Rekor IHSG Abaikan Peristiwa Selasar Ambruk

Market - Monica Wareza & Shuliya Ratanavara, CNBC Indonesia
17 January 2018 06:46
IHSGG cetak rekor baru dengan menguat 0,74% ke level 6.429,69 poin, tertinggi sepanjang sejarah.
  • Kepastian terhadap penyebab runtuhnya selasar tower II gedung BEI masih menunggu hasil penyidikan polisi
  • Pelaku pasar saham tak memperhitungkan peristiwa tersebut sebagai faktor yang mempengaruhi fundamental

Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar saham domestik sama sekali tak terpengaruh dengan tragedi Mezanin lantai I Tower II gedung Bursa Efek Indonesia yang ambruk. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada penutupan perdagangan kemarin mencetak rekor baru dengan menguat 0,74% ke level 6.429,69 poin, tertinggi sepanjang sejarah.

Investor asing pun tak terlalu takut bertransaksi di pasar saham. Itu tampak dari beli besih yang dibukukan investor asing yang nilainya mencapai Investor asing kembali mencatatkan beli bersih sebesar Rp 118,68 miliar.

Sementara upaya untuk mengembalikan kepercayaan terhadap Gedung Bursa laik pakai terus dilakukan oleh manajemen Bursa Efek Indonesia (BEI), pengelola gedung, dan pihak-pihak terkait lainya.


Direktur Penilaian Perusahaan BEI Samsul Hidayat menyampaikan bahwa pengelola gedung menyatakan struktur utama dua tower tidak bermasalah. 

"Main structure tidak ada masalah, yang bermasalah itu secondary structure-nya," kata Samsul.

Pihak pengelola gedung, Chusman and Wakefield Indonesia, kata Samsul, sudah memberikan surat izin ke BEI untuk mengunakan area tertentu gedung untuk aktivitas atau kegiatan pasar modal.

Area-area yang dimaksud ialah area di sekitar lobby utama dan juga area di Tower I BEI. Sementara akses menuju Tower II BEI masih dibatasi. "Semua yang masuk tower II harus dengan persetujuan dan pengawalan pihak pengelola gedung," jelas Samsul.

Sementara itu, penyebab robohnya lantai mezanin gedung BEI masih dalam proses pemeriksaan oleh kepolisian. Pengamat sekaligus Senior Associate Director Colliers Indonesia Bagus Adikusumo juga mengatakan kejadian ini juga menarik perhatian para ahli konstruksi untuk turut menyelidiki penyebab dari robohnya lantai mezanin BEI tersebut.

Menurutnya, robohnya bangunan tersebut di luar perkiraan sebab gedung BEI merupakan gedung dengan grade A dan sudah lama dipergunakan.

Lebih lanjut, ia menjelaskan pasca kejadian tersebut para tenant pasti akan melakukan audit terhadap aspek-aspek health, safety, and environment (HSE) gedung BEI. "Begitu pula dengan sistem keamanan, apakah gedung BEI masih layak dan aman untuk digunakan," jelas Budi kepada CNBC Indonesia, Selasa (16/01).

Meski demikian, menurut Bagus, perisitiwa ini tidak akan mempengaruhi prospek Gedung BEI secara bisnis di mata tenant. Hal ini disebabkan pihak pengelola yang dapat menangani musibah ini dengan baik.

Ahli konstruksi bangunan menyarankan agar semua lantai mezanin yang lain di area Gedung Bursa Efek Indonesia diperiksa untuk mencegah kejadian serupa. Sterilisasi juga perlu dilakukan pada lantai mezanin tower I dan diperiksa struktur bangunannya agar aman digunakan.

Ahli konstruksi dari Universitas Indonesia Josia Irwan mengatakan langkah tersebut atas rekomendasi dari tim ahli konstruksi yang diminta untuk meneliti kasus tersebut untuk mencegah kejadian serupa. 

“Jadi memang saat ini kita rekomendasikan untuk struktur sejenis agar dilakukan penelitian terlebih dahulu. Oleh karena itu untuk struktur yang sejenis (di Tower I) diberi police line agar tidak dilewati terlebih dahulu,” jelasnya kepada CNBC Indonesia

Sementara itu, ia menjelaskan sampai saat ini penyebab robohnya konstruksi koridor BEI belum bisa dipastikan. Namun, menurut Josia, dari hasil pengamatan bisa dikatakan kalau salah satu penyebab kejadian tersebut putusnya salah satu tiang penggantung koridor akibat kelebihan beban.

Adapun struktur koridor Tower II BEI yang roboh berbentuk jembatan yang digantungkan tiga kabel baja pada struktur beton lantai di atasnya. Menurut Josia, putusnya salah satu kabel baja tersebut memberikan efek domino ke kabel baja di sebelahnya sehingga menyebabkan kabel baja tersebut juga kelebihan beban dan putus.

Meski demikian, ia belum bisa memastikan apakah putusnya kabel baja tersebut murni karena kelebihan beban. Sebab struktur koridor ini bukan struktur bangunan tambahan, tetapi sudah turut direncanakan dalam pembangunan Gedung BEI.

“Itu yang sedang kami selidiki kenapa joint-nya ini yang bisa kelebihan beban, kita belum bisa mulai karena sekarang masih menunggu hasil laporan pusat laboratorium forensik dari kepolisian,” kata Josia.

Sementara, terkait audit bangunan Josia menjelaskan tidak ada aturan khusus yang mengatur periodesasi audit gedung-gedung perkantoran. Namun, yang jelas setiap gedung wajib melakukan audit tiap kali akan membuat Sertifikat Layak Fungsi (SLF) sebelum gedung dapat dipergunakan. Ia menjelaskan SLF memiliki masa berlaku lima tahun.

Direktur Cushman and Wakefield Indonesia Farida Riyadi, selaku pihak pengelola gedung, menyampaikan hal-hal yang menyebabkan selasar ambruk, yaitu sebagai berikut.
  • Struktur yang mengalami kegagalan yaitu struktur sekunder dan bukan struktur utama gedung
  • Kegagalan itu dimulai dari kelebihan beban rantai lantai independen
  • Tower 1 dan tower 2 terpisah tapi disarankan dilakukan assestment juga
  • Struktur sekunder tipikal tersebut disarankan untuk tidak difungsikan
  • Karena kegagalan sekunder tidak pengaruh ke struktur utama gedung, dua tower konstruksi aman.
Gedung BEI seluas 25.280 meter persegi merupakan milik PT Danayasa Arthatama Tbk (SCBD). Namun, manajemen pembangunan dilakukan oleh PT First Jakarta Internasional seperti dikutip dari situs resmi SCBD. Gedung BEI Tower I selesai pada 1995 sementara gedung Tower II baru mulai beroperasi pada 1998.
(hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading