Perang Dagang & Resesi AS Buat Bursa Eropa Babak Belur

Market - Prima Wirayani, CNBC Indonesia
07 December 2018 06:59
Perang Dagang & Resesi AS Buat Bursa Eropa Babak Belur Foto: Indeks harga saham Jerman Grafik DAX digambarkan di bursa saham di Frankfurt, Jerman, 17 Oktober 2018. REUTERS / Staf
Jakarta, CNBC Indonesia - Bursa-bursa utama Eropa terjun bebas pada perdagangan hari Kamis (6/12/2018) di tengah kekhawatiran akan melambatnya perekonomian Amerika Serikat (AS), anjloknya harga minyak, dan panasnya kembali hubungan antara AS dan China.

Indeks FTSE 100 di London anjlok 3,15% ke posisi 6.704,05, indeks DAX di Frankfurt terjun bebas 3,48% ke 10.810,98, dan indeks CAC 40 di Paris kehilangan 3,32% menjadi 4.780,46.



Indeks Eropa Stoxx 600 terperosok lebih dari 3,3% dengan seluruh sektor dan bursa utama berada di zona merah. Ini adalah kejatuhan indeks secara persentase yang terburuk sejak Brexit.


Perhatian para pelaku pasar sebagian besar tertuju pada penahanan CFO Huawei Meng Wanzhou di Kanada yang akan menghadapi ekstradisi ke AS. Investor cemas kabar ini akan menghambat perundingan dagang antara kedua negara, dilansir dari CNBC International.

Saham-saham sektor sumber daya alam Eropa, yang memiliki eksposur tinggi terhadap China, anjlok 4,2% hari Kamis. Otomotif, yang juga dipandang sangat terpengaruh oleh perang dagang AS-China, juga menjadi salah satu sektor dengan kinerja terburuk setalah rontok lebih dari 4,5%.

Saham-saham teknologi juga turun lebih dari 3% hari Kamis menyusul kabar penahanan direktur Huawei itu.



Di saat yang sama, harga minyak sempat anjlok lebih dari 3% hari Kamis setelah Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dikabarkan sepakat untuk memangkas produksi mereka. Namun, pertemuan itu berakhir tanpa kesepakatan mengenai berapa banyak suplai yang akan dipangkas oleh kartel tersebut.

Harga minyak patokan internasional, Brent, jatuh 2,7% menjadi US$59,9 per barel sementara West Texas Intermediate (WTI) anjlok 3,4% ke posisi US$51,1.

Sementara itu, kecemasan terkait perlambatan ekonomi AS juga menghantui bursa global. Sejak Senin, telah terjadi fenomena yang disebutĀ pembalikan kurva imbal hasil atau inverted yield di pasar obligasi AS di mana yield untuk bond bertenor tiga tahun naik melebihi surat utang berjangka waktu lima tahun.

Fenomena ini dipandang sebagai tanda-tanda resesi meskipun resesi yang sebenarnya mungkin baru akan terjadi beberapa tahun setelahnya. Banyak pelaku pasar tidak melihat kejadian itu sebagai tanda resmi resesi sampai yield obligasi bertenor dua tahun melampaui patokan 10 tahun. (prm)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading