Runner-Up Di Top Losers, Ada Apa Dengan Saham ERAA?

Market - Dwi Ayuningtyas, CNBC Indonesia
30 April 2019 20:05
Runner-Up Di Top Losers, Ada Apa Dengan Saham ERAA?
Jakarta, CNBC Indonesia - Emiten ritel handphone, PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA) membukukan jumlah transaksi yang tidak wajar pada perdagangan di bursa saham Indonesia hari ini, Selasa (30/4/2019).

Emiten tersebut ditransaksikan hingga Rp 154,78 miliar dengan volume transaksi mencapai 103,81 juta. Padahal rata-rata transaksi harian emiten ERAA di kisaran 21,87 juta transaksi.

Selain itu, harga saham ERAA dihantam pelaku pasar dan ditutup anjlok 9,66% ke level Rp 1.450/unit saham. Alhasil, ERAA menduduki posisi runner-up untuk kategori top losers pada perdagangan hari ini.



Apa yang terjadi sehingga pelaku pasar ramai-ramai melepas saham perusahaan ritel tersebut?

Besar kemungkinan rilis kinerja keuangan kuartal I-2019 yang sangat mengecewakan menjadi salah satu penyebabnya.

Hingga akhir Maret 2019 total pendapatan perusahaan anjlok 13,96% year-on-year (YoY) menjadi Rp 7,12 triliun dibanding periode yang sama tahun lalu.

Pendapatan ERAA pada kuartal pertama tahun ini tersungkur karena bisnis utama perusahaan anjlok 20,23% secara tahunan. Penjualan telepon selular dan tablet yang memiliki porsi 77,45% terhadap total penjualan hanya mencatatkan perolehan Rp 5,52 triliun dari sebelumnya Rp 6,92 triliun di kuartal I-2018.

Kinerja keuangan perusahaan semakin diperparah dengan pelonjakan pada beban keuangan yang naik hampir dua kali lipat.

Beban keuangan perusahaan, di mana mayoritas berasal dari beban bunga, mencatatkan kenaikan 98,81% YoY menjadi Rp 100,44 miliar.

Melesatnya beban keuangan, tampaknya disokong dari peningkatan pada utang bank jangka pendek yang tumbuh dari Rp 3,42 triliun di kuartal I-2018, menjadi Rp 4,12 triliun di kuartal pertama tahun ini.

Selanjutnya, pos pemasukan lainnya seperti laba dari entitas asosiasi dan pendapatan lainnya juga membukukan penurunan masing-masing 19,94% dan 25,2% dibandingkan periode yang sama tahun 2018.


Alhasil, ruang untuk menyokong pertumbuhan laba perusahaan tertekan, sehingga ERAA harus pasrah membukukan penurunan laba bersih hingga 73,88% secara tahunan menjadi Rp 56,54 miliar. Otomatis, margin bersih yang dicatatkan perusahaan juga semakin tipis, dimana hanya mencapai 0,79%.

Dengan kinerja keuangan yang terpuruk, wajar jika investor berbarengan mencatatkan aksi jual untuk emiten ERAA.

Pelaku pasar pasti cukup shock karena sepanjang tahun 2018 laba bersih perusahaan meroket 150,43% YoY menjadi Rp 850,09 miliar. Penurunan pada kinerja kuartal I-2019 merupakan indikasi awal bahwa performa keuangan perusahaan tahun ini tidak sebaik tahun lalu.

TIM RISET CNBC INDONESIA (dwa/dwa)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading