Utang Menggunung Krakatau Steel, Simak Daftar Kreditornya!

Market - Dwi Ayuningtyas, CNBC Indonesia
11 April 2019 14:40
Utang Menggunung Krakatau Steel, Simak Daftar Kreditornya!
Jakarta, CNBC Indonesia - Emiten BUMN produsen baja, PT Krakatau Steel Tbk (KRAS) menjadi bahan perbincangan pelaku pasar modal karena perusahaan ini sudah menderita rugi bersih selama 7 tahun berturut-turun sejak tahun 2012.

Melansir laporan keuangan KRAS, salah satu momok penyebab kerugian perusahaan adalah beban keuangan yang semakin membengkak.

Beban keuangan yang dicatatkan KRAS di tahun 2018 adalah sebesar US$ 112,33 juta atau setara dengan Rp 1,57 triliun (asumsi kurs Rp 14.000/US$, tumbuh lebih dari dua kali lipat dibandingkan dengan 8 tahun lalu (2011) yang hanya US$ 40,62 juta.


Kenaikan beban keuangan, tentunya tidak terlepas dari jumlah utang perusahaan. Pasalnya, beban keuangan mayoritas merupakan beban bunga utang.


Nah, untuk kasus KRAS, besar kemungkinan beban bunga terbesar berasal dari utang jangka pendek karena nilainya lebih besar dibandingkan utang jangka panjang.

Utang jangka pendek perusahaan mencapai US$ 1,59 miliar atau setara dengan Rp 22,26 triliun, sedangkan utang jangka panjang sebesar US$ 899,43 juta atau Rp 12,59 triliun.

Kemudian, jika ditelaah lebih lanjut, 71% utang jangka pendek merupakan pinjaman yang diperoleh dari pihak bank, baik atas nama perusahaan atau entitas anak.

Utang jangka pendek bank tersebut mayoritas dalam bentuk Letter of Credit impor (LoC), dan kredit modal kerja, baik yang berbasis rupiah maupun dolar Amerika Serikat (AS).

Berikut adalah daftar 13 bank yang memberikan pinjaman kepada KRAS dan anak usahanya di tahun 2018.



Berdasarkan tabel di atas, pinjaman terbesar diberikan oleh PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) dengan total nilai US$ 359,6 juta atau setara Rp 5,03 triliun.

Jumlah itu terdiri dari LoC impor US$ 161,2 juta, fasilitas bank overdraft (dana cerukan) sebesar US$ 131,01 juta, dan kredit modal kerja sebesar US$ 67,32 juta. 


LoC adalah surat pernyataan yang dikeluarkan oleh bank atas permintaan pembeli (importir) yang ditunjukkan kepada penjual/eksportir. Adapun dana cerukan ialah produk yang menawarkan pinjaman dengan jaminan pilihan produk seperti deposito berjangka, reksa dana, atau obligasi ritel.

Lebih lanjut, pinjaman terbesar kepada KRAS selanjutnya diberikan oleh PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) senilai US$ 238,36 juta dan PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA) sebesar US$ 199,25 juta.


Saat ini KRAS tengah melakukan restrukturisasi utang setelah pada 22 Maret lalu, bank-bank BUMN anggota Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) menyetujui proposal restrukturisasi utang.

Bahkan ada andil dari 
Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno yang membantu memuluskan proses pembicaraan restrukturisasi ini.

Direktur Utama Bank Mandiri Kartika Wirjoatmodjo menyampaikan bahwa langkah restrukturisasi utang KRAS dilakukan karena beban utang sudah melampaui kemampuan bayar perusahaan.

"Jadi memang harus direstrukturisasi. Wajar kan di perbankan bahwa kalau beban utangnya di atas kemampuan bayar ya pasti kita restrukturisasi kalau tidak (maka) tidak mungkin bisa membayar," ujar Kartika, Kamis (10/4/2019).

TIM RISET CNBC INDONESIA

(dwa/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading