Fokus Investor

IHSG Berpotensi Menguat, Cermati Aksi Emiten Berikut

Market - Tito Bosnia, CNBC Indonesia
31 October 2018 08:03
IHSG Berpotensi Menguat, Cermati Aksi Emiten Berikut
Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 0,6% ke level 5.789,1 pada perdagangan kemarin, Selasa (30/10/18).

Nilai transaksi tercatat sebesar Rp 7,43 triliun dengan volume 10,68 miliar unit saham dan frekuensi perdagangan 353.373 kali.



Sektor aneka industri (+1,97%) dan keuangan (+1,55%) menjadi pemimpin penguatan. Saham TLKM (+3,83%) menjadi pemimpin kontributor penguatan IHSG disusul BBRI (+2,71%) dan BBCA (+1,62%).


Namun, gerak penguatan IHSG masih cenderung terbatas didorong oleh mata uang rupiah yang melemah 0,05 di pasar spot ke level Rp 15.222/dolar Amerika Serika (AS) di akhir perdagangan kemarin.

Indeks diperkirakan masih dapat bergerak menguat pada perdagangan hari ini menyusul sentimen positif dari reli Wall Street dini hari tadi. Berikut adalah berbagai aksi emiten yang layak menjadi pertimbangan para pelaku pasar di tengah maraknya rilis laporan keuangan kinerja keuangan triwulan ketiga tahun ini.


1. Jumlah Pelanggan Turun, Pendapatan Indosat Anjlok 25,7%
PT Indosat Tbk (ISAT) masih mencatat penurunan pendapatan pada periode Januari-September 2018 tahun ini.

Perusahaan telekomunikasi ini membukukan penurunan pendapatan sebesar 25,7% pada kuartal III-2018 menjadi Rp 16,76 triliun. Padahal, pada kuartal III-2017 perseroan menghasilkan pendapatan senilai Rp 22,56 triliun.


2. Kalbe Farma Bakal Bangun Pabrik di Vietnam dan Filipina
Setelah melakukan ekspansi dengan membangun pabrik di Myanmar, PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) berencana untuk kembali membagun pabrik di dunia negara, yakni Vietnam dan Filipina.

Langkah ini sebagai realisasi dari target perusahaan untuk bisa meningkatkan penjualan di luar Indonesia hingga encapai 10% dar total penjualan pada 2021 nanti.


3. Laba Naik 26%, Saham WIKA Malah Merah 6 Hari Beruntun
Saham PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) melemah selama enam hari berturut-turut meskipun perseroan mencatatkan pertumbuhan laba bersih 26% pada kuartal III-2018.

Harga saham WIKA pada perdagangan Selasa (30/10/2018) ditutup melemah 0,45% menjadi Rp 1.100/saham. Harga saham WIKA tersebut mencatatkan level terendah sejak 21 September 2012.

WIKA mencatatkan laba bersih Rp 860,45 miliar pada 9 bulan pertama 2018, meningkat 26% dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya yang tercatat Rp 682,64 miliar.


4. Belum Rilis Laporan Keuangan, Bursa Denda 3 Emiten Ini
Bursa Efek Indonesia (BEI) memberikan peringatan tertulis III dan tambahan denda senilai Rp 150 juta kepada tiga emiten yang terlambat menyampaikan laporan keuangan.

BEI, ketiga perusahaan tercatat tersebut yakni PT Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk (AISA), PT Capitalinc Investment Tbk (MTFN), dan PT Evergreen Invesco Tbk (GREN).


5. Kuartal III-2018 Laba Bank Mayapada Anjlok 7,3%, Kenapa?
PT Bank Mayapada Internasional Tbk (MAYA) mencatatkan penurunan laba bersih di sepanjang periode Januari-September atau hingga kuartal III-2018.

Perseroan membukukan laba bersih senilai Rp 757,06 miliar. Jumlah ini turun 7,38% dibandingkan dengan laba bersih pada kuartal III-2017 senilai Rp 817,41 miliar.

Tergerusnya laba perseroan didorong oleh total beban operasional perusahaan yang melonjak 53,66% dari sebelumnya Rp 967,53 miliar menjadi Rp 1,48 triliun pada kuartal III tahun ini.

Sedangkan beban bunga pada periode Januari-September 2018 tercatat meningkat 10,69% secara year on year (YoY) menjadi Rp 3,61 triliun. (prm)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading