Dua Sentimen Ini Tekan Harga Obligasi Indonesia!

Market - Irvin Avriano Arief, CNBC Indonesia
22 April 2019 - 20:06
Dua Sentimen Ini Tekan Harga Obligasi Indonesia!
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga obligasi rupiah pemerintah berbalik terkoreksi pada awal perdagangan hari ini, Senin (22/4/2019), di tengah penguatan harga minyak mentah dunia dan aksi ambil untung investor pasca-Pilpres 2019. 

Turunnya harga surat utang negara (SUN) itu sejalan dengan koreksi yang terjadi di pasar surat utang pemerintah negara berkembang yang lain.  

Data Refinitiv menunjukkan terkoreksinya harga SUN itu tercermin dari empat seri acuan (benchmark) yang sekaligus menurunkan tingkat imbal hasilnya (yield).  


Pergerakan harga dan yield obligasi saling bertolak belakang di pasar sekunder. Yield juga lebih umum dijadikan acuan transaksi obligasi dibanding harga karena mencerminkan kupon, tenor, dan risiko dalam satu angka. 


SUN adalah surat berharga negara (SBN) konvensional rupiah yang perdagangannya paling ramai di pasar domestik, sehingga dapat mencerminkan kondisi pasar obligasi secara umum.
 

Keempat seri yang menjadi acuan itu adalah FR0077 bertenor 5 tahun, FR0078 bertenor 10 tahun, FR0068 bertenor 15 tahun, dan FR0079 bertenor 20 tahun. 

Seri acuan yang paling melemah adalah FR0068 yang bertenor 15 tahun dengan penurunan yield 5,4 basis poin (bps) menjadi 8,05%. Besaran 100 bps setara dengan 1%.  


Irwanti, Direktur-Portofolio Manager PT Schroder Investment Managemen Indonesia, mengatakan koreksi pasar keuangan hari ini lebih disebabkan oleh aksi jual ambil untung (profit taking).
 

"Kalau terpilihnya kembali petahana sebenarnya sudah sesuai prediksi (priced-in) sehingga koreksi yang terjadi saat ini kemungkinan hanya karena profit taking, tidak ada kekhawatiran lain." 

 
Yield Obligasi Negara Acuan 22 Apr'19
SeriJatuh tempoYield 18 Apr'19 (%)Yield 22 Apr'19 (%)Selisih (basis poin)Yield wajar IBPA 22 Apr'19
FR00775 tahun7.1027.1181.607.0879
FR007810 tahun7.5817.6173.607.6015
FR006815 tahun8.0028.0565.408.0719
FR007920 tahun8.1498.1944.508.1748
Avg movement3.78
Sumber: Refinitiv  


Koreksi pasar obligasi pemerintah hari ini tercermin pada harga obligasi wajarnya, di mana indeks INDOBeX Government Total Return milik PT Penilai Harga Efek Indonesia (PHEI/IBPA) masih melemah.  

Indeks tersebut turun 0,4 poin (0,17%) menjadi 248,3 dari posisi kemarin 248,54. Koreksi SBN hari ini juga membuat selisih (spread) obligasi rupiah pemerintah tenor 10 tahun dengan surat utang pemerintah AS (US Treasury) tenor serupa mencapai 504 bps, melebar dari posisi kemarin 501 bps.  

Yield US Treasury 10 tahun stabil pada 2,56% dari posisi akhir pekan lalu. 

Terkait dengan porsi investor di pasar SBN, data Ditjen Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kemenkeu (DJPPR) terakhir menunjukkan investor asing menggenggam Rp 952,69 triliun SBN, atau 38,51% dari total beredar Rp 2.473 triliun berdasarkan data per 16 April.  

Angka kepemilikan masih positif atau bertambah Rp 59,44 triliun dibanding posisi akhir Desember Rp 893,25 triliun, sehingga persentasenya masih naik dari 37,71% pada periode yang sama. 

Koreksi di pasar surat utang hari ini juga terjadi di pasar ekuitas yang turun 1,4%. 

Dari pasar surat utang negara berkembang, penguatan hanya terjadi di Brasil, sedangkan dari negara maju penguatan hanya terjadi di Inggris saja.

 
Yield Obligasi Tenor 10 Tahun Negara Maju & Berkembang
NegaraYield 18 Apr'19 (%)Yield 22 Apr'19 (%)Selisih (basis poin)
Brasil9.018.96-5.00
China3.393.4192.90
Jerman0.0240.0240.00
Perancis0.3670.370.30
India7.4197.4745.50
Jepang-0.029-0.0270.20
Malaysia3.9143.9321.80
Filipina6.1146.1372.30
Rusia8.248.262.00
Singapura2.1352.1713.60
Thailand2.482.491.00
Amerika Serikat2.5582.5691.10
Afrika Selatan8.4658.4650.00
Inggris1.1971.191-0.60
Sumber: Refinitiv  


TIM RISET CNBC INDONESIA (irv/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading