Kondisi Realisasi APBN 2018 yang Makin Jauh dari Asumsinya

Market - Arys Aditya & Chandra Gian Asmara, CNBC Indonesia
17 May 2018 11:58
Kondisi Realisasi APBN 2018 yang Makin Jauh dari Asumsinya
Jakarta, CNBC Indonesia - Asumsi makro yang ditetapkan di APBN 2018 semakin tidak realistis jika dilihat kondisi sebenarnya atau realisasi saat ini. Dari pertumbuhan ekonomi sampai lifting dan gas, tak ada yang sesuai koridor asumsi makro.

Dalam paparan Konferensi Pers APBN Kita di Mei 2018, berikut beberapa indikator asumsi makro dan realisasinya sampai akhir April 2018 :

Pertumbuhan Ekonomi
APBN 2018 : 5,4%
Realisasi : 5,06%


Inflasi
APBN 2018 : 3,5%
Realisasi : 3,4%

Tingkat Bunga SPN 3 Bulan
APBN 2018 : 5,2%
Realisasi : 4,1%

Nilai Tukar (Rp/USD)
APBN 2018 : 13.400
Realisasi : 13.631

Minyak Mentah Indonesia (US$/barel)
APBN 2018 : 48
Realisasi : 64,1

Lifting Minyak (ribu barel/hari)
APBN 2018 : 800
Realisasi : 750,3

Lifting Gas (ribu barel setara minyak)
APBN 2018 : 1.200
Realisasi : 1.155,9


"Hingga akhir April 2018 5,06% untuk pertumbuhan ekonomi. Maka kita perlu mengejar di kuartal II, III, dan IV," kata Sri Mulyani di Kantor Kemenkeu, Kamis (17/5/2018).

"Kuartal kedua akan tinggi karena adanya momentum impor bahan baku dan impor, serta konsumsi yang dipicu dari lebaran dan puasa serta pengumuman oleh Presiden THR dan gaji ke-13 diharapkan menjaga momentum," imbuh Sri Mulyani.

Menurut Sri Mulyani lebih jauh, dari angka asumsi makro tersebut hanya tingkat inflasi dan SPN yang masih di bawah target asumsi. Inflasi per 30 April 3,4%, dari yang diasumsikan 3,5%.
Menurut Sri Mulyani lebih jauh, dari angka asumsi makro tersebut hanya tingkat inflasi dan SPN yang masih di bawah target asumsi. Inflasi per 30 April 3,4%, dari yang diasumsikan 3,5%.

Lebih jauh tak tercapainya target dalam asumsi makro memang banyak dipengaruhi kondisi global. Menurut Sri Mulyani, hal ini diakibatkan perubahan kebijakan di negara-negara maju seperti AS baik itu sektor moneter, maupun fiskal.

"Di China juga yang menimbulkan sentimen eskalasi ketegangan hubungan dagang antara AS dan negara lain, dan prospek fiskal AS dengan adanya penurunan suku bunga dan ekspansi fiskal di AS," tutur Sri Mulyani.

"Arus modal juga keluar dari banyak negara berkembang dipicu US treasury bond 10 tahun mencapai angka 3%," tambahnya.

(dru/dru)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading