Banyak Jomblo Picu Resesi Seks, Apa Efeknya ke Ekonomi?

Lifestyle - Rehia Sebayang, CNBC Indonesia
16 December 2019 13:17
Di Sewdia, AS, Jepang dan Korsel banyak penduduk memilih menjadi jomblo. Alhasil konsumsi menurun dan populasi terganggu
Jakarta, CNBC Indonesia - Status jomblo alias tidak memiliki pacar atau pasangan, bisa jadi merupakan salah satu hal yang membuat galau hingga pusing kebanyakan remaja di Indonesia. Ini dikarenakan para jomblo biasanya dijadikan bahan ejekan oleh teman-temannya.

Namun, di beberapa negara maju, para jomblo cenderung tidak memusingkan keadaan mereka. Banyaknya status warga yang jomblo justru malah membuat pemerintah negara-negara maju itu yang pusing tujuh keliling.


Pasalnya, tingginya tingkat jomblo di negara-negara itu bisa mengancam kelangsungan ekonominya. Beberapa negara yang dipusingkan oleh tingginya tingkat kejombloan di antaranya adalah Swedia, Amerika Serikat (AS), Jepang, hingga Korea Selatan.


Di Swedia, tingginya angka jomblo tidak lepas dari prinsip dan budaya negara tersebut yang sangat menghargai kemandirian. Warga Swedia bahkan sudah terkenal memiliki sikap dingin dan tidak suka bergaul.

Mereka juga sangat menghargai privasi orang, bahkan mengobrol saja jarang dilakukan. Oleh karenanya, tidak mengherankan jika negara Eropa Utara ini dinobatkan sebagai negara dengan angka jomblo tertinggi di Eropa.

Sementara di Jepang dan AS, warga negaranya sama-sama memiliki masalah dalam menjalin hubungan dan berhubungan seks. Milenial atau orang muda di kedua negara ini cenderung memiliki penurunan minat dalam berhubungan seks alias 'resesi' seks.

Dampak dari hal ini bisa sampai membuat ekonomi melambat, sebagaimana diungkapkan analis politik dan ekonomi Jake Novak dalam penelitiannya yang dimuat CNBC International beberapa waktu lalu.

Dalam analisisnya, Jake mengatakan resesi seks dan menurunnya pernikahan mengindikasikan bahwa kaum milenial juga akan menunda aspek-aspek kedewasaan lainnya seperti membeli rumah atau mobil, yang mana akan menyumbang perlambatan ekonomi.

"Ini menjadi hal serius yang menyebar ke sejumlah sektor bisnis mulai dari real estate, pakaian hingga kontrasepsi dan berujung pada menurunnya Produk Domestik Bruto (PDB)," tulis Jake.

Dalam ekonomi, resesi berarti kontraksi pertumbuhan ekonomi dalam dua kuartal beruntun.


Selain itu, dampak lain yang bisa ditimbulkan masalah banyaknya jomblo dan resesi seks ini di antaranya yaitu ancaman penurunan jumlah populasi hingga semakin panjangnya waktu pensiun pekerja.

Sementara di Korea Selatan, kemunculan kelompok feminis radikal nasional bernama '4B 'atau 'Four Nos' juga mengancam ekonomi dan populasi negeri K-Pop itu. Hal ini karena kelompok itu melandaskan kehidupannya pada prinsip 'no dating, no sex, no marriage, and no child-rearing' atau tidak berkencan, tidak melakukan seks, tidak menikah, dan tidak mengasuh anak.

Menurut laporan, satu dekade lalu, hampir 47% wanita Korea yang lajang dan belum menikah mengatakan bahwa mereka menganggap pernikahan itu perlu. Namun tahun lalu, jumlahnya turun menjadi 22,4%.

Sementara itu, jumlah pasangan yang menikah merosot menjadi 257.600 pasangan saja, turun dari 434.900 pernikahan pada tahun 1996. Akibat hal ini, Korea Selatan terancam menghadapi bencana demografis yang membumbung tinggi.

Saat ini, tingkat kesuburan total di Korea Selatan turun menjadi 0,98 pada tahun 2018. Persentase ini jauh di bawah 2,1% yang dibutuhkan untuk menjaga populasi tetap stabil.

Tingkat kesuburan merupakan jumlah anak yang seharusnya dimiliki seorang wanita dalam hidupnya. Pemerintah memperkirakan populasi Korsel yang saat ini di angka 55 juta, akan turun menjadi 39 juta pada tahun 2067.

Pada tahun itu, setengah dari populasi negara tersebut akan berusia 62 atau lebih.

[Gambas:Video CNBC]



Artikel Selanjutnya

'Resesi Seks' Ancam Negara-negara Maju Ini


(sef/sef)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading