Perusahaan AS Ogah Dukung Trump Paksa The Fed Pangkas Bunga

Market - Rehia Sebayang, CNBC Indonesia
13 May 2019 11:56
Tidak satu pun CFO yang berbasis di AS yang setuju dengan permintaan Trump untuk menurunkan suku bunga lagi.
Jakarta, CNBC Indonesia - Sebelum perang dagang menguasai pasar, perseteruan antara Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dengan bank sentral Federal Reserve dalam mengatur arah pergerakan suku bunga adalah isu utama bagi bursa saham.

Sekarang ini, pakar pasar saham percaya jika koreksi yang terjadi di indeks Dow Jones disebabkan oleh perang dagang antara AS-China, yang mana terus menekan kemakmuran warga AS. Namun begitu, Trump telah kembali memaksa the Fed untuk menurunkan suku bunga lebih tajam.

Sayangnya, pasar itu sendiri dan perusahaan yang diperdagangkan secara publik yang nilai sahamnya mencapai triliunan dolar, tidak akan mendukung permintaan Trump untuk menurunkan suku bunga Fed, menurut hasil survei CNBC International baru-baru ini, dikutip Senin (13/5/2019).


CNBC International telah melakukan jajak pendapat terhadap direktur keuangan di beberapa perusahaan terbesar di AS dan di seluruh dunia mengenai pendapat mereka atas permintaan Trump agar The Fed menurunkan tingkat suku bunga lagi.


Hasilnya, tidak satu pun CFO yang berbasis di AS yang setuju dengan permintaan Trump untuk menurunkan suku bunga lagi, dan secara global hanya 4% CFO yang setuju dengan pandangan Trump tentang kebijakan The Fed.

Dewan CFO Global CNBC mewakili beberapa perusahaan publik dan swasta terbesar di dunia, secara kolektif mengelola hampir US$ 5 triliun kapitalisasi pasar di berbagai sektor. Survei kuartal kedua 2019 itu dilakukan antara 23-30 April di antara 45 anggota dewan.

Melansir CNBC International, secara global, 69% CFO mengatakan suku bunga "hampir tepat"; 24% mengatakan suku bunga "terlalu rendah"; dan hanya 4% yang mengatakan suku bunga "terlalu tinggi."

Persentase CFO yang memperkirakan The Fed tidak akan mengubah suku bunga selama sisa 2019 melonjak dari 30% di kuartal pertama menjadi 69% di kuartal kedua. Persentase kelompok yang masih memperkirakan ada satu kali kenaikan suku bunga menurun dari lebih dari 40% menjadi 22%, sementara hanya 2% dari CFO yang mengindikasikan mereka berpikir penurunan suku bunga akan terjadi sebelum akhir tahun.

Perusahaan AS Ogah Dukung Trump Paksa The Fed Pangkas BungaFoto: Gubernur bank sentral Amerika Serikat (AS) Federal Reserve, Jerome Powell (REUTERS/Leah Millis)

CFO yang disurvei juga telah mengubah proyeksi mereka atas pertumbuhan ekonomi China dari "menurun" menjadi "stabil", dalam survei kuartal kedua. Namun, jika transisi perdagangan berubah menjadi perang dagang yang berkepanjangan dan menyebabkan ekonomi China anjlok dan harga konsumen di AS meningkat sedemikian rupa sehingga menyebabkan kerugian domestik sangat parah, maka evaluasi ulang mungkin diperlukan.

CFO yang disurvei oleh CNBC juga mengatakan bahwa mengakhiri pengenaan bea impor tidak menjamin akan mengakhiri perang dagang.

Para CFO itu, seperti hampir semua pihak lainnya, mungkin terkejut dengan perubahan mendadak, seperti perang dagang yang hampir berakhir.

Dalam survei tersebut, hanya 10% CFO yang berbasis di AS menyebut perang dagang sebagai risiko terbesar yang dihadapi bisnis mereka. Tetapi ada lebih banyak CFO (15%) yang mengatakan bahwa China sendiri adalah faktor risiko eksternal terbesar mereka.


Salah satu masukan paling rumit untuk kebijakan The Fed adalah inflasi, yang telah berjalan di bawah target bank sentral sebesar 2%. Tetapi, Gubernur The Fed Jerome Powell baru-baru ini menyebut tingkat inflasi saat ini masih merupakan jenis "transisi" inflasi yang rendah.

Harga konsumen AS naik pada bulan April tetapi inflasi underlying tetap rendah, menunjukkan bahwa Federal Reserve dapat mempertahankan suku bunga tetap untuk sementara waktu.

Saksikan video pengumuman kebijakan moneter The Fed berikut ini.

[Gambas:Video CNBC]


(prm)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading