risiko terhadap proyeksi tersebut dan bersiap untuk bergerak dan menggunakan instrumen-instrumen kami bila diperlukan," ujarnya dalam konferensi pers setelah pengumuman hasil rapat FOMC.


"Kami akan bertindak sebagaimana diperlukan, termasuk bergerak segera bila memang itu sesuai, dan menggunakan instrumen-instrumen kami untuk mempertahankan pertumbuhan ekonomi," tambahnya.

Dalam proyeksi ekonomi yang baru, perkiraan pertumbuhan ekonomi dan angka pengangguran dari The Fed secara umum tidak berubah dibandingkan Mei. Namun, mereka kini memperkirakan inflasi hanya akan ada di 1,5% tahun ini, turun dari proyeksi sebelumnya 1,8%.

Mereka juga memperkirakan akan gagal mencapai target 2% inflasi di tahun depan. (prm)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading