RHB: Mizuho Jadi Kandidat Potensial Caplok Bank Permata

Market - tahir saleh, CNBC Indonesia
21 January 2019 09:16
RHB: Mizuho Jadi Kandidat Potensial Caplok Bank Permata
Jakarta, CNBC Indonesia - Mizuho Financial Group (MFG) dinilai menjadi kandidat potensial untuk mengakuisisi divestasi PT Bank Permata Tbk (BNLI) yang kemungkinan dilakukan oleh pemegang saham mayoritas yakni Standard Chartered (Standcart) dan PT Astra International Tbk (ASII).

Mizuho dianggap menjadi pembeli potensial karena salah satu raksasa keuangan asal Jepang itu memang tengah berupaya untuk membeli bank di Indonesia.

"Laporan berita mengindikasikan bahwa bank Jepang dapat menjadi pembeli potensial dan kami pikir Mizuho adalah kandidat yang potensial karena mereka tengah berupaya membeli bank di Indonesia, misalnya [ingin beli] Panin pada 2015, dan [Mizuho] merupakan satu-satunya bank Jepang lain yang sudah hadir di Indonesia," tulis analis PT RHB Sekuritas Indonesia, Alvin Baramuli, dalam riset per 20 Desember 2018.

Sebelumnya diberitakan dari
sumber CNBC Indonesia, ada empat bank besar Jepang yang mengikuti proses transaksi divestasi Bank Permata yakni, Mitsubishi UFJ Financial Group (MUFG), Japan Post Bank (JPB), Mizuho  dan Sumitomo Mitsui Financial Group (SMFG).

Dari keempatnya, tiga nama sudah memiliki afiliasi dengan bank-bank Indonesia. MUFG sudah menjadi pemilik 40% saham PT Bank Danamon Tbk (BDMN), sementara SMFG juga memegang 40% saham PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Tbk (BTPN) dan akan segera melalukan merger antara BTPN dengan PT Bank Sumitomo Mitsui Indonesia, sementara Mizuho juga sudah mendirikan PT Bank Mizuho di Indonesia.

Alvin menilai dengan langkah divestasi ini, Bank Permata dapat mengambil manfaat dari tren merger dan akuisisi di sektor perbankan yang tengah meningkat di Indonesia, apalagi pertimbangan ukuran aset dengan penilaian 0,8x PBV (price to book value).

PBV ini adalah penilaian harga saham dengan nilai buku perusahaan. Biasanya,
saham yang memiliki rasio PBV besar, memiliki valuasi yang tinggi (overvalue) sedangkan saham yang memiliki PBV di bawah 1 memiliki valuasi yang rendah alias undervalue.

Menurut riset RHB, pemegang saham mayoritas Bank Permata, yakni Standcart dan Astra terbuka kemungkinan divestasi karena investasi mereka sampai saat ini di Permata, yang mencapai Rp 16 triliun, cukup mahal tapi masih mencatat dilusi ROE (Return on Equity) pada 2016.

"Dan itu bisa memakan periode waktu yang lama untuk mencapai titik impas [breakeven] karena laba Permata di bawah Rp 1 triliun."

Jika melihat laporan keuangan, baik Astra dan Standcart memiliki nilai di saham BNLI mencapai Rp 17,62 triliun. Perhitungannya, dengan asumsi harga saham BNLI di level Rp 705/saham, dan kepemilikan Astra sebanyak 12,49 miliar saham (44,56%), maka nilai kepemilikan Astra sebesar Rp8,81 triliun.

Demikian pula dengan saham Standcart senilai Rp 8,81 triliun, sehingga total Rp 17,62 triliun. Sisa saham Permata dimiliki publik 10,88%.

Sebelumnya juga diberitakan, Japan Post juga jadi kandidat karena menjadi perusahaan keuangan Jepang yang belum beroperasi di Indonesia.

"Besar kemungkinan Japan Post Bank yang akan masuk," kata sumber tersebut yang menyebutkan perusahaan penasehat keuangan untuk transaksi ini berasal dari Singapura," kata sumber CNBC, akhir Desember 2018.
 

Saat ini, pemegang saham Bank Permata yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) yaitu, Astra 44,56%, Standcart 44,56%, dan masyarakat 10,88% atau 3,05 miliar.



(hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading