Dilema Harga BBM: Mahal Salah, Murah Bisa Bikin Masalah

Market - Hidayat Setiaji, CNBC Indonesia
10 February 2019 15:40
Jakarta, CNBC Indonesia - Mulai hari ini, PT Pertamina menurunkan harga jual Bahan Bakar Minyak (BBM). Langkah ini menyusul perusahaan lain yang telah menurunkan harga. 

Mulai Minggu (10/2/2019), berikut harga jual baru BBM di SPBU Pertamina:
  • Pertamax Turbo turun Rp 800 (6,67%) menjadi Rp 11.200/liter.
  • Pertamax turun Rp 350 (3,43%) menjadi Rp 9.850/liter.
  • Dexlite turun Rp 100 (0,97%) menjadi Rp 10.200/liter.
  • Dex turun Rp 50 (0,42%) menjadi Rp 11.700/liter.
  • Premium di wilayah Jawa, Madura, dan Bali turun Rp 100 (1,53%) menjadi Rp 6.450/liter.
  • Pertalite tetap Rp 7.650/liter. 

Sebelum Pertamina, sejumlah badan usaha penjual BBM seperti Shell dan Vivo sudah terlebih dulu menurunkan harga jualnya. Penurunan harga BBM adalah konsekuensi logis dari tren penurunan harga minyak dunia dan penguatan nilai tukar rupiah.
 


Dalam sepekan ini, harga minyak jenis brent turun 1,04% sementara light sweet berkurang sampai 4,6%. Selama 3 bulan terakhir, harga brent anjlok 12,1% dan light sweet amblas 13,1%.




Sedangkan rupiah juga dalam tren menguat. Sejak awal tahun, rupiah terapresiasi 2,89% sementara selama 3 bulan ke belakang penguatannya nyaris 4%.



Penurunan harga minyak dan apresiasi rupiah membuat biaya pengadaan BBM menjadi lebih murah. Hasilnya adalah Pertamina cs memiliki ruang untuk menurunkan harga jual produk ini. 

Bagi masyarakat, penurunan harga BBM tentu menjadi kabar gembira. Pengeluaran untuk membeli BBM bisa dihemat, dan uang itu bisa disimpan, diinvestasikan, atau dibelanjakan untuk keperluan lain. 

Namun yang jelas, dampak yang mungkin akan terlihat dari penurunan harga BBM adalah perlambatan laju inflasi. BBM punya bobot inflasi yang signifikan, hanya kalah dari beras, karena tingginya kebutuhan masyarakat terhadap barang ini. Bobot BBM dalam keranjang Indeks Harga Konsumen (IHK) mencapai 3,39%. 

Itu baru dari dampak harga BBM, belum efek turunannya yaitu penurunan biaya logistik. Harga BBM yang lebih rendah otomatis akan menurunkan biaya logistik, yang kemudian bisa menurunkan harga di tingkat konsumen. 

Oleh karena itu, kemungkinan besar inflasi pada Februari akan kembali 'jinak'. Sepertinya inflasi semakin tidak menjadi masalah bagi perekonomian Indonesia, setidaknya dalam waktu dekat. 


Selain itu, perlambatan laju inflasi juga bisa menggoda Bank Indonesia (BI) untuk tidak lagi menaikkan suku bunga acuan. Syukur-syukur bisa membuat hati BI tergerak untuk menurunkan suku bunga acuan, karena tekanan inflasi yang sangat minimal. 

Andai BI benar-benar menurunkan suku bunga acuan, maka dampaknya bisa signifikan terhadap perekonomian nasional. Suku bunga deposito perbankan bisa turun, dan kemudian menular ke suku bunga kredit.  

Bagi dunia usaha yang ingin berekspansi, penurunan suku bunga kredit tentu menjadi berita bahagia. Investasi dan ekspansi bisnis akan bergairah, lapangan kerja baru terus tercipta, sehingga angka pengangguran dan kemiskinan bisa terus dikurangi. 

Bagi masyarakat umum, mari berharap suku bunga Kredit Pemilikan Rumah (KPR) bisa ikut turun. Saat ini terwujud, maka beban pembayaran KPR bisa berkurang dan memberi ruang untuk bernafas. 


(BERLANJUT KE HALAMAN 2)


(aji/aji)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading