Anak Usaha MNC Grup IPO Lagi, Bagaimana Jeroannya?

Market - Dwi Ayuningtyas, CNBC Indonesia
19 June 2019 10:44
Anak Usaha MNC Grup IPO Lagi, Bagaimana Jeroannya?
Jakarta, CNBC Indonesia - Emiten media di bawah naungan MNC Grup, PT MNC Vision Networks (MVN), akan segera melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) melalui mekanisme penawaran umum perdana saham atau Initial Public Offering (IPO).

MVN sejatinya bukan pemain baru di industri media. Memulai bisnis sejak tahun 1988, hingga saat ini MVN sudah memiliki tiga unit usaha, yaitu PT MNC Sky Vision Tbk (MNC Vision) yang sudah tercatat di BEI dengan kode saham MSKY, PT MNC Kabel Mediakom (MNC Play), dan PT MNC OTT Network (MNC Now).

Perusahaan berhasil memantapkan posisinya terutama di layanan TV berbayar melalui MSKY yang merupakan market leader dengan pangsa pasar mencapai 96%.


Melansir prospektus perusahaan, MSKY juga memberikan kontribusi pendapatan yang paling besar, yaitu mencapai 79,81% untuk periode tahun buku 2018.


Lebih lanjut, peralihan pola perilaku masyarakat Indonesia yang mulai mengakses media video dan film streaming melalui platform digital berpotensi bergerak cepat sejalan dengan penetrasi internet yang diproyeksi tumbuh tiap tahun. Perubahan pola inilah yang dimanfaatkan oleh dua anak usaha MVN, yaitu MNC Play dan MNC Now.

Untuk diketahui, bisnis MNC Play berfokus pada penyediaan jaringan internet terutama di kota-kota besar di Indonesia. Sementara MNC Now memiliki fokus pada layanan video on demand (VOD) dengan 130 saluran televisi yang dapat diakses secara langsung.

Namun, di lain pihak tingkat pendapatan masyarakat Indonesia besar kemungkinan membatasi prospek usaha perusahaan. Pasalnya anggaran untuk mengakses layanan yang ditawarkan oleh MVN terbilang masih cukup tinggi dengan tingkat upah minimum regional (UMR) yang rata-rata sebesar Rp 2,06 juta/bulan.

Sebagai informasi, biaya bulanan untuk berlangganan MNC Vision sebesar US$ 10 atau setara Rp 142.000 (asumsi kurs Rp 14.200/US$). Sedangkan MNC Play sebesar US$ 22 atau Rp 312.400. Biaya tersebut setara dengan 7-16% dari UMR, di mana ini merupakan persentase yang cukup tinggi untuk sekedar layanan hiburan.

Meskipun demikian, perusahaan percaya bahwa total pemasukan perusahaan tahun ini akan tumbuh 21,44% year-on-year (YoY) menjadi Rp 3,92 triliun dari sebelumnya Rp 3,23 triliun. Selain itu, perusahaan juga memproyeksi akan dapat mengantongi laba tahun berjalan mencapai Rp 172 miliar.

Patut diingat, sejak tahun 2016 hingga 2018, MVN selalu mencatatkan rugi tahun berjalan dengan nilai kerugian tahun lalu mencapai Rp 47 miliar. Total pemasukan perusahaan juga tumbuh relatif stabil, dengan rata-rata pertumbuhan 2 tahun terakhir hanya di level 3,72% secara tahunan.

Neraca perusahaan
Jika dianalisis lebih rinci kinerja neraca perusahaan, selama 3 tahun terakhir tingkat hutang perusahaan terus tumbuh. Hal ini terlihat dari rasio debt-to-equity (DER) yang naik dari 0,86 kali di tahun 2016 menjadi 2,02 kali tahun lalu.

DER menunjukkan tingkat utang perusahaan yang dihitung dengan membagi total utang dengan total ekuitas. DER bisa juga menandakan resiko kredit perusahaan, semakin tinggi nilainya maka semakin besar resiko kredit.

Selain itu, tingkat likuiditas perusahaan di tahun 2018 juga anjlok. Rasio lancar MVN untuk tahun 2018 tercatat sebesar 37,88%, dimana di tahun 2017 rasio yang sama mencapai 93,93%.

Rasio lancar menggambarkan seberapa likuid perusahaan dengan menganalisis kemampuan untuk memenuhi kewajiban jangka pendek dengan aset lancar yang dimiliki saat ini. Semakin tinggi nilainya, semakin likuid perusahaan.


"Penawaran umum ini merupakan langkah strategis perusahaan dalam rangka memperkuat struktur permodalan dimana dana hasil penawaran akan digunakan untuk modal kerja, pengembangan jaringan fixed broadband/IPTV [internet protocol television] serta pengembangan layanan konten digital melalui produksi konten original," kata Direktur Utama MVN Ade Tjendra di MNC Tower, Jakarta, Senin (17/6).

Pada IPO kali ini, MVN akan melepas 3,52 miliar saham dan harga perdana ditawarkan di level Rp 231-Rp 243/saham, sehingga dana yang dapat diperoleh perusahaan bisa mencapai Rp 814,58 miliar-Rp 855,84 miliar. Dana ini sebesar 70% akan digunakan untuk modal kerja dan pengembangan anak usahanya MNC Play dan 30% akan digunakan untuk modal kerja dan pengembangan MNC Now.

Untuk jadwalnya, masa penawaran awal (bookbuilding) telah dimulai sejak 14 Juni 2019 dan akan berakhir pada 21 Juni 2019. Pernyataan efektif dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) diharapkan dapat diperoleh pada 28 Juni mendatang. Pencatatan saham di BEI dijadwalkan dapat dilakukan pada 8 Juli 2019.
TIM RISET CNBC INDONESIA

(dwa/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading