Neraca Dagang Maret Memang Surplus, Tapi Jangan Happy Dulu!

Market - Taufan Adharsyah, CNBC Indonesia
15 April 2019 13:19
Neraca Dagang Maret Memang Surplus, Tapi Jangan Happy Dulu!
Jakarta, CNBC Indonesia - Meskipun neraca perdagangan (ekspor-impor) Indonesia pada bulan Maret mengalami surplus sebesar US$ 540 juta, namun masih tetap meninggalkan sejumlah catatan.

Pasalnya jika diakumulasi selama Januari-Maret 2019 (kuartal I-2019), neraca perdagangan Indonesia tercatat defisit sebesar US$ 193,4 juta.

Padahal pada periode yang sama tahun 2018, neraca perdagangan RI masih bisa membukukan surplus sebesar US$ 314,4 juta.


Sumber: Badan Pusat Statistik


Ini menandakan bahwa performa perdagangan Indonesia masih lebih buruk dibandingkan tahun sebelumnya.




Salah satu penyebabnya adalah neraca perdagangan non-migas yang kinerjanya turun drastis dibanding tahun lalu. Pada kuartal I-2019, neraca non-migas hanya bisa mencatatkan surplus sebesar US$ 1,15 miliar. Capaian tersebut anjlok hingga 61,6% dibanding kuartal I-2018 yang sebesar US$ 2,99 miliar.

Lagi-lagi harga komoditas menjadi dalang dibalik itu semua. Pasalnya, volume ekspor batu bara (HS 27), sepanjang kuartal I-2019 masih lebih tinggi dibanding kuartal I-2018. Akan tetapi karena harganya melorot, maka total nilai ekspor batu bara harus terkoreksi hingga 9,26% pada kuartal I-2019.

Hal itu disampaikan oleh Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Suhariyanto pada konferensi pers hari Senin (15/4/2019).

Padahal diketahui bahwa batu bara memiliki peran yang paling besar terhadap total ekspor Indonesia. Andil batu bara mencapai 15,26% dari total ekspor non-migas di kuartal I-2019.

Sumber: Badan Pusat Statistik


Nasib serupa juga dialami oleh golongan barang Lemak & Minyak Hewan/Nabati (HS 15) yang diketahui didominasi oleh minyak sawit. Nilai ekspor golongan barang tersebut pada kuartal I-2019 terkontraksi hingga 16,32% YoY kala volume ekspornya naik 10,43%. Harga minyak sawit yang melemah hingga 15,26% menjadi penyebab hal tersebut, menurut Suhariyanto.

Karet (HS 40) mengalami nasib yang lebih buruk lagi. Harga dan volume ekspor karet sama-sama turun masing-masing sebesar 2,27% dan 14,78% YoY. Alhasil total nilai ekspor karet amblas hingga 14,78% di kuartal I-2019.

Sedangkan untuk neraca migas harus diakui lebih baik dibanding tahun lalu. Ini dapat dilihat dari defisit neraca migas yang hanya sebesar US$ 1,34 miliar pada kuartal I-2019. Lebih kecil 49,9% dibanding defisit migas kuartal I-2018 yang sebesar US$ 2,68 miliar.

Ini bisa terjadi karena mulai tahun 2019, Pertamina membeli minyak jatah ekspor dari Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) yang selama ini dijual ke luar negeri. Dengan begitu, Indonesia tidak lagi perlu banyak mengimpor minyak.

Tapi sebagai catatan, saat ini Indonesia masih menjadi net importir minyak, sehingga kemungkinan besar neraca migas akan selalu mengalami defisit.

Dilihat dari golongan penggunaan barang, sepanjang kuartal I-2019 porsi impor barang konsumsi hanya sebesar 8,30%, turun dari tahun sebelumnya yang mencapai 8,97%. Sedangkan barang modal dan bahan baku penolong masing-masing sebesar 16,57% dan 75,13%.

Setidaknya barang-barang impor lebih dipergunakan untuk keperluan produksi ketimbang konsumsi.

Sumber: Badan Pusat Statistik



TIM RISET CNBC INDONESIA


(taa/taa)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading