Dilema Harga BBM: Mahal Salah, Murah Bisa Bikin Masalah

Market - Hidayat Setiaji, CNBC Indonesia
10 February 2019 15:40
Waspadai Tekanan di Transaksi Berjalan!

Waspadai Tekanan di Transaksi Berjalan!

Namun penurunan harga BBM bagai dua sisi mata uang. Ada dampak positif, tetapi ada pula risikonya. 

Indonesia saat ini adalah negara berstatus net importir migas. Produksi dan pasokan dalam negeri tidak mampu memenuhi permintaan sehingga mau tidak mau harus ada impor. 

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca migas pada 2018 defisit US$ 12,4 miliar. Lebih dalam ketimbang tahun sebelumnya yaitu US$ 8,57 miliar. 




Sepanjang 2018, impor migas Indonesia adalah US$ 49,11 miliar. Dari jumlah tersebut, US$ 26,63 miliar (54,22%) adalah impor produk hasil minyak, yang salah satunya adalah BBM. 

Nah, kalau harga BBM lebih murah maka konsumsinya tentu akan meningkat. Di sini kemudian timbul masalah, karena suka tidak suka pasti impor BBM bakal membengkak demi memenuhi permintaan masyarakat. 

Hasilnya adalah neraca perdagangan Indonesia akan terancam, karena defisit di sisi migas kemungkinan semakin dalam. Masalah kemudian merambat ke transaksi berjalan (current account), yang mencerminkan ekspor-impor barang dan jasa secara keseluruhan. 

Kala impor BBM melonjak, maka defisit di transaksi berjalan bisa kian memburuk. Sebagai catatan, transaksi berjalan pada kuartal IV-2018 mengalami defisit 3,57% dari Produk Domestik Bruto (PDB), terdalam sejak kuartal II-2014.  

Sedangkan secara tahunan, defisit transaksi berjalan masih di bawah 3% PDB tepatnya 2,98%. Namun ini juga menjadi catatan terburuk sejak 2014. 




Padahal transaksi berjalan merupakan fondasi yang menopang rupiah. Sebab, pasokan devisa dari ekspor-impor barang dan jasa tentu lebih berjangka panjang ketimbang hot money di pasar keuangan yang bisa datang dan pergi dalam hitungan detik.  

Oleh karena itu, defisit transaksi berjalan yang terancam lebih dalam karena risiko pembengkakan impor BBM kemungkinan membuat rupiah rentan mengalami pelemahan. Jika ini yang terjadi, seperti pada 2018, maka BI tentu tidak akan membiarkan. Peluang kenaikan suku bunga acuan menjadi kembali terbuka. 

"Memang ke depan kalau suku bunga meningkat pasti akan mempengaruhi investasi dan impor. Defisit trade balance akan berkurang seiring investasi yang berkurang. Current account masih perlu dibantu, BI masuk dengan kebijakan suku bunga untuk meredam domestic demand. Kita cegah defisit transaksi berjalan terus melebar dan berdampak ke nilai tukar," jelas Dody Budi Waluyo, Deputi Gubernur BI, beberapa waktu lalu. 


Kalau sampai BI lagi-lagi menaikkan suku bunga acuan, maka dampaknya akan terbalik dengan saat menurunkan (pasti lah). Suku bunga kredit akan naik, ekspansi dunia usaha bakal sulit, dan masyarakat yang punya cicilan KPR harus lebih banyak berdoa. 

Ah, repot memang kawan kita si harga BBM ini. Kalau mahal dia salah, tapi kalau murah pun bisa menimbulkan masalah.


TIM RISET CNBC INDONESIA


(aji/aji)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading