4 Saham Produsen CPO Bergerak Liar, Saat Harga Turun

Market - Houtmand P Saragih, CNBC Indonesia
23 November 2018 10:55
4 Saham Produsen CPO Bergerak Liar, Saat Harga Turun
Jakarta, CNBC Indonesia - Empat saham produsen sawit pada perdagangan pagi ini bergerak liar pada perdagangan pagi. Kenaikan harga saham terjadi pada saat harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) bergerak turun.

Saham PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS) naik 4,17% ke level Rp 1.250/saham. Volume perdagangan saham tercatat sebanyak 40 juta saham senilai Rp 49 miliar.

Kemudian saham PT London Sumatra Plantation Tbk (LSIP) naik 2,8% ke level Rp 1.100/saham. Volume perdagangan saham tercatat 13 juta saham senilai Rp 14 miliar.


Saham PT Astar Agro Lestari Tbk (AALI) naik 2,12% ke level Rp 10.850/saham. Volume perdagangan saham tercatat 549 ribu senilai Rp 5 miliar.

Terakhir saham PT Tunas Baru Lampung Tbk (TBLA) naik 1,31% ke level Rp 775/saham. Volume perdagangan saham mencapai 1 juta saham senilai Rp 1 miliar.

Tahun 2018 nampaknya menjadi tahun yang suram bagi komoditas minyak kelapa sawit mentah (crude palm oil/CPO). Bagaimana tidak, harga CPO kontrak acuan di Bursa Derivatif Malaysia sudah amblas nyaris 20% di sepanjang tahun berjalan (year-to-date/YTD).

Sempat menembus level MYR 2.600/ton pada awal Januari 2018, harga CPO kini harus susah payah bertahan di atas level MYR 2.000/ton. Pekan lalu, harga CPO malah sempat tergelincir ke bawah level MYR 2.000/ton, untuk pertama kalinya sejak awal September 2015.

Hal yang sama juga terjadi di Indonesia. Mengutip siaran pers Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki), sepanjang semester I-2018 ekspor minyak sawit ke India tercatat turun hingga 34% YoY, paling parah dibandingkan dengan tujuan lainnya.

Eropa tak ingin hitung CPO sebagai biofuel. Mulai 2021, Parlemen Uni Eropa menyetujui agar kontribusi biofuel yang dihasilkan dari sawit menjadi nihil (0%) dalam perhitungan konsumsi energi bruto sumber energi terbarukan di negara-negara anggota. Keputusan itu diambil setelah dilakukan pemungutan suara di parlemen pada 17 Januari 2018.

Melalui rilis resminya, mereka menyebutkan kebijakan itu diambil berdasarkan bukti kuat bahwa biofuel konvensional tidak memberikan kontribusi terhadap penurunan emisi gas rumah kaca, karena peralihan fungsi lahan secara tidak langsung (indirect land use change/ILUC).

Parlemen Eropa meyakini permintaan tambahan CPO untuk biofuel akan mendongkrak perluasan lahan dengan mengorbankan hutan, lahan basah, dan lahan gambut. Akibatnya, emisi gas rumah kaca yang ditimbulkan bisa meniadakan efek penurunan emisi biofuel.

Memang berkat lobi-lobi intensif pemerintah Indonesia plus kecaman dari negara produsen lainnya, pada 14 Juni 2018 Uni Eropa akhirnya memutuskan untuk tidak melarang penggunaan biofuel berbasis sawit, minimal hingga 2030.

Sayangnya, kabar positif ini tidak banyak membantu pemulihan harga CPO. Pasalnya, sejumlah sentimen negatif lainnya datang menyerang di paruh kedua tahun 2018.

Berkecamuknya perang dagang AS-China. Isu ini menjadi salah satu topik yang paling ramai dibicarakan pada tahun ini. Konflik ini sebagian besar didorong oleh penerapan bea masuk oleh AS, yang kemudian dibalas China dengan kebijakan sejenis.

Per Oktober 2018, total nilai produk made in China yang terkena bea masuk AS mencapai US$ 250 miliar. Kebanyakan menyasar komponen setengah jadi (intermediate), utamanya sektor elektronik dan sejenis mesin.

Sebagai balasan, China menjadikan produk otomotif dan pertanian Negeri Paman Sam sebagai target utama bea masuk-nya, yang mana merupakan barang-barang yang memang paling banyak diimpor oleh Beijing. Total nilai produk made in USA yang menjadi korban adalah US$ 110 miliar.

Produk agrikultur AS yang paling terdampak dari tarif balasan Negeri Panda adalah minyak kedelai. Komoditas ini mendapatkan bea impor ekstra dari China sebesar 25%, berlaku pada akhir Agustus 2018.

Minyak kedelai adalah produk utama dari petani di Arkansas, dengan volume produksi mencapai 178 juta bushel pada 2017. Sekitar 40% dari hasil panen tersebut diekspor ke China. Dengan bertambah mahalnya biaya impor kedelai, Beijing pun dipastikan akan menurunkan permintaannya, dan akhirnya menekan harga minyak kedelai.

[Gambas:Video CNBC] (hps/wed)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading