Waspada! Ada Tren Penurunan Pertumbuhan Ekonomi RI

Market - Iswari Anggit, CNBC Indonesia
16 January 2019 16:23
Waspada! Ada Tren Penurunan Pertumbuhan Ekonomi RI
Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro meminta agar penurunan pertumbuhan ekonomi Indonesia dicermati. Hal itu disampaikanya dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR di komplek parlemen Senayan, Jakarta, Rabu (16/1/2019).

"Ada satu pola yang harus diwaspadai. Penurunan rata-rata pertumbuhan dari 1968-1979, periode oil boom, 7,5% tumbuhnya. Manufaktur juga masih tinggi tapi turun (ke) 6,4% periode 1980-krisis. Krisis Asia turun minus 13%. Sekarang turun lagi ke 5,3%. Kita harus waspadai tren penurunan ini, harus ada reformasi struktural," ujarnya.




Menurut Bambang, Kementerian PPN/Bappenas telah mencoba melakukan analisis tentang potential growth ekonomi Indonesia. Dari analisis itu, ekonomi paling tinggi hanya bisa tumbuh 5,3%. Mengapa demikian?

"Karena net ekspor kita rendah, dan kalaupun ada ekspor sifatnya komoditas. Impor migasnya masih tinggi, dan impor produksi. Konsumsi rumah tangga 5% tapi tidak diimbangi pertumbuhan investasi," katanya.

Waspada! Ada Tren Penurunan Pertumbuhan Ekonomi RIFoto: CNBC Indonesia/Ester Christine Natalia


Ia mengatakan ada kekurangan pada aspek investasi yang produktivitasnya tinggi. Oleh karena itu, menurut dia, kalau pun ada pertumbuhan ekonomi, produktivitasnya terbatas.

"Cirinya terkait pada pertanian dan jasa yang produktivitas rendah, manufaktur dengan nilai tambah rendah. Karenanya inovasi dan investasi jadi penting untuk tingkatkan produktivitas," ujar Bambang.



Berbekal dari kondisi itu, Bambang mengungkapkan kementeriannya sedang menyelesaikan kerangka teknokratis RPJMN 2020-2024. Terdapat tiga kategori pertumbuhan ekonomi, yaitu rendah (5,4%), sedang (5,7%), dan tinggi (6,0%).

Untuk mencapai target itu, ada sejumlah syarat yang harus dicapai. Jika tidak, maka potential growth ekonomi RI bisa turun di bawah 5,0%. Syaratnya, partisipasi angkatan kerja 68%-70%, pertumbuhan investasi harus di atas 7% bahkan 8%, dan produktivitas paling rendah 10%.

"Pertumbuhan ekonomi fokus pada tiga hal. Perbaikan iklim investasi (regulasi, pajak, pasar keuangan), kedua perkuat daya saing ekspor (infrastruktur dan kemajuan produk ekspor), peningkatan nonmigas (kebijakan, internet, pendidikan vokasi). Ini diharapkan bisa capai pertumbuhan ekonomi," kata Bambang.
[Gambas:Video CNBC]


(miq/prm)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading