Ekonomi Lesu, China Diramal Bakal Gelontorkan Banyak Stimulus

Market - Wangi Sinintya Mangkuto, CNBC Indonesia
22 February 2019 07:10
Ekonomi Lesu, China Diramal Bakal Gelontorkan Banyak Stimulus
Beijing, CNBC Indonesia - Otoritas China diyakini sedang bersiap menggelar berbagai stimulus yang lebih luas dalam upaya mendorong pertumbuhan di negara itu.

Sejumlah ekonom kepada CNBC International, pekan lalu, menyebut mereka menantikan langkah signifikan Bank Sentral China (PBOC), utamanya ketika para pejabat Negeri Tirai Bambu dihadapkan pada perlambatan ekonomi ditambah tekanan ekonomi dari perang dagang yang sedang berlangsung Amerika Serikat (AS).

"Saya benar-benar merasa bahwa PBOC akan mengubah titik balik di sini, dan kita akan benar-benar melihat sedikit lebih banyak aspek stimulus yang keluar," kata Gavin Parry, CEO Parry Global Group, kepada CNBC's Squawk Box pada Kamis (21/02/2019).


"Saya tidak berpikir itu akan menjadi rencana atau sesuatu yang besar," lanjutnya.



Di bawah beban bea impor AS dan upaya deleveraging-nya sendiri, ekonomi China kini melemah. Produk domestik bruto (PDB) tahun lalu tumbuh pada laju paling lambat sejak 1990. Sementara survei Desember lalu menunjukkan aktivitas pabrik China telah menurun untuk pertama kalinya dalam 19 bulan.



Ekonom TD Securities Mitul Kotecha mengatakan China telah enggan menerapkan langkah-langkah pelonggaran "keras dan kuat", meskipun ekonominya kehilangan tenaga. Ini karena pemerintah mengkhawatirkan tingkat utang yang sudah tinggi.

Presiden China Xi Jinping telah berusaha mengurangi jumlah utang negaranya dalam beberapa tahun terakhir. Sebaliknya, PBOC mengambil tindakan lain.

Pertama dalam bentuk suntikan US$83 miliar ke perbankan negara itu dalam satu hari pada bulan lalu. Kedua, memotong rasio giro wajib minimum bank setidaknya lima kali sejak awal 2018 dalam upaya memerangi perlambatan. Bank sentral juga menggunakan fasilitas pinjaman jangka menengah untuk meningkatkan likuiditas di pasar.

Ekonomi Lesu, China Diramal Bakal Gelontorkan Banyak StimulusFoto: PBOC (REUTERS/Jason Lee)


Ekonom senior China di Capital Economics Julian Evans-Pritchard mencatat negara itu menurunkan suku bunga setelah krisis keuangan global pada 2008.

"Kami pikir mereka pada akhirnya akan dipaksa melakukannya, hanya karena itu cara termudah mengurangi biaya keuangan bagi perusahaan-perusahaan negara yang dililit utang," kata Evans-Pritchard kepada CNBC's Street Signs.


Simak video terkait kronologi perang dagang AS-China di bawah ini.

[Gambas:Video CNBC]

(miq/miq)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading