Kontra Credit Suisse, JP Morgan Nilai Saham Indonesia Bullish

Market - Monica Wareza, CNBC Indonesia
13 February 2019 08:35
Kontra Credit Suisse, JP Morgan Nilai Saham Indonesia Bullish
Jakarta, CNBC Indonesia - Perusahaan investasi global, JP Morgan menilai pasar saham Indonesia akan menjadi salah satu negara di emerging market dengan pertumbuhan dua digit pada tahun ini setelah tahun lalu melewati masa yang menantang.

Head of Currencies, Commodities and EM Research JP Morgan Luis Oganes mengatakan tekanan yang terjadi di semester kedua tahun lalu diperkirakan masih akan berlanjut di awal 2019.

Namun diperkirakan, tekanan tersebut mulai berbalik arah pada kuartal kedua dan siklus tekanan ini akan berakhir di akhir 2019.


"Setelah paruh kedua yang menantang di tahun lalu yang dialami banyak ekonomi negara emerging market, efek akumulasi kemungkinan akan memicu pelemahan pada awal tahun ini, tapi kami prediksi cyclical pickup mulai terjadi pada kuartal kedua 2019, dan diikuti dengan berakhirnya siklus ini di akhir tahun," tulis Oganes dalam risetnya, dikutip CNBC Indonesia, Rabu (13/2).

Dia menilai pasar saham Brasil, Chili, Indonesia dan Rusia akan mengalami pertumbuhan double digit di tahun ini dengan rekomendasi overweight. Brazil diperkirakan akan terus mengalami pemulihan seiring dengan pelantikan presiden baru Brazil, Jair Bolsonaro, pada 1 Januari 2019.

Pada 2019, Amerika Latin juga diprediksi menjadi kawasan dengan aktivitas ekonomi sedikit lebih cepat, meski China menjadi kontributor utama terjadinya perlambatan ekonomi di negara-negara emerging market. Ekonomi China pada 2018 hanya tumbuh 6,6%, laju ini adalah yang paling lambat sejak 1990.

Optimisme JP Morgan ini berbeda dengan riset perusahaan sekuritas global Credit Suisse pekan ini yang mampu menekan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kemarin, Selasa (12/2/2019), yang minus 1,06% ke level 6.426,33.

Credit Suisse menurunkan rekomendasi terhadap pasar saham Indonesia menjadi 10% underweight (mengurangi bobot) dari sebelumnya 20% overweight (menambah bobot) karena penguatan signifikan pasar saham domestik sejak Mei 2018.

Beberapa pertimbangan Credit Suisse yakni penguatan rupiah sudah cukup signifikan sehingga sudah jenuh beli (overbought), s
aham Indonesia sedang ditransaksikan pada valuasi premium yang sudah tidak menarik (sudah mahal), pasar saham Indonesia sudah jenuh beli (overbought) dan jenuh dimiliki (over-owned) dibanding posisinya secara historis. (tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading