3 Kelompok Ini Bikin Inflasi Mei di Atas Ekspektasi

Market - Lydia Sembiring, CNBC Indonesia
11 June 2019 08:16
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat sepanjang Mei 2019 terjadi inflasi sebesar 0,68%.
Jakarta, CNBC Indonesia - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat sepanjang Mei 2019 terjadi inflasi sebesar 0,68%, sementara secara tahun ke tahun atau year on year (Mei 2019-Mei 2018) tercatat inflasi sebesar 3,32% atau masih dalam target sasaran pemerintah di kisaran 3,5%.

Adapun tingkat inflasi tahun kalender (Januari-Mei) 2019 sebesar 1,48%. 
Inflasi bulanan pada Mei ini lebih tinggi dari konsensus pasar yang dihimpun CNBC Indonesia yang memperkirakan inflasi bulanan (month-on-month/mtm) berada di 0,53%, sementara inflasi year-on-year (yoy) diramal 3,165% dan inflasi inti YoY sebesar 3,08%.

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan dari tujuh kelompok pengeluaran, penyebab utama inflasi karena bahan makanan serta makanan jadi hingga transportasi.

Tingkat inflasi bahan makanan tercatat 2,02% dengan andil 0,43%, kemudian makan jadi, minuman, rokok dan tembakau mencatat inflasi 0,56% dengan andil 0,10%, dan selanjutnya kelompok transportasi 0,54% dengan andil 0,10%.


"Untuk bahan makanan inflasi 2,02% andil 0,43%. Komoditas dominan memberikan inflasi yaitu, kenaikan cabai merah 0,10%, daging ayam ras 0,05%, bawang putih 0,05%, ikan segar 0,04%. Selebihnya komoditas sayuran kecil-kecil kontribusinya hanya 0,01% tapi beraneka ragam sayuran seperti kelapa, pepaya dan sebagainya. Jadi kenaikan ini wajar," ujarnya di Gedung BPS, Senin (10/6/2019).

Menurutnya, kenaikan harga pangan ini sangat wajar selama bulan Ramadan yang memang pasti ada banyak permintaan. Namun, masih ada beberapa bahan pangan yang mengalami deflasi.

"Ada andil deflasi, bawang merah andil 0,04% karena terjadi panen raya di Brebes sehingga turun harga di 51 kota IHK [indeks harga konsumen], harga beras turun sehingga sumbang inflasi 0,02%," jelasnya.

Adapun untuk makanan jadi, penyumbang inflasi adalah kenaikan harga nasi dan lauk pauk dengan andil 0,01%. Kemudian rokok filter dan juga gula dengan andil 0,01%.

Di sisi lain, untuk kelompok perumahan inflasi relatif aman sebesar 0,06% dengan andil 0,02%. Kemudian sandang 0,45% dengan andil 0,02% dan seluruh sub kelompok ini mengalami peningkatan.

Untuk kesehatan dan pendidikan menyumbang inflasi masing-masing 0,18% dan 0,03%. Selanjutnya transportasi mengalami inflasi, terkait dengan tarif angkutan kota baik udara maupun kereta api.

"Yang dominan adalah tarif angkutan kota karena permintaan pulang kampung tinggi dengan andil 0,04%, angkutan udara dan kereta api masing-masing andil 0,02%. Jadi sesuatu yang wajar karena kan harga tiket mahal," ujarnya.

Untuk inflasi angkutan udara, secara tahunan atau dibandingkan dengan Mei 2018, inflasi angkutan udara pada Mei 2019 tercatat cukup tinggi sebesar 0,30%. Bahkan penurunan Tarif Batas Atas (TBA) maskapai penerbangan sebesar 16% yang dilakukan pemerintah tidak terlalu berpengaruh kepada inflasi Mei.

"Kalau kita bicara year on year, angkutan udara 0,30% [inflasinya]. Kalau mtm enggak besar karena bulan Mei sudah tinggi meskipun pemerintah sudah turunkan batas atas tapi menjadi tidak begitu kelihatan. Jadi kalau yoy angkutan udara sumbangannya 0,30% terhadap inflasi 3,32%," kata dia.

Inflasi Mei didorong harga pangan.
[Gambas:Video CNBC]




(tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading