Gara-gara Bolt, First Media Proyeksikan Masih Rugi Tahun Ini

Market - Rahajeng Kusumo Hastuti, CNBC Indonesia
26 April 2019 - 19:21
Gara-gara Bolt, First Media Proyeksikan Masih Rugi Tahun Ini
Jakarta, CNBC Indonesia - Manajemen PT First Media Tbk (KBLV), emiten penyedia layanan televisi berbayar dan provider layanan internet, memproyeksikan kinerja perusahaan pada tahun ini masih akan merugi seperti tahun lalu.

Pasalnya, dampak hilangnya sebagian besar pendapatan perusahaan dari layanan Broadband Wireless Access (BWA) 4G LTE, PT Internux atau lebih dikenal dengan Bolt, masih terasa.

Presiden Direktur Independen First Media, Harianda Noerlan mengatakan perseroan tengah mengupayakan perbaikan kinerja perusahaan dengan strategi memaksimalkan lini usaha lain yang dimiliki.

Namun, dia mengakui untuk memperbaiki kerugian senilai Rp 4,19 triliun pada 2018 (rugi tahun berjalan) tidaklah mudah. Untuk itu, dia memproyeksikan tahun ini perseroan masih akan merugi.


Tahun lau, First Media Tbk 
mencatatkan kerugian di tahun 2018
 dan menjadi catatan terburuk dalam 4 tahun terakhir. Kerugian yang dikantongi perusahaan tahun lalu bertambah menjadi Rp 3,5 triliun dari tahun sebelumnya (2017) yang hanya di kisaran Rp 1,1 triliun.

Sejak izin Bolt dicabut, menurut dia, KBLV harus kehilangan sekitar 80% dari pendapatan. Pada 2019, pendapatan diproyeksikan mencapai Rp 220 miliar, merosot 75,58% dibandingkan 2018 senilai Rp 901 miliar.

"Kami akan recovery pelan-pelan, terutama dengan melihat situasi dunia usaha sekarang. Dengan proyeksi pendapatan Rp 220 triliun, kalau harus menutupi kerugian Rp 4,1 triliun, saya rasa tahun ini masih rugi," kata Harianda dalam paparan publik, Jumat (26/04/2019).

Harianda mengatakan tahun ini KBLV juga masih harus menerima potensi kerugian dari penjualan perangkat-perangkat sisa dari Bolt.

Pencabutan izin oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), menurutnya berbuntut panjang bagi perusahaan, dari kehilangan kontributor utama pendapatan hingga kemampuan untuk membayar utang.

Momok rugi bandar yang dialami oleh First Media adalah karena keputusan Kominfo yang mencabut izin penggunaan frekuensi radio 2,3 Ghz yang selama ini digunakan oleh perusahaan dana anak usahanya, yaitu Internux.

"Segala utang yang harusnya bisa bayar jadi tidak bisa bayar. Kami sedang bicarakan dengan kreditor untuk menjadwalkan ulang pembayarannya, dengan pemerintah kami juga sudah jadwalkan pengembaliannya," ujar Harianda.

Adapun lini usaha yang akan diandalkan adalah dari pendapatan pembuatan konten dan berita senilai Rp 100 miliar, penyediaan infrastruktur telekomunikasi dan in-building solution senilai Rp 95 miliar, dan penyewaan gedung perkantoran Rp 20 miliar.

"Bidang usaha ini masih stabil meningkat terus, sehingga diharapkan operasional dari anak-anak usaha ini bisa memberikan pendapatan operasional yang positif," katanya.

Untuk belanja modal (capital expenditure/capex), perseroan hanya mengalokasikan untuk PT Prima Wira Utama senilai Rp 8,7 miliar, sebagai penyedia telekomunikasi dan in-building solution.

Simak ulasan pendapatan First Media di 2018.
[Gambas:Video CNBC]



(tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading