Media Asing Soroti #IndonesiaTerserah & Fenomena PSBB RI

Lifestyle - Redaksi CNBC Indonesia, CNBC Indonesia
19 May 2020 11:51
Warga memadati kawasan pedagang kaki lima di Pasar Tanah Abang saat penerapan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di Jakarta, Senin (18/5/2020). Meski pertokoan di Pasar Tanah Abang tutup karena PSBB, menjelang hari lebaran kawasan tersebut dipadati pedagang kaki lima yang berada di gang-gang dekat pasar. CNBC Indonesia/Tri Susilo.   


Memasuki H-7 lebaran Idul Fitri, Pasar Tanah Abang kembali ramai dipadati masyarakat meskipun pemerintah Provinsi DKI Jakarta masih menutup pasar tersebut sejak 27 Maret karena diberlakukanPembatasan Sosial Bersekala Besar (PSBB) untuk mengatasi penyebaran Covid-19.

Keramaian terlihat disejumlah titik seperti sebrang Blok F dan depan stasiun Tanah Abang, jalanan tersebut dipadati pedagang kaki lima dan warga tanpa mematuhi peraturan jaga jarak sesuai dengan himbauan pemerintah.
Para pedagang nekat turun kepinggir jalan karena sejak kios mereka ditutup, para pedagang tidak mendapatkan penghasilan, padahal biasanya menjelang lebaran mereka bisa meraup untung besar. (CNBC Indonesia/Tri Susilo.)
Jakarta, CNBC Indonesia- Media asing South China Morning Post (SCMP) menyoroti prilaku warga Indonesia yang dinilai melanggar pembatasan sosial dan juga tagar #Indonesiaterserah yang ramai di sosial media.

SCMP mengulas kasus di sebuah desa di Jawa Timur di mana 15 warga terinfeksi corona karena 'bandel' membuka peti jenazah pasien positif covid-19 dan memandikannya. Media ini juga menyoroti bagaimana Bandara Soekarno-Hatta dipadati penumpang pada beberapa hari lalu begitu larangan terbang dicabut.

Tak cuma itu, kelakuan warga Jawa Barat positif corona tapi tak mau diobati dan ngamuk dengan memeluk orang-orang sekitar juga ditulis oleh SCMP.


Media ini pun menekankan betapa berat sekali tantangan pemerintah untuk hadapi wabah ini, apalagi dengan 270 juta penduduk dan 17 ribu pulau yang tersebar. Dengan korban jiwa menyentuh 1191 orang, seakan-akan warga tak peduli dengan aturan pembatasan sosial yang digencarkan pemerintah.



SCMP juga mewawancara beberapa pakar soal fenomena ketidakdisiplinan warga ini.

"Kita harus akui bahwa kita bagus dalam menyusun kebijakan tapi tidak di pengawasaan dan koordinasi penerapan, atau mengevaluasi hasilnya," ujar peneliti CSIS Muhammad Habib Abiyan Dzakwan dalam wawancara dengan SCMP yang dimuat Selasa, (19/5/2020).

Ia meyakini Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) hanya bagus di atas kertas, tapi tidak yakin bisa efektif di kapangan.

"Saya sendiri menyaksikan banyak orang keluar tanpa pakai masker, dan di Ramadan ini orang-orang ramai penuhi jalanan membeli takjil dan cuek dengan regulasi," lanjutnya.

Pakar epidemiologi Pandu Riono dari Universitas Indonesia juga ikut berkomentar dengan mengatakan sulit menahan orang keluar rumah, terutama di momen jelang Idul Fitri seperti ini yang budayanya memang membuat orang-orang beraktivitas keluar rumah.

"Kecuali ulama turun tangan pekan ini dan meminta warga untuk tidak berkunjung kemana-mana, baik ke kerabat, keluarga, dan lainnya. Gunakan sosial media, zoom, atau skype," ujar Pandu yang mengaku telah bertemu MUI untuk membahas ini.

Jika tidak dikendalikan, Pandu memperkirakan infeksi baru akan 'meledak' usai Idul Fitri. Ia menghitung sekitar 140 ribu orang terancam kematian dan 1,5 juta kasus baru menghantui Indonesia jika ini tidak dikencangkan.

"Saya berharap ini tidak terjadi."

Melihat fenomena orang Indonesia yang sudah memenuhi jalanan dan bandara lagi, media ini juga menangkap aksi para tenaga medis dalam negeri di sosial media yang kecewa dengan prilaku warga.

SCMP menulis bahwa terdapat tagar #Indonesiaterserah yang dilancarkan oleh para pejuang di garda terdepan usai melihat kelakuan warga.



[Gambas:Video CNBC]




(gus)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading