Rugi Rp 3 T, Ini Alasan Saham XL Axiata Diborong Investor

Market - Irvin Avriano Arief, CNBC Indonesia
18 February 2019 13:13
Harga saham perseroan meroket 14,15% menjadi Rp 2.340 pada saat laporan keuangan perseroan dirilis akhir pekan lalu.
Jakarta, CNBC Indonesia - Pergerakan saham PT XL Axiata Tbk (EXCL) terus bergerak liar meskipun perusahaan menangguk rugi bersih Rp 3,29 triliun sepanjang 2018.  

Harga saham perseroan meroket 14,15% menjadi Rp 2.340 pada saat laporan keuangan perseroan dirilis akhir pekan lalu. Hari ini, hingga penutupan perdagangan sesi I, harga saham XL Axiata naik 8,12% ke level Rp 2.530/saham.

Ternyata, kinerja tahun lalu emiten telekomunikasi tersebut serta beberapa perkembangan industri justru diapresiasi pelaku pasar. 


Dalam risetnya, Analis PT Bahana Sekuritas Lucky Ariesandi menyatakan EBITDA perseroan masih positif 8% antar kuartalan (QoQ) pada kuartal IV-2018, meskipun harus menanggung rugi bersih Rp 3,97 triliun pada triwulan tersebut. 

Beban satu waktu tersebut (one-off charge) tersebut, lanjut Lucky, disebabkan adanya inisiatif manajemen XL untuk mempercepat depresiasi dan amortisasi aset jaringan 2G perseroan dengan jumlah pembengkakan beban tiga kali lipat secara QoQ. 

"Manajemen XL menyatakan traffic dari jaringan 2G-nya hanya menyumbang 5% dari total traffic jaringan perseroan meskipun bisnis tersebut masih berkontribusi sekitar 28% dari total pendapatan," ujarnya dalam riset yang baru keluar hari ini (18/2/19). 

EBITDA merupakan laba bersih sebelum beban bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi sehingga lebih mencerminkan kinerja organik perseroan. Kinerja EBITDA lumrah dianggap pelaku pasar lebih mencerminkan kinerja perseroan karena tidak memasukkan faktor anorganik.

Dia juga mengatakan emiten sudah mengurangi 375 menara base transceiver station (BTS) jaringan 2G nya tahun lalu, yang diyakini Lucky akan menghilangkan layanan 2G di beberapa daerah. 

Dalam riset terpisah, Analis PT Mandiri Sekuritas Kresna Hutabarat menilai langkah perseroan mempensiunkan peralatan 2G-nya yang akhirnya harus mencatatkan angka rugi bersih besar merupakan beban non-kas dan justru menunjukkan langkah progresif perseroan. 

"Hal itu mencerminkan langkah progresif XL dibanding pesaing untuk fokus pada layanan data." 

Pemilihan waktu percepatan depresiasi tersebut, tuturnya, juga dapat membantu perseroan untuk menetapkan dasar depresiasi dan amortisasi yang lebih baik lagi ke depannya guna mendukung perbaikan pertumbuhan laba pada 2019-2021 nanti. 

Jika mengecualikan depresiasi peralatan 2G tadi, Kresna mencatat perseroan dapat mencatatkan rugi bersih Rp 560 miliar sepanjang 2018, termasuk penyesuaian dari laba yang ditanngguhkan dari penjualan menara.  

Selain itu, Mandiri Sekuritas menilai langkah perseroan untuk mengurangi hutang denominasi dolar AS pada kuartal IV-2018 memberikan gambaran yang lebih baik terhadap kinerja laba perseroan ke depannya.  

Pengurangan hutang valas hingga nol itu turut menurunkan kerentanan kinerja perseroan terhadap volatilitas mata uang ke depannya.  

Terkait perkembangan terkini tentang Rancangan Peraturan Menteri (RPM) tentang Tata Cara Penetapan Tarif Jasa Telekomunikasi, Kresna juga menilai operator telekomunikasi yang akan diuntungkan dari draf aturan itu adalah XL. 

Aturan yang niatnya meredakan dan menghilangkan persaingan harga predator antar operator tersebut dinilai akan menguntungkan perusahaan yang memiliki struktur beban jaringan yang efisien, yaitu EXCL. 

Posisi XL Axiata dinilai lebih baik dibanding PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel) melalui PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM/Telkom) dan PT Indosat Tbk (ISAT) terutama dalam menyesuaikan dan meneruskan strategi harga yang kompetitif tanpa berisiko pada intervensi aturan di rezim tarif baru nantinya.  

Di sisi lain, Telkomsel dan Telkom dapat juga diuntungkan dari rasionalisasi harga di pasar mobile, tetapi rencana intervensi pemerintah terhadap perilaku penetapan harga yang berlebihan dapat berdampak negatif terhadap segmen bisnis tertentu atau secara geografis di area Telkom masih memonopoli. 

Analis PT Danareksa Sekuritas Niko Margaronis dalam risetnya lebih melihat pada prospek kinerja perseroan tahun ini yang dinilai dapat melampaui pesaingnya. 

"Kami menilai ada ruang efisiensi bagi XL yang sudah beralih dari jaringan 2G. Target belanja modal (capital expenditure/capex) 2019 juga sedikit lebih besar dengan bobot yang lebih besar di luar Jawa dengan membidik 90% cakupan data di seluruh Indonesia, sehingga memberikan skala ekonomi yang lebih baik." 

Ekspansi di luar Jawa itu juga dinilai Niko merupakan poin keunggulan perseroan, disertai dengan kinerja akan membaik signifikan tahun ini sehingga membuka potensi pembagian dividen setelah beberapa tahun absen terkait dengan perbaikan return permodalannya.  

Lucky Ariesandi menambahkan prediksi pertumbuhan pendapatan XL Axiata akan mencapai 10% tahun ini.

Manajemen emiten juga dikatakan menetapkan target pertumbuhan EBITDA sebesar 30% tahun ini, sejalan dengan target Bahana Sekuritas 37,4% dengan dukungan capex Rp 7,5 triliun.
 

Risiko yang diperhitungkan Lucky untuk EXCL adalah dimulainya kembali perang harga di Jawa serta semakin intensnya perang harga di luar Jawa, serta kembali baiknya kinerja Indosat yang dapat memicu gejolak dan mempersulit XL menggaet nasabah baru.

Hingga siang ini, saham emiten masih menguat 8,12% hingga berada di Rp 2.530 bersamaan dengan kenaikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang meroket 1,2%. Harga saham tersebut membentuk kapitalisasi pasarnya menjadi Rp 27,04 triliun.
   
Perusahaan efekRekomendasiTarget harga (TP)
Danareksa SekuritasBuy3,800
Mandiri SekuritasBuy2,800
Bahana SekuritasBuy3,025
Sumber: Diolah  

RekomendasiJumlah
Strong buy-buy16
Hold2
Sell-strong sell1
Nilai tengah TP3,225
Sumber: Refinitiv      

TIM RISET CNBC INDONESIA

XL Axiata Merugi pada 2018
[Gambas:Video CNBC]

(irv/hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading