Gaung Resesi AS Kian Keras, Bursa Saham Asia Jeblok

Market - Anthony Kevin, CNBC Indonesia
25 March 2019 - 18:11
Gaung Resesi AS Kian Keras, Bursa Saham Asia Jeblok
Jakarta, CNBC Indonesia - Bursa saham utama kawasan Asia hancur lebur pada perdagangan hari ini, Senin (25/3/2019). Indeks Nikkei anjlok 3,01%, indeks Shanghai melemah 1,97%, indeks Hang Seng turun 2,03%, indeks Straits Times terkoreksi 0,91%, dan indeks Kospi terpangkas 1,92%.

Gaung resesi yang kian keras terdengar di AS membuat pelaku pasar melepas saham-saham di kawasan Asia secara besar-besaran. Akhir pekan lalu, terjadi inversi pada obligasi AS tenor 3 bulan dan 10 tahun.

Inversi merupakan sebuah fenomena di mana yield obligasi tenor pendek lebih tinggi dibandingkan tenor panjang. Padahal dalam kondisi normal, yield tenor panjang akan lebih tinggi karena memegang obligasi tenor panjang pastilah lebih berisiko ketimbang tenor pendek.



Melansir data dari Refinitiv, pada penutupan perdagangan Jumat 22 Maret lalu, yield obligasi AS tenor 3 bulan berada di level 2,462%, sementara untuk tenor 10 tahun berada di level 2,455%.

Inversi pada tenor 3 bulan dan 10 tahun merupakan konfirmasi dari potensi datangnya resesi di AS.

Pasalnya dalam 3 resesi terakhir yang terjadi di AS (1990, 2001, dan 2007), selalu terjadi inversi pada tenor 3 bulan dan 10 tahun yang sebelumnya didahului inversi pada tenor 3 dan 5 tahun.

Berbicara mengenai inversi pada tenor 3 dan 5 tahun, hal ini sudah terjadi pada 3 Desember 2018 silam.

Resesi atau kemerosotan lazimnya didefinisikan terjadi ketika produk domestik bruto (GDP) suatu negara menurun atau ketika pertumbuhan ekonomi riil bernilai negatif selama dua kuartal atau lebih dalam satu tahun.

Sebagai negara dengan nilai perekonomian di dunia, tentu resesi di AS akan secara signifikan menghantam perekonomian negara-negara lain, termasuk negara-negara kawasan Asia.

Salah satu penyebab terjadinya resesi di AS bisa datang dari eskalasi perang dagang dengan China. Pada hari Kamis dan Jumat (28-29 Maret), Kepala Perwakilan Dagang AS Robert Lighthizer dan Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin dijadwalkan bertandang ke China untuk bernegosiasi dengan Wakil Perdana Menteri China Liu He.

Negosiasi kali ini menjadi amat penting mengingat sebelumnya ada pemberitaan yang menyebut bahwa pertemuan antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping akan diundur hingga Juni, membuat negosiasi dagang kedua negara menjadi berlarut-larut.

Jika kesepakatan tak juga bisa dicapai, perang dagang yang kini terjadi justru akan tereskalasi. Seluruh produk impor asal China sangat mungkin dikenakan bea masuk yang tinggi oleh AS dan bea masuk balasan dari China nampak menjadi hal yang tak terhindarkan.

Belum tereskalasi saja, perang dagang yang antarkedua negara sejauh ini terlihat jelas sudah menyakiti perekonomian masing-masing.

Jika perang dagang tereskalasi, maka perekonomian AS-China akan semakin tertekan dan mungkin membawa AS ke jurang resesi.

TIM RISET CNBC INDONESIA

(ank/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading