Internasional

Soal Pertumbuhan Ekonomi, China tak Mampu Kalahkan India

Market - Rehia Sebayang, CNBC Indonesia
02 January 2019 17:58
India mengalahkan China dan mempertahankan gelar ekonomi besar yang tumbuh tercepat di dunia meski dihantam berbagai tantangan.
Jakarta, CNBC Indonesia - India mengalahkan China dan mempertahankan gelar ekonomi besar yang tumbuh tercepat di dunia meski dihantam berbagai tantangan, seperti lonjakan harga minyak dan perang dagang global sepanjang 2018.

Pada kuartal pertama tahun fiskal 2018-2019 yang berakhir pada 30 Juni, produk domestik bruto (PDB) India tumbuh sebesar 8,2%, sementara pada tiga bulan pertama tahun lalu tumbuh 7,7%.


Namun, angkanya sempat merosot 7,1% pada kuartal berikutnya yang berakhir 30 September.


Angka ini lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi China. PDB China, yang merupakan ekonomi terbesar kedua dunia setelah Amerika Serikat, di kuartal ketiga tahun lalu tercatat tumbuh lebih lambat dari perkiraan dan mencatat ekspansi paling lambat sejak kuartal pertama 2009 akibat perang dagang.

Ekonominya tumbuh 6,5% secara tahunan (year-on-year/ yoy) di kuartal ketiga 2018 atau lebih rendah dari 6,6% yang diperkirakan para analis dalam survei Reuters. Angka itu juga lebih rendah dari 6,7% yang dicapai di kuartal sebelumnya, CNBC International melaporkan.

Pada kuartal III 2018, ekonomi China tercatat melambat dari 1,7% ke 1,6% secara quarter-on-quarter.

Melansir Business Today, Rabu (2/1/2019), Fitch Ratings memangkas perkiraan pertumbuhan PDB India menjadi 7,2% untuk tahun fiskal saat ini, dari 7,8% yang diproyeksikan pada September, akibat biaya keuangan yang lebih tinggi dan pengurangan ketersediaan kredit.

Soal Pertumbuhan Ekonomi, China tak Mampu Kalahkan IndiaPerdana Menteri India Narendra Modi saat berkunjung ke Jakarta (Foto: REUTERS/Darren Whiteside)

Menurut Wakil Ketua Niti Aayog, lembaga nasional untuk transformasi India, Rajiv Kumar, fokus pemerintah pada 2019 adalah mempercepat reformasi dengan maksud untuk mendorong pertumbuhan.

"(Ekonomi) India akan tumbuh sekitar 7,8% pada tahun berikutnya dan siklus investasi yang sudah mulai meningkat akan semakin meningkat dan kita akan melihat lebih banyak investasi swasta," kata Kumar.

Namun, para ahli memproyeksikan bahwa pertumbuhan moderat dapat memaksa pemerintah untuk membelanjakan lebih banyak sebelum pemilihan umum berikutnya dan hal itu dapat menyebabkan tekanan fiskal.

Faktor-faktor global seperti kenaikan tiba-tiba harga minyak mentah (yang sekarang mereda), penguatan dolar Amerika Serikat (AS), perlambatan pertumbuhan pascaperang dagang AS-China, dan langkah Federal Reserve AS menaikkan suku bunga untuk keempat kalinya dalam setahun memang berimbas pada ekonomi India.

Di India sendiri banyak masalah terjadi yang menyebabkan ekonominya terguncang, di antaranya kasus penipuan bank milik negara Punjab National oleh pengusaha Nirav Modi.


Selain itu ada kasus pengunduran diri Gubernur Reserve Bank of India (RBI) Urjit Patel akibat adanya permintaan pemerintah untuk melonggarkan pembatasan pada pemberi pinjaman sektor publik yang lemah, yang memperlambat pertumbuhan kredit, dan menyebabkan pemerintah mengancam akan menggunakan kekuatan khusus berdasarkan Section 7 dari Undang-Undang RBI.

Rupee yang terdepresiasi dengan cepat dan kenaikan tajam harga bensin juga turut membahayakan defisit transaksi berjalan (CAD) India, yang melebar menjadi 2,9% dari PDB pada kuartal kedua tahun fiskal, dibandingkan dengan 1,1% pada periode yang sama tahun lalu, terutama karena defisit perdagangan yang besar.

"Pelebaran defisit transaksi berjalan di tengah kondisi keuangan global yang lebih ketat mampu memberikan tekanan pada mata uang, dan kami memperkirakan INR melemah menjadi 75 terhadap dolar pada akhir 2019," kata lembaga pemeringkat Fitch dalam sebuah laporan.

Soal Pertumbuhan Ekonomi, China tak Mampu Kalahkan IndiaFoto: REUTERS/Francis Mascarenhas

Kabar baik bagi perekonomian India adalah peningkatan peringkat India pada laporan 'kemudahan melakukan bisnis' atau ease of doing business (EODB) Bank Dunia untuk tahun kedua berturut-turut, melonjak 23 peringkat ke posisi 77 akibat adanya reformasi terkait dengan kebangkrutan, perpajakan, dan bidang-bidang lainnya.

Inflasinya tetap jauh di bawah proyeksi RBI, yang menargetkan untuk menjaga inflasi pada 4% dalam jangka menengah. Selama periode April-Oktober, output industri tumbuh 5,6% dibandingkan dengan 2,5% pada periode yang sama di tahun fiskal sebelumnya. Pada bulan Oktober, inflasi berada di level tertinggi 11-bulan, yaitu 8,1%.
(prm)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading