Internasional

Morgan Stanley: Lupakan AS, Saatnya Investasi di Indonesia

Market - Rehia Sebayang, CNBC Indonesia
26 November 2018 18:14
Saham-saham di pasar negara berkembang mengalami tahun yang sulit, tetapi hal itu bisa berubah secara signifikan tahun depan, kata Morgan Stanley.
Jakarta, CNBC Indonesia - Saham-saham di pasar negara berkembang mengalami tahun yang sulit, tetapi hal itu bisa berubah secara signifikan tahun depan, kata Morgan Stanley dalam laporan Global Strategy Outlook untuk tahun 2019.

Perputaran (turnaround)yang diproyeksikan untuk pasar negara berkembang adalah salah satu alasan mengapa bank investasi itu lebih memilih saham di negara-negara tersebut daripada di Amerika Serikat (AS) tahun depan sebagai tujuan investasi.


Morgan Stanley mengatakan telah menaikkan peringkat saham pasar berkembang dari "underweight" menjadi "overweight" untuk 2019, sementara predikat ekuitas AS diturunkan ke "underweight".


"Kami pikir pasar bearish hampir berakhir bagi EM (pasar negara berkembang/ emerging markets)," kata bank itu dalam laporan tertanggal 25 November, dilansir dari CNBC International. Ini menyiratkan bahwa predikat saham di pasar negara berkembang akan segera naik.

"Kami mengambil posisi relatif yang lebih besar dan menambahkan EM."

Banyak investor menarik diri dari pasar negara berkembang sepanjang 2018 dan membeli lebih banyak aset di AS karena lonjakan imbal hasil obligasi dan apresiasi dolar. Pada saat yang sama, masalah keuangan di negara-negara, seperti Turki dan Argentina, meningkat dan memberikan investor lebih banyak alasan untuk menjual kepemilikan mereka di pasar negara berkembang.

Sebagai hasilnya, Indeks MSCI Emerging Markets, yang mengukur saham di 24 negara, telah turun sekitar 16% sepanjang tahun ini. Namun dalam skenario dasar Morgan Stanley, indeks diperkirakan akan naik 8% pada Desember 2019 dari level saat ini, mengalahkan perkiraan 4% untuk Indeks S&P 500 di AS dan MSCI Eropa.

Morgan Stanley lebih memilih saham di pasar negara berkembang dibandingkan AS karena memprediksi akan ada pertumbuhan yang stabil di negara-negara tersebut pada 2019, versus perlambatan ekspansi di Amerika Serikat.

Morgan Stanley: Lupakan AS, Investasilah di Emerging MarketsFoto: infografis/nilai kapitalisasi bursa saham dunia/aristya rahadian krisabella
Bank memproyeksikan pertumbuhan ekonomi AS menjadi moderat dari 2,9% yang diperkirakan tahun ini menjadi 2,3% pada 2019 dan 1,9% pada 2020. Perlambatan seperti itu kemungkinan akan melemahkan prospek dolar, yang akan memberi kelegaan bagi pasar negara berkembang yang memiliki utang berdenominasi dolar AS dalam jumlah besar.

Sebagai perbandingan, pertumbuhan di pasar negara berkembang diperkirakan akan sedikit melambat dari 4,8% tahun ini menjadi 4,7% pada 2019, sebelum merayap naik kembali menjadi 4,8% pada 2020, kata Morgan Stanley dalam laporannya.

Di Mana Bisa Berinvestasi di 2019?

Beberapa pasar negara berkembang yang menurut Morgan Stanley merupakan negara-negara utama dengan predikat "overweight" adalah Brasil, Thailand, Indonesia, India, Peru, dan Polandia. Bank ini memberikan predikat "underweight" untuk Meksiko, Filipina, Kolombia, Yunani, dan Uni Emirat Arab.

Bank juga lebih memilih apa yang dikenal sebagai "value stocks" dibandingkan "growth stocks" secara global. Value stocks mengacu pada perusahaan-perusahaan terbuka yang sahamnya diperdagangkan di bawah harga seharusnya, sementara growth stocks adalah perusahaan yang terlihat memiliki banyak potensi untuk tumbuh.


"Kami menemukan bahwa nilai saham terkonsentrasi di keuangan, material, energi, dan utilitas (dalam urutan itu)," kata Morgan Stanley. Bank itu menambahkan bahwa mereka memiliki sikap overweight pada empat sektor tersebut, dan "bias sektor negatif dalam teknologi, kesehatan, dan konsumen."

Gagasan investasi lain yang disoroti oleh bank dalam laporannya adalah overweight di perusahaan-perusahaan logam dan pertambangan, yang "menerima dukungan sekuler untuk kekuatan pendapatannya."

Tiga Tantangan Menyeluruh

Meskipun potensi pengembalian lebih tinggi dalam saham, terutama di pasar negara berkembang, namun Morgan Stanley mengatakan tidak terlalu bersemangat tentang saham secara keseluruhan.

Bank mempertahankan peringkat "netral" pada kelas aset ini untuk 2019. Bank ini juga netral pada obligasi pemerintah, underweight pada kredit, dan overweight pada uang tunai.


Morgan Stanley menyebut ada "tiga tantangan menyeluruh" yang "membatasi antusiasme kami untuk ekuitas secara keseluruhan."

Pertama, ada risiko "dominan" terhadap pertumbuhan global pada 2019, kata bank itu. Kedua, potensi pertumbuhan pendapatan perusahaan telah melemah secara global, terutama di China dan Eropa.

Terakhir, berdasarkan laporan itu, perusahaan dapat menghadapi tekanan dari meningkatnya upah dan pengeluaran, yang akan membatasi pertumbuhan pendapatan-per-saham mereka.


(prm)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading