Brexit Aman Terkendali, Bursa Saham Asia Menghijau

Market - Anthony Kevin, CNBC Indonesia
15 March 2019 09:14
Brexit Aman Terkendali, Bursa Saham Asia Menghijau Foto: Ilustrasi Bursa Tokyo (REUTERS/Kim Kyung-Hoon)
Jakarta, CNBC Indonesia - Mayoritas bursa saham utama kawasan Asia dibuka menguat pada perdagangan hari ini: indeks Nikkei naik 0,42%, indeks Straits Times naik 0,01%, dan indeks Shanghai naik 0,34%. Sementara itu, indeks Hang Seng melemah 0,03% dan indeks Kospi turun 0,13%.

Perkembangan terkait proses Brexit yang kondusif berhasil memantik aksi beli di bursa saham Benua Kuning. Kemarin (13/3/2019) waktu setempat, parlemen sepakat untuk memundurkan tanggal resmi Brexit yang saat ini dijadwalkan pada 29 Maret. Sebanyak 412 anggota parlemen mendukung opsi tersebut, sementara sebanyak 202 menolak.

Jika kesepakatan Brexit yang diajukan May bisa diloloskan di parlemen sebelum hingga 20 Maret, maka maka Perdana Menteri Inggris Theresa May akan meminta Uni Eropa untuk memundurkan tanggal resmi Brexit menjadi 30 Juni.


Namun jika tak ada kesepakatan hingga 20 Maret, May mengatakan bahwa dirinya akan meminta perpanjangan waktu yang lebih lama.

Dengan hasil pemungutan suara tersebut, kemungkinan bahwa Inggris akan meninggalkan Uni Eropa secara mulus menjadi lebih besar. Apalagi, sebelumnya Presiden Dewan Eropa Donald Tusk mengatakan bahwa dirinya akan meminta kepada 27 negara anggota Uni Eropa lainnya untuk membuka pintu untuk perpanjangan waktu yang lama bagi Inggris.

"Dalam kunjungan saya menjelang EUCO (European Convention), saya akan meminta kepada 27 negara Uni Eropa untuk membuka diri terhadap perpanjangan yang lama jika Inggris merasa perlu untuk memikirkan kembali strategi Brexit-nya dan menciptakan konsensus," cuit Tusk melalui akun Twitter @eucopresident.

Di sisi lain, perkembangan negosiasi dagang AS-China kurang kondusif membatasi aksi beli yang dilakukan investor. Tiga orang sumber mengatakan bahwa pertemuan antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping batal dilakukan akhir bulan ini, seperti dilansir dari Bloomberg.

Menurut salah seorang dari sumber tersebut, kalau jadi digelar pun, pertemuan antara Trump dan Xi baru akan terjadi pada akhir bulan April.

Mundurnya pertemuan antara Trump dan Xi tersebut mengindikasikan bahwa negosiasi dagang kedua negara berjalan dengan alot. Memang, Kepala Perwakilan Dagang AS Robert Lighthizer belum lama ini mengatakan bahwa isu-isu krusial belum mampu dipecahkan. Salah satu isu krusial yang dimaksud adalah terkait dengan perlindungan hak kekayaan intelektual.

Kemudian, Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin juga mengungkapkan bahwa masih ada banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan.

"Kami bekerja keras untuk mencapai kesepakatan secepat mungkin. Ada dokumen lebih dari 150 halaman yang sedang kami kerjakan. Masih banyak pekerjaan, tetapi kami senang dengan perkembangan yang terjadi sampai saat ini," kata Mnuchin, mengutip Reuters.

Jika kedua negara tak kunjung mencapai kesepakatan, maka perang dagang antar keduanya justru akan tereskalasi. Balas membalas bea masuk akan semakin parah dan dipastikan semakin menekan laju perekonomian masing-masing.

TIM RISET CNBC INDONESIA (ank/hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading