Penjelasan BI Soal Kondisi Pasar yang 'Ditinggal' Asing

Market - Lidya Julita S, CNBC Indonesia
17 May 2019 14:27
Penjelasan BI Soal Kondisi Pasar yang 'Ditinggal' Asing
Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan Indonesia lagi ditinggalkan asing. Bahkan dalam 4 hari, dana asing keluar mencapai Rp 11 triliun.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan, dana keluar ini biasanya berasal dari investor jangka pendek atau trader.

Selain itu, keluarnya para investor dikarenakan kondisi perekonomian global global yang semakin memanas seperti perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China.


Kondisi ini juga membuat tekanan bagi nilai tukar rupiah yang beberapa pekan ini melemah cukup dalam.




Berikut penjelasan lengkap Gubernur BI Perry Warjiyo mengenai kondisi pasar keuangan Indonesia saat ini saat ditemui di Gedung BI, Jumat (17/5/2019):

Mengenai perkembangan pasar memang nampak bahwa ketidakpastian pasar keuangan global itu terus meningkat terutama karena memang ketegangan perdagangan antara Amerika dengan China, saling lempar untuk mengenakan tarif itu memang meningkatkan ketidakpastian pasar keuangan global, sehingga memang ini menimbulkan dampak peralihan modal yang semula masuk ke emerging market termasuk Indonesia, ini malah kembali ke negara-negara maju.

Nah memang perundingan-perundingan masih terus berlangsung, tentu saja kita harapkan nanti pada saat G20 Leaders Meeting di Osaka pada 22 Juni itu semoga terjadi kesepakatan antara AS dan China. Jadi perundingan masih terus berlangsung, semoga itu terjadi kesepakatan.

Nah memang dampaknya terasa ke seluruh negara, termasuk Indonesia. Pertama, dampaknya terjadi kita lihat tadi, modal asing yang keluar terutama portofolio outflow. Kalau menurut data settlement, antara 13-16 Mei terjadi aliran modal asing yang keluar dari Indonesia nett jual Rp 11,3 triliun, terdiri dari Rp 7,6 triliun SBN nett jual dan Rp 4,1 triliun saham. Ini dua duanya umumnya adalah investor jangka pendek atau sifatnya trader, biasanya mereka masuk, termasuk juga di awal tahun ini. Dalam dua minggu ini keluar karena merespon ketidakpastian pasar keuangan di global.

Dan tentu saja, itu juga memberikan tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Dalam konteks ini, kami tegaskan bahwa BI selalu berada di pasar untuk melakukan langkah stabilisasi nilai tukar rupiah dengan intervensi ganda, baik melalui pasar valas di spot maupun DNDF. Demikian juga pembelian SBN dari pasar sekunder, dengan tetap menjaga mekanisme pasar. Itu yang terus kita lakukan sehingga kita juga selain mensupply di valasnya juga membeli SBN dari pasar sekunder.

Catatan terakhir, SBN 10 tahun naik di titik 8,02%, sedangkan yield 10 tahun treasury 2,39%. Jadi, ini yang terjadi.





(dru)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading