UBS Ubah Rekomendasi Saham Indonesia, Overweight Jadi Netral

Market - Syahrizal Sidik, CNBC Indonesia
27 February 2019 13:45
UBS Ubah Rekomendasi Saham Indonesia, Overweight Jadi Netral
Jakarta, CNBC Indonesia - Perusahaan jasa keuangan asal Swiss, UBS, mengubah rekomendasi saham Indonesia dari yang sebelumnya overweight atau harga saham lebih tinggi dari nilai atau harga wajarnya menjadi netral.

Rekomendasi netral, sederhananya tidak memiliki kecenderungan tertentu terhadap saham, baik itu buy maupun sell.


UBS menyebutkan, pelaku pasar melihat risiko makroekonomi Indonesia telah berkurang seiring dengan arah kebijakan (stance) bank Indonesia yang pre-emptive semenjak triwulan kedua 2018 untuk mengantisipasi kondisi pasar keuangan Indonesia mengalami tekanan semenjak pelemahan mata uang di negara negara emerging markets.


UBS menilai, saat ini kondisi ekonomi global mulai membaik, indikatornya terlihat dari membaiknya harga minyak mentah dunia, dan imbal hasil obligasi global dan penguatan mata uang dollar AS turut menjadi sentimen positif yang menopang laju indeks Harga Saham Gabungan kembali menguat ke level 6.500.


Meski demikian, UBS belum bisa memastikan apakah di tahun ini tekanan yang bersumber eksternal akan lebih baik daripada 6 bulan terakhir, sebab masih ada sinyal bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve kembali mengerek bunga acuannya setidaknya sekali lagi di tahun ini.

"Sehingga masih ada ruang arus modal keluar dari negara-negara berkembang," tulis UBS dalam risetnya, Rabu (27/2/2019).

Silang Pendapat Investment Banker Soal Pasar Keuangan Indonesia
[Gambas:Video CNBC]

Sisi lain, imbal hasil obligasi Indonesia di masih cukup tinggi jika dibandingkan negara-negara di Asia Tenggara lainnya. Selain itu, jika defisit transaksi berjalan Indonesia membaik di triwulan berikutnya, hal itu akan menopang penguatan mata uang garuda. Sehingga aset keuangan domestik masih memiliki daya tarik.

Karena itu, UBS memproyeksikan pasar saham di Tiongkok di tahun ini akan overweight, diikuti Korea, Jepang dan Singapura. Sedangkan Thailand, Hong Kong dan Filipina rekomendasinya cenderung turun atau underweight.


Beberapa waktu lalu, lembaga riset global, Credit Suisse menurunkan rekomendasi terhadap pasar saham Indonesia menjadi 10% underweight (mengurangi bobot) dari sebelumnya 20% overweight (menambah bobot) karena penguatan signifikan pasar saham domestik sejak Mei 2018.

Ada sejumlah alasan Credit Suisse menurunkan rekomendasi atas pasar saham Indonesia, di antaranya, pasar saham Indonesia sudah jenuh beli (overbought) dan jenuh dimiliki (over-owned) dibanding posisinya secara historis. Saham Indonesia sedang ditransaksikan pada valuasi premium yang sudah tidak menarik (sudah mahal).

Sedangkan, J.P. Morgan punya proyeksi yang berbeda menilai pasar saham Indonesia. J.P. Morgan memprediksi, Indonesia akan menjadi salah satu negara di emerging market dengan pertumbuhan dua digit di tahun ini, karenanya, predikat overweight masih disematkan untuk Indonesia. (hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading