Genjot Wisata, Jepang Beri Diskon Rp 2,7 Juta/Hari Buat Turis

Lifestyle - Lynda Hasibuan, CNBC Indonesia
02 June 2020 14:23
Wisata Jepang
Jakarta, CNBC Indonesia - Jepang mulai berbenah untuk membereskan industri pariwisatanya yang hancur lebih akibat pandemi beberapa bulan ini.

Pemerintah Jepang menyiapkan paket untuk mendukung sektor ini berupa potongan harga dan insentif agar turis kembali berdatangan ke negeri sakura. Meskipun, kebijakan ini masih diragukan bisa menguntungkan para pelaku UKM di sektor ini atau apakah masih ada orang yang mau jalan-jalan dalam keadaan begini.

Program ini dinamakan Go To Travel, yang masih disusun dan direncanakan untuk dikampanyekan. Paket program ini berupa subsidi hingga US$ 20 ribu yen atau setara Rp 2,7 juta per hari ditujukan untuk turis-turis yang ingin berwisata ke Jepang.


Subsidi atau insentif ini diberikan berupa diskon atau voucher untuk hotel, restoran, transportasi, dan objek wisata tapi hanya untuk turis dosmetik.

Nah, kampanye ini sempat bikin heboh karena dinilai berlaku juga buat turis asing dan menjadi polemik di negeri tersebut.




"Kampanye Go To Travel yang sedang dipertimbangkan oleh pemerintah Jepang adalah untuk merangsang permintaan wisata domestik di Jepang setelah pandemi Covid-19 dan hanya mencakup sebagian dari biaya perjalanan domestik," kata Badan Pariwisata Jepang di Twitter pada 27 Mei lalu, mengutip SCMP.


Untuk menerima subsidi, pelancong harus menggunakan agen perjalanan domestik atau menginap di hotel dan ryokan lokal, semacam penginapan Jepang. Pemerintah Jepang mengatakan program ini kemungkinan akan dimulai pada bulan Juli.

Naomi Mano, presiden dan CEO agensi perjalanan butik Luxurique, mengatakan bantuan ini diapresasi pelaku industri. Namun, mereka masih bingung bagaimana penerapannya nanti dan siapa target pemerintah.

"Setiap kebijakan yang membuka pintu agar orang mau jalan-jalan lagi merupakan perkembangan positif. Tapi masih banyak pertanyaan di balik program ini, soal pendanaan dan siapa yang diberikan diskon," jelas Mano.

Dia menuturkan, keluarga dengan anak-anak tidak mungkin mengambil liburan tahun ini karena ketidakpastian pekerjaan membebani pikiran orang tua. Anak-anak muda juga memiliki kekhawatiran yang sama tetapi mungkin mereka memilih lokasi akhir pekan yang relatif dekat dengan rumah.

Itu menjadikan demografis yang lebih tua sebagai satu-satunya kelompok yang mungkin bersedia menerima tawaran pemerintah meskipun kelompok ini mungkin memiliki keprihatinan terhadap masalah kesehatan.

[Gambas:Video CNBC]




(gus)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading