Derita Poundsterling: 3 Hari Amblas Beruntun, Sampai Kapan?

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
19 April 2019 13:58
Derita Poundsterling: 3 Hari Amblas Beruntun, Sampai Kapan?
Jakarta, CNBC Indonesia - Mata uang poundsterling Inggris sudah mencatat penurunan dalam 3 hari beruntun terhadap dolar Amerika Serikat (AS) hingga perdagangan Kamis (18/4/19) kemarin.

Meski demikian, pound terlihat terlihat masih tertekan dan belum menunjukkan tanda-tanda akan bangkit setidaknya di perdagangan sesi Asia Jumat ini (19/4/19).

Pada pukul 10:39 WIB, pound diperdagangkan di kisaran US$ 1,2989, masih dekat level terendah tiga pekan yang disentuh Kamis kemarin di kisaran US$ 1,2986, melansir kuotasi MetaTrader 5.


Naiknya penjualan ritel di Inggris gagal membuat pound menguat Kamis kemarin. Hal ini tidak lepas dari bayang-bayang Brexit atau keluarnya Inggris dari Uni Eropa, serta dolar AS yang meraih momentum penguatan setelah ditopang rilis data penjualan ritel AS.




Office for National Statistic (ONS) Inggris melaporkan penjualan ritel di bulan Maret naik sebesar 1,1%, dari bulan sebelumnya yang naik 0,6%.


Kenaikan di bulan Maret tersebut mematahkan prediksi penurunan sebesar 0,3%, berdasarkan data dari Forex Factory.

Selain data penjualan ritel, di pekan ini rilis data indikator ekonomi dari Inggris yang sebenarnya juga cukup bagus. ONS melaporkan tingkat pengangguran pada Februari sebesar 3,9%, terendah dalam 44 tahun terakhir. 

Tidak hanya itu, kenaikan upah rata-rata juga masih berada di 3,5% yang menjadi kenaikan tertinggi dalam 10 tahun.

Sejak pertengahan 2018, upah pekerja Inggris terus dalam tren meningkat. Kenaikan harga-harga atau inflasi di Inggris stagnan di level 1,9%, kenaikan upah yang jauh di atas inflasi tentunya akan bagus untuk daya beli warga Inggris. Serangkaian data tersebut gagal mendongkrak performa pound di pekan ini.



Di sisi lain, Departemen Perdagangan AS merilis data penjualan ritel sebesar 1,6% dari bulan sebelumnya yang turun 0,2%. Kenaikan di bulan Maret tersebut lebih tinggi dari prediksi di Forex Factory sebesar 0,9% sekaligus menjadi yang tertinggi sejak September 2017. 


Sementara penjualan ritel inti, yang tidak memasukkan sektor otomotif dalam perhitungan, dilaporkan naik 1,2% setelah mengalami penurunan 0,2% di bulan Februari, juga lebih baik dari prediksi 0,7%.

Lonjakan penjualan ritel tersebut membuat dolar AS terus menekan pound, bahkan kemungkinan berlanjut pada hari ini, mengingat pasar Inggris libur merayakan Jumat Agung.

TIM RISET CNBC INDONESIA

(tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading