Dolar AS Loyo Akibat Perang Dagang, Harga Emas Menguat

Market - Raditya Hanung, CNBC Indonesia
19 September 2018 12:03
Dolar AS Loyo Akibat Perang Dagang, Harga Emas Menguat
Jakarta, CNBC IndonesiaHarga emas COMEX kontrak pengiriman Desember 2018 bergerak menguat sebesar 0,32% ke US$1.206,7/troy ounce, pada perdagangan hari ini Rabu (19/8/2018) hingga pukul 11.44 WIB.

Dengan pergerakan tersebut harga sang logam mulia mampu rebound pasca kemarin mengalami penurunan sebesar 0,24%. 
Energi positif bagi penguatan harga emas hari ini datang dari dolar Amerika Serikat (AS) yang justru mulai loyo akibat eskalasi perang dagang AS-China.  




Pada hari Senin (17/9/2018) waktu AS atau dini hari waktu Indonesia, Trump mengumumkan bea masuk baru untuk produk-produk China. Bea masuk sebesar 10% itu akan berlaku untuk ribuan produk China dengan nilai impor US$200 miliar. Kebijakan ini mulai berlaku pada 24 September, dan pada akhir tahun tarifnya naik menjadi 25%.


China kemudian memutuskan untuk membalas kebijakan AS dengan membebankan bea masuk 10% untuk importasi produk made in USA senilai US$60 miliar, juga berlaku mulai 24 September.  Ada 5.207 produk AS yang masuk daftar kena bea masuk baru ini. Mulai dari gas alam cair (LNG), pesawat terbang, bubuk kakao, sampai sayuran beku.

"China terpaksa untuk merespons kebijakan AS yang proteksionistik. Kami tidak punya pilihan selain merespons dengan bea masuk," tegas pernyataan Kementerian Keuangan China, dikutip dari Reuters.

Sebelumnya, sentimen ini justru menjadi obat kuat bagi dolar AS. Mengingat AS dan China adalah dua perekonomian terbesar di planet bumi, friksi di antara keduanya tentu akan mempengaruhi seluruh negara. Arus perdagangan global akan seret dan pertumbuhan ekonomi melambat.

BACA: Perang Dagang AS-China Bikin Lesu Harga Emas

Oleh karena itu, investor akan cenderung bermain aman dan menghindari aset-aset berisiko di negara berkembang. Investor akan memilih berlindung di bawah naungan safe haven. Dan saat ini, instrumen safe haven yang menjadi favorit investor adalah dolar AS, menyusul kenaikan suku bunga acuan Negeri Adidaya yang cukup agresif di tahun ini.

Akan tetapi, sentimen perang dagang AS-China juga bisa dianggap sebagai "racun" bagi perekonomian AS sendiri. Sebab bagaimanapun juga, AS masih membutuhkan produk impor dari China (terutama bahan baku dan barang modal) untuk menggerakkan industri dalam negeri mereka.

Bila impor bahan baku dan barang modal menjadi mahal karena kenaikan bea masuk, maka beban dunia usaha akan bertambah. Saat kenaikan biaya ini dibebankan ke konsumen, yang terjadi adalah kenaikan harga alias inflasi. 

Namun jika sulit dibebankan ke konsumen, maka dunia usaha akan menanggung kerugian. Apabila kerugian ini menumpuk, maka hasilnya adalah perlambatan industri, investasi, dan pertumbuhan ekonomi. Pada akhirnya, ini sentimen perang dagang AS-China justru menekan greenback.  

Hingga pukul 11.44 WIB siang ini, Dollar Index, yang mencerminkan posisi greenback terhadap 6 mata uang utama dunia, terkoreksi tipis sebesar 0,07%. Momentum ini pun bisa dimanfaatkan harga emas untuk bergerak menguat.

Seperti diketahui, aset berdenominasi dolar AS seperti emas akan sensitif terhadap pergerakan mata uang Negeri Adidaya. Terdepresiasi dolar AS akan membuat emas relatif lebih murah, sehingga mampu menyokong permintaan sang logam mulia.

Meski demikian, dolar AS sendiri sebenarnya masih menyimpan kekuatan untuk bergerak menguat. Pasalnya, kebijakan moneter The Federal Reserve/The Fed masih dipandang agresif. Mengutip CME Fedwatch, probabilitas bank sentral AS untuk menaikkan suku bunga acuan 25 basis poin pada rapat 26 September sangat besar, mencapai 96,8%. 

Tidak berhenti di situ, The Fed juga kemungkinan akan menaikkan suku bunga acuan 25 basis poin lagi pada Desember dengan probabilitas 82%. Sepanjang 2018, The Fed lantas diperkirakan menaikkan suku bunga empat kali, lebih banyak ketimbang perkiraan sebelumnya yaitu tiga kali. Hal ini masih berpeluang memberikan tekanan bagi harga emas. 
(RHG/hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading