Jika Ikutan Jual Multistrada, Indomobil Bisa Cuan Rp 730 M

Market - Irvin Avriano Arief, CNBC Indonesia
23 January 2019 18:00
Jika Ikutan Jual Multistrada, Indomobil Bisa Cuan Rp 730 M
Jakarta, CNBC Indonesia - PT Indomobil Sukses Internasional Tbk (IMAS) berpotensi meraup keuntungan hingga Rp 679 miliar-Rp 730 miliar jika ikut menjual kepemilikan sahamnya di PT Multistrada Arah Sarana Tbk (MASA). 

Potensi tersebut terkait dengan penandatanganan akuisisi perusahaan ban asal Perancis Michelin SCA terhadap Multistrada senilai Rp 6,2 triliun pada Selasa kemarin (22/1/2019). 

Saat ini, IMAS memiliki 19,49% saham MASA yang dikumpulkan sejak pertama kali membeli 10% saham perusahaan Pieter Tanuri pada 2010 silam. 


Pada 2010 tersebut, sayap otomotif Grup Salim tersebut membeli 10% saham MASA melalui PT Central Sole Agency (CSA) senilai Rp 180 miliar, dan kemudian ditambah menjadi Rp 198 miliar pada tahun yang sama. 

Berlanjut pada 2012, CSA mengeksekusi haknya membeli 734,63 juta saham MASA ketika produsen ban Corsa tersebut menggelar penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD/rights issue).  

Setelah beberapa kali transaksi, selama periode tahunan, posisi terakhir saham Indomobil melalui CSA di MASA dan entitas lain mencapai 19,49% pada akhir 2017. 

Riset dari satu sekuritas dan sebuah notifikasi (berbentuk sales notes) dari sekuritas lain menunjukkan potensi keuntungan Rp 679 miliar-Rp 730 miliar dapat dikantongi Indomobil dari total dana yang dapat diterima Rp 1,5 triliun.  

Tender Offer 
Selain memprediksi IMAS akan meraih untung Rp 700 miliar, PT Korea Investment & Sekuritas Indonesia dalam sebuah sales notes kepada klien juga memprediksi aksi akuisisi tersebut akan disusul dengan aksi penawaran tender (tender offer). 

Tender offer diprediksi akan dilakukan pada harga beli yang sama, yaitu Rp 850 per saham, karena adanya potensi penggantian pengendali emiten. 

Penawaran tender tersebut merupakan kewajiban yang harus dijalankan berdasarkan peraturan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) jika terjadi perubahan pemegang saham pengendali.  

Tender offer akan mengharuskan Michelin sebagai pemilik baru MASA untuk menawar beli kepada seluruh pemegang saham selain pengendali di harga yang dia tentukan.

Korea Investment & Sekuritas juga menilai transaksai MASA memiliki valuasi EV/EBITDA 13,7 kali dan valuasi rasio harga saham per nilai buku (P/BV) sekitar 1,5 kali. 

Nilai transaksi itu masih lebih mahal dibandingkan dengan harga saham pesaingnya yaitu PT Gajah Tunggal Tbk (GJTL) yang memiliki valuasi EV/EBITDA 5 kali dan P/BV 0,5 kali. 

Dalam riset terpisah, analis PT RHB Sekuritas Indonesia Andrey Wijaya dan Mutiara Nita mengungkapkan nilai transaksi MASA Rp 850/saham berada pada P/BV 1,7 kali, atau 11% lebih mahal dari harga penutupan kemarin Rp 765. 

Transaksi itu juga menunjukkan keyakinan investor terhadap prospek industri otomotif domestik. 

Berikut proses bertahap masuknya Grup Indomobil ke tubuh Multistrada:

2010
PT Indomobil Sukses Internasional Tbk (IMAS) melalui PT Central Sole Agency membeli 10% saham MASA senilai Rp 180 miliar, yang kemudian ditambah menjadi Rp 198 miliar.  

2011
CSA membeli 195,85 juta saham MASA dengan harga beli Rp 450-Rp 560/saham. Nilai kepemilikannya naik Rp 103,87 miliar dan porsi kepemilikannya di Multistrada menjadi total 13%. 

2012
11 Januari, CSA membeli 734,636,000 saham MASA di harga Rp 500/saham ketika produsen ban Corsa tersebut menggelar penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD/rights issue).  

Total kepemilikan IMAS di MASA menjadi 1,53 miliar atau setara persentase 16,67% setelah rights issue berlangsung. 

Pada 25 Juni, anak usaha IMAS yang lain yaitu PT Indomobil Prima Niaga membeli 250 juta saham MASA di pasar di harga Rp 525 per lembar, sehingga total kepemilikan Grup Indomobil di MASA mencapai 19,39%. 

2013
Pada 10 April, CSA dan MASA Mendirikan JV bernama PT Indo Masa Sentosa (IMSA).

2016
Berdasarkan laporan keuagan IMAS, porsi kepemilikan Grup IMAS di MASA bertambah menjadi 19,42%. 

2017
Nilai kepemilikan tersebut naik lagi menjadi 19,49% hingga laporan keuangan terakhir IMAS dipublikasikan pada September 2018.  


TIM RISET CNBC INDONESIA (irv/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading