DMO Dicabut, Akankah Saham Batu Bara Meroket?

Market - Anthony Kevin, CNBC Indonesia
27 July 2018 19:23
Penghapusan DMO akan berdampak positif bagi saham-saham batu bara.
Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah secara mengejutkan mencabut aturan soal kewajiban memasok batu bara untuk kepentingan dalam negeri atau yang dikenal dengan nama Domestic Market Obligation (DMO).

Kewajiban DMO sebelumnya mengatur tiap-tiap produsen batu bara untuk mengalokasikan 25% dari produksinya untuk dijual kepada PLN dengan harga yang sudah di atur sebelumnya, tidak mengikuti harga pasar yang kini sudah hampir menyentuh US$ 120 per ton.

Investor merespon keras kebijakan itu. Masalahnya, ketika harga batu bara sedang tinggi-tingginya, pemerintah seakan menahan emiten-emiten produsen batu bara dari meraup cuan setinggi mungkin.


Saham-saham emiten produsen batu bara pun dilepas sejak bulan Februari, ketika masalah DMO ini sedang panas-panasnya diperbincangkan.

Nantinya, kebijakan DMO akan digantikan dengan skema ekspor yang serupa dengan kelapa sawit yakni dikenakan tarif. Tarif tersebut akan difungsikan sebagai cadangan dana untuk mensubsidi PLN.

Positif Bagi Emiten
Penghapusan DMO akan berdampak positif bagi emiten-emiten batu bara. Pasalnya, para emiten jadi bisa menikmati harga batu bara dengan standar internasional yang saat ini sedang tinggi-tingginya.

Sepanjang tahun 2018 (sampai dengan penutupan perdagangan kemarin, 26/7/2018), harga batu bara Newcastle kontrak pengiriman bulan Juli telah menguat hingga 18,95% (dari US$ 100,8/metrik ton menjadi US$ 119,9/metrik ton).

Apalagi, prospek harga batu bara masih cukup menarik, disokong oleh menguatnya permintaan dari China. Pada musim semi yang baru saja berakhir, suhu udara ternyata lebih panas dari biasanya. Pembangkit listrik bertenaga batu bara mau tidak mau harus menggenjot produksi listriknya seiring naiknya tingkat penggunaan pendingin ruangan di kota-kota besar seperti Beijing dan Shanghai.

Jika musim semi saja sudah seperti itu, musim panas yang berlangsung pada bulan Juli-Agustus tentunya akan memberikan temperatur yang amat panas di Negeri Tirai Bambu. Permintaan batu bara, khususnya untuk pembangkit listrik, diperkirakan akan mencapai puncaknya.

Selain itu, perekonomian dunia juga sedang panas-panasnya, dipimpin oleh Amerika Serikat (AS). Sejauh ini, laporan keuangan dari perusahaan-perusahaan yang melantai di Wall Street terbilang positif. Panasnya tensi perang dagang antara AS dengan China belum signifikan mempengaruhi sektor riil.

Kala perekonomian dunia sedang panas-panasnya, permintaan atas batu bara sebagai salah satu sumber energi utama juga akan tinggi.

Saham-saham emiten batu bara yang memiliki kapitalisasi pasar besar dan bisa dilirik oleh investor diantaranya: PT Adaro Energy Tbk (ADRO), PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG), PT Bukit Asam Tbk (PTBA), PT Indika Energy Tbk (INDY), dan PT Bayan Resources Tbk (BYAN).

TIM RISET CNBC INDONESIA
(ank/hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading