Investor, Waspadai Badai Perlambatan Ekonomi China

Market - Syahrizal Sidik, CNBC Indonesia
12 February 2019 15:13
Investor, Waspadai Badai Perlambatan Ekonomi China
Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan Indonesia masih akan menghadapi sejumlah tantangan baik yang bersumber dari global maupun domestik di tahun ini.

Tantangan pasar keuangan dari sisi global yang mesti diwaspadai ialah perlambatan ekonomi yang tengah berlangsung di China.

PT Danareksa Investment Management menyebutkan pertumbuhan ekonomi Negeri Tirai Bambu itu menyumbang sekitar 27,2% pertumbuhan ekonomi global saat ini.


Dana Moneter Internasional (IMF) memangkas proyeksi pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) China dari 6,6% menjadi 6,2% di 2019, ini merupakan pertumbuhan ekonomi paling lemah sejak tahun 1990. Otomatis, pertumbuhan ekonomi global turut terpangkas karena perlambatan tersebut.



"Data-data perekonomian membuktikan bahwa China memang sedang mengalami perlambatan ekonomi dan otoritas fiskal maupun moneter," ujar Chief Investment Officer Danareksa Edwin Ridwan dalam riset yang diterima CNBC Indonesia, Selasa (12/2/2019).

Perlu diingat, saat berlangsungnya Great Recession 2008/2009 Beijing meluncurkan stimulus ekonomi masif yang belum pernah dilakukan di dunia pasca-Perang Dunia II. Nilai stimulus tersebut mencapai 19% dari PDB China.

Sebagai perbandingan, stimulus ekonomi AS saat itu hanya sebesar 5% hingga 6% dari PDB. Uniknya pemerintah pusat China tidak meminjam secara langsung dana yang digunakan sebagai stimulus melainkan mendorong pemerintah-pemerintah daerah dan BUMN mereka untuk menanggung beban stimulus.

"Akibatnya tumpukan utang masa lalu tersebut menjadi lebih sulit untuk diselesaikan dan menggantung hingga saat ini dan tingkat gagal bayar (defaults) pinjaman korporasi di China diperkirakan akan semakin meningkat," imbuhnya.

Edwin menjelaskan, kekhawatiran pasar akanĀ perlambatan ekonomi China telah menyebabkan bursa saham China CSI 300 terkoreksi 25% sepanjang 2018 dan merupakan indeks saham berkinerja terburuk di dunia tahun lalu.

Investor, Waspadai Perlambatan Ekonomi ChinaFoto: Infografis/infografis pdb china 2018 tumbuh paling rendah sejak 1990/Aristya Rahadian Krisabella

Selain itu, nilai tukar yuan terhadap dolar AS pun mengalami tekanan hingga mendekati nilai kritikal 7.0 per dolar AS di posisi terburuknya pada Oktober 2018.

"Perlambatan ekonomi China masih berlangsung saat ini dan pelaku pasar tampaknya belum mampu mengukur sejauh mana keadaan akan memburuk mengingat keterbukaan informasi ekonomi dan bisnis merupakan masalah tersendiri di China," tuturnya.

Pertanda pelemahan ekonomi China juga tercermin dari data penjualan iPhone di China, misalnya, yang turun 20% pada triwulan keempat 2018.

Penurunan tersebut selain didorong oleh pelemahan ekonomi China juga disebabkan oleh meningkatnya nasionalisme konsumen negara itu yang mengutamakan produk-produk dalam negeri ketimbang produk perusahaan AS sebagai buntut perang dagang.


Meski begitu, konsensus pelaku pasar global masih percaya pemerintah China akan mampu mengatasi marabahaya yang menghantui perekonomian China, menurut Edwin.


IHSG Menguat

Danareksa mencatat, atas kondisi yang masih rentan di China, investor global mulai melirik negara emerging markets Asia, seperti Indonesia, Vietnam, atau Filippina, sebagai negara tujuan investasi portfolio mereka dalam jangka pendek.

"Keadaan tersebut telah mengerek naik indeks saham Indonesia ke level tertingginya dalam 11 bulan terakhir di level 6.500," kata dia.

Investor global yang awalnya memburu saham-saham berkapitalisasi besar seperti saham-saham perbankan kini mulai melirik dan merotasi portfolio ke saham-saham berkapitalisasi menengah dan kecil yang valuasinya jauh lebih menarik.

"Akibatnya IHSG mengalami dukungan yang cukup kuat akibat masuknya likuiditas global ke pasar Indonesia dan tidak kunjung mengalami koreksi berarti," tandas Edwin.


Saksikan video mengenai jalan terjal damai dagang berikut ini.

[Gambas:Video CNBC]


(prm)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading