Gara-gara Daging Babi, Inflasi China Cetak Rekor

Market - Wangi Sinintya Mangkuto, CNBC Indonesia
12 June 2019 13:13
Gara-gara Daging Babi, Inflasi China Cetak Rekor
Jakarta, CNBC Indonesia - Inflasi China naik ke level tertinggi dalam lebih dari satu tahun di bulan Mei, didorong oleh lonjakan harga daging babi dan buah yang disebabkan oleh epidemi demam babi Afrika dan cuaca buruk, menurut data resmi pemerintah, Rabu (12/6/2019).

Meski harga meningkat, permintaan tetap lemah karena adanya perang dagang dengan Amerika Serikat (AS) dan ketidakpastian ekonomi.

Indeks harga konsumen (IHK) mencapai 2,7%, menurut data Biro Statistik Nasional (NBS), dibandingkan 2,5% pada April. Ini adalah angka tertinggi sejak Februari 2018.


Data ini sejalan dengan perkiraan analis yang disurvei oleh Bloomberg News, dilansir dari AFP.


Kenaikan itu terjadi sebagian besar akibat kenaikan inflasi harga makanan yang lebih cepat dan gangguan pasokan daging babi yang disebabkan oleh flu babi Afrika, tulis Capital Economics dalam sebuah catatan.

Baru-baru ini jutaan babi telah dimusnahkan akibat penyakit yang menyebar ke China dan sekitarnya. Wabah ini menghancurkan rantai makanan global dan berdampak pada harga daging babi dari pasar makanan Hong Kong hingga menu makan malam di AS.

Harga daging babi melonjak 18,2% pada Mei, kata NBS China. Sementara itu, harga buah segar naik 26,7% secara tahunan karena cuaca buruk memukul persediaan.

Statistik resmi Beijing mengatakan sekitar satu juta babi telah terbunuh sejak wabah pertama muncul pada Agustus, tetapi hal itu dianggap remeh.

Indeks harga produsen (PPI), indikator penting permintaan domestik, mencapai 0,6% di bulan Mei, dari 0,9% di bulan sebelumnya.

Gara-gara Daging Babi, Inflasi China Cetak RekorFoto: REUTERS/Karl Plume

"Pertumbuhan ekonomi dapat melambat lebih lanjut karena meningkatnya ketegangan perdagangan AS-China", tulis Nomura International dalam sebuah catatan.

"Kami berharap Beijing akan melakukan langkah-langkah pelonggaran/ stimulus lebih lanjut untuk meningkatkan kepercayaan dan menstabilkan pertumbuhan," tambahnya.

Presiden AS Donald Trump diperkirakan akan bertemu Presiden China Xi Jinping di sela-sela pertemuan G20 di Jepang akhir bulan ini untuk membahas pertikaian perdagangan yang telah berjalan sejak lama. Namun, Menteri Perdagangan AS Wilbur Ross telah memperingatkan bahwa pertemuan itu tidak akan menjadi kesempatan pengumuman perjanjian. (prm)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading