Diselamatkan Perkembangan Brexit, Bursa Saham Asia Menghijau

Market - Anthony Kevin, CNBC Indonesia
14 March 2019 18:00
Diselamatkan Perkembangan Brexit, Bursa Saham Asia Menghijau
Jakarta, CNBC Indonesia - Mayoritas bursa saham utama kawasan Asia menutup perdagangan hari ini di zona hijau: indeks Hang Seng naik 0,15%, indeks Straits Times naik 0,07%, dan indeks Kospi naik 0,34%. Sementara itu, indeks Shanghai anjlok 1,2% dan indeks Nikkei melemah 0,02%.

Sejatinya, rilis data ekonomi China yang mengecewakan memberikan tekanan kepada bursa saham Benua Kuning, bahkan berhasil membuat indeks Shanghai anjlok. Sepanjang Januari-Februari 2019, produksi industri di Negeri Panda tercatat hanya tumbuh sebesar 5,3% YoY, lebih rendah dari konsensus yang sebesar 5,5%, seperti dilansir dari Trading Economics. Dilansir dari CNBC International, pertumbuhan tersebut menjadi yang terlambat dalam 17 tahun.

Lemahnya produksi industri lantas kian memberi indikasi bahwa perekonomian China akan mengalami hard landing pada tahun ini. Rilis data ekonomi pada hari-hari sebelumnya memang sudah terlebih dulu mengindikasikan hal tersebut.


Belum lama ini, ekspor China periode Februari 2019 diumumkan terkontraksi sebesar 20,7% secara tahunan, jauh lebih dalam dibandingkan konsensus yang hanya memperkirakan penurunan sebesar 4,8% YoY, seperti dilansir dari Trading Economics. Sementara itu, impor turun hingga 5,2%, juga lebih dalam dari ekspektasi yakni penurunan sebesar 1,4%.

Kemudian, penjualan mobil sepanjang bulan Februari diumumkan anjlok hingga 13,8% secara tahunan, seperti dilansir dari Trading Economics. Penurunan tersebut merupakan yang kedelapan secara berturut-turut.

Nasib bursa saham regional berhasil diselamatkan oleh perkembangan proses Brexit yang kondusif. Kemarin (13/3/2019) waktu setempat, parlemen Inggris menolak opsi No-Deal Brexit. Dalam pemungutan suara, sebanyak 321 anggota parlemen menolak opsi perpisahan secara kasar tersebut, sementara sebanyak 278 memberikan dukungannya.

Sebelumnya, Bank of England yang merupakan bank sentral Inggris telah memperingatkan bahwa No-Deal Brexit bisa mengakibatkan resesi. Sebagai informasi, resesi merupakan penurunan aktivitas ekonomi yang sangat signifikan yang berlangsung selama lebih dari beberapa bulan, seperti dilansir dari Investopedia. Sebuah perekonomian bisa dikatakan mengalami resesi jika pertumbuhan ekonominya negatif selama dua kuartal berturut-turut.

Pada hari ini waktu setempat, parlemen Inggris akan kembali melakukan pemungutan suara untuk opsi memundurkan tanggal resmi Brexit yang saat ini dijadwalkan pada 29 Maret.

TIM RISET CNBC INDONESIA (ank/hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading