Persaingan Perbankan Makin Ketat, OJK Minta Bank Konsolidasi

Market - Yanurisa Ananta, CNBC Indonesia
19 February 2019 14:33
Persaingan Perbankan Makin Ketat, OJK Minta Bank Konsolidasi
Jakarta, CNBC Indonesia - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) meminta lembaga jasa keuangan melakukan konsolidasi. Hal ini mengingat tantangan di industri perbankan kian ketat. Khawatir bila bank tidak tahan menghadapi persaingan maka akan berujung fraud.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Heru Kristiyana menjelaskan, konsolidasi harus dilakukan. Dari total 114 bank yang ada di Tanah Air, 82 diantaranya merupakan bank umum kegiatan usaha (BUKU) I dan II.

"Industri perbankan kita terus berkembang pesat antara lain dengan digitalisasi, persaingan suku bunga, persaingan mendapatkan dana. Harapan kita mereka bisa tetap survive. Kalau mereka bisa keluar dari himpitan-himpitan itu sebagai pemenang. Itu kan bagus," kata Heru usai acara penandatanganan Nota Kesepahaman OJK-Kemendagri-PPATK-KLHK-MK di Jakarta, Selasa (19/2/2019).


Heru melanjutkan, bank-bank kecil berpotensi terhimpit tantangan-tantangan di dunia perbankan saat ini. Industri perbankan berubah dengan cepat. Bank-bank kecil harus mencari jalan keluar dengan menambah modal untuk bisa bersaing.

"Kalau dia [bank] tidak bisa menyesuaikan diri akibatnya apa? Dengan kondisi itu kalau mereka tidak bisa berkembang lagi kita sarankan Anda cari partner atau konsolidasi dengan bank-bank besar," imbuh Heru.

Dengan berkonsolidasi bersama bank besar, maka bank induk nantinya akan mengatasi persoalan likuiditas bank itu. Artinya, lanjut Heru, ada banyak cara untuk bank bisa menambah modal. Tidak harus melalu akuisisi atau merger.

"Misalnya bank besar ambil mereka [bank kecil] sebagai digital bankingnya. Atau sebagai bank yang khusus mengurus wealth management-nya. Caranya banyak, tidak harus merger," ungkap Heru.

Konsolidasi serupa diharapkan juga dilakukan oleh Bank Perkreditan Rakyat (BPR). Terlebih, berdasarkan peraturan OJK No. 5/POJK.03/2015 tentang kewajiban modal minimum BPR disebutkan bahwa pada 2019, bank harus memenuhi ketentuan modal minimal Rp 3 miliar. Sedangkan pada 2024, modal minimal BPR sebesar Rp 6 miliar.

Heru melanjutkan, bila BPR merasa berat dengan peraturan itu lebih baik BPR mencari partner. Hingga saat ini ada sebanyak 1.700 BPR dan BPR Syariah (BPRS) di dalam negeri. Ketimbang harus bertahan dengan modal di bawah Rp3 miliar atau Rp6 miliar, menurut Heru, lebih baik bersinergi dengan partner.

"Itu kan nanti mereka tidak bisa bersaing dengan peer-to-peer. Bakan kalau mereka gabung modal mereka bisa membangun teknologi dan melatih sumber daya manusia (SDM) lebih baik sehingga mengurangi fraud," katanya.

Heru menyebut saat ini pihaknya sedang mengurus sejumlah bank yang berencana melakukan konsolidasi. Namun, Heru enggan menyebut nama bank-bank tersebut. Ia mengatakan, baru akan mengumumkan rencana konsolidasi tersebut bila legal merger-nya sudah selesai.

"Kalau bersaing terbuka nantikan berpengaruh juga. Ada dalam proses, kalau legal merger-nya sudah selesai nanti diberi tahu." tandas Heru.
(roy/roy)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading