Harga Emas Stagnan di Tengah Isu Perang Dagang

Market - Raditya Hanung, CNBC Indonesia
09 April 2018 10:47
Harga Emas Stagnan di Tengah Isu Perang Dagang
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas COMEX kontrak pengiriman Juni 2018 bergerak stagnan, dengan menguat tipis 0,02% ke US$1.336,40/troy ounce, hingga pukul 09.52 WIB hari ini. Kekhawatiran akan perang dagang nampaknya masih menyokong harga sang logam mulia.

Harga Emas Stagnan Perang Dagang yang Masih MenghantuiFoto: CNBC Indonesia/Raditya Hanung

Selama sepekan lalu, harga emas sudah mencatatkan kenaikan sebesar 0,69%. Saat perekonomian menjadi tidak kondusif akibat perang dagang, investor memang cenderung memburu instrumen safe haven seperti emas dan Yen Jepang. Mata uang Negeri Sakura juga menguat hingga 0,61% tehadap dolar AS selama sepekan lalu.

Investor juga masih memonitor perkembangan perang dagang, dimana Xi Jinping akan berpidato pada Boao Forum for Asia, pada hari Selasa waktu setempat. Ajang itu akan menjadi kesempatan pertama bagi presiden Negeri Tirai Bambu tersebut untuk "memukul balik" kebijakan tarif impor Amerika Serikat (AS), secara personal.


Dari pihak AS, Presiden AS Donald Trump dalam cuitannya di Twitter menyebutkan China akan menghapuskan hambatan perdagangan (trade barriers) dan lebih menghormati hak atas kekayaan intelektual. "China akan menghapuskan trade barriers mereka, karena itu hal yang benar. Pajak akan bersifat resiprokal dan akan ada kesepakatan mengenai hak kekayaan intelektual," tulis Trump.

Eks taipan properti tersebut juga memuji sosok Presiden China, Xi Jinping. Trump menyebut Xi sebagai sahabatnya. "Presiden Xi dan saya selalu akan menjadi sahabat, apapun yang terjadi dengan perselisihan di perdagangan. Masa depan akan cerah bagi kedua negara!" tulis Trump.

Cuitan Trump tersebut membawa optimisme di pasar bahwa para pemimpin di AS dan China masih berupaya untuk menghindari perang dagang. Penguatan harga emas pun cenderung terbatas.

Sebelumnya, pada pukul 07.00 WIB pagi ini, harga emas COMEX kontrak pengiriman Juni 2018 sempat sedikit melemah sebesar 0,08% ke US$1,334,90/troy ounce. Hal tersebut dipicu oleh indeks dolar AS, yang mengukur posisi dolar AS terhadap 6 mata uang utama dunia, menguat 0,1% ke 90,185.

Penguatan dolar AS dipicu oleh The Fed yang kemungkinan akan lebih agresif dalam menaikkan suku bunga acuan dalam rangka mengendalikan inflasi, seperti dikatakan Gubernur The Fed Jerome Powell.

Hal itu kemudian diperkuat oleh pernyataan Presiden Federal Reserve Chicago Charles Evans, salah satu anggota Dewan Gubernur yang dikenal paling dovish, yang optimis inflasi AS akan mencapai target 2% sehingga cocok dengan kenaikan suku bunga secara bertahap.

"Kebijakan fiskal telah jauh lebih suportif terhadap pertumbuhan ekonomi. Oleh karena itu, kebutuhan akan kebijakan moneter yang akomodatif lebih sedikit dibandingkan sebelumnya. Kenaikan suku bunga yang bertahap dan perlahan akan sesuai agar kita dapat menuju situasi di mana kebijakan moneter tidak lagi menyediakan dorongan bagi ekonomi," tegas Evans, seperti dikutip dari Reuters.

Dari sisi geopolitik, pejabat resmi AS melaporkan bahwa Korea Utara telah siap untuk mendiskusikan denuklirisasi di Semenanjung Korea, saat pemimpin Korea Utara Kim Jong Un bertemu dengan Presiden AS Donald Trump. Hal itu lantas mendorong penguatan dolar AS pada awal pagi ini. (hps/hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading