Awal Sesi Eropa, Euro Kokoh di Level Tertinggi 2 Pekan

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
11 April 2019 15:36
Setelah bergerak dengan volatilitas cukup tinggi pada perdagangan Rabu (10/4/19) kemarin, euro menguat.
Jakarta, CNBC Indonesia - Setelah bergerak dengan volatilitas cukup tinggi pada perdagangan Rabu kemarin, kurs euro pada perdagangan Kamis ini (11/4/19) terus kokoh di level tertinggi selama dua pekan.

Di awal perdagangan sesi Eropa pukul 14:32 WIB, euro ditransaksikan di kisaran US$ 1,1283, lebih tinggi dari penutupan kemarin di kisaran US$ 1,1272.

Volatilitas yang cukup tinggi pada Rabu kemarin dipicu pengumuman kebijakan moneter bank sentral Eropa (European Central Bank/ECB), rilis data inflasi AS, dan risalah rapat kebijakan moneter bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed).



Euro yang menguat ke level US$ 1,1287 berbalik turun ke level US$ 1,1230 dalam waktu kurang dari 1 jam saat rilis data inflasi AS yang bersamaan dengan konferensi pers Presiden ECB, Mario Draghi, pukul 19:30 WIB kemarin.

Setelah itu, secara perlahan euro kembali naik hingga mengakhiri perdagangan di zona hijau.

Dalam rapat kebijakan moneter kemarin, ECB berjanji akan mempertahankan suku bunga 0% di tahun ini akibat adanya risiko perlambatan ekonomi negara-negara zona Eropa.

Selain itu, bank sentral akan menunggu hingga Juni mendatang sebelum memutuskan seberapa besar perekonomian akan membutuhkan stimulus.

Bank sentral Eropa ini juga menjelaskan mengenai pembiayaan jangka panjang baru yang dinamai targeted longer-term refinancing operations seri ketiga (TLTRO-III). Skema ini bertujuan memberikan pinjaman berbiaya rendah guna memacu perekonomian yang sedang melambat.

Namun Mario Draghi, dalam konferensi pers, menyatakan bahwa saat ini masih terlalu dini untuk membahas TLTRO III tersebut.

Draghi juga mengatakan lemahnya data-data dari zona Eropa ternyata berlangsung lebih lama dari yang diperkirakan. Pelambatan ekonomi diprediksi berlangsung sepanjang tahun ini, dan kebijakan moneter yang akomodatif masih diperlukan untuk membantu perekonomian.

Pengumuman ini sebenarnya memberikan sentimen negatif bagi euro karena ECB menyatakan kesiapannya untuk menggelontorkan stimulus moneter.

Tetapi mata uang 19 negara ini masih diuntungkan oleh rilis data inflasi AS yang naik 0,4% lebih tinggi dari prediksi 0,3%, tapi inflasi inti hanya naik 0,1% lebih rendah dari prediksi 0,2%, melansir data dari Forex Factory.

Sementara risalah The Fed menunjukkan mayoritas para komite pembuat kebijakan (FOMC) The Fed untuk saat sepakat untuk tidak menaikkan suku bunga.

Pascarilis data dan risalah tersebut pelaku pasar melihat probabilitas sebesar 40,4% suku bunga The Fed akan dipangkas sebesar 25 basis poin menjadi 2,00% - 2,25% pada Januari 2018, berdasarkan data dari perangkat FedWatch milik CME Group Rabu kemarin.

TIM RISET CNBC INDONESIA 


(pap/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading