Kisah Sukses Bos Netflix, Semua Berawal dari Hobi Rental DVD

Lifestyle - Lynda Hasibuan , CNBC Indonesia
09 July 2019 11:51
Kisah Sukses Bos Netflix, Semua Berawal dari Hobi Rental DVD Foto: Netflix CEO Reed Hastings (REUTERS/Steve Marcus)
Jakarta, CNBC Indonesia - Netflix menghadirkan inovasi dan revolusi dalam menikmati konten tayangan. Dibangun oleh Reed Hastings, yang memulai bisnisnya dari gerai rental DVD.

Mengutip Forbes, Hastings kini ada di nomor 504 orang terkaya di dunia dengan harta senilai US$ 3,9 miliar atau setara Rp 55 triliun. Saat ini, Netflix memiliki 139 juta pelanggan di seluruh dunia yang menikmati tontonan film, drama, dan konten original.

Kisah Sukses Bos Netflix, Semua Berawal dari Hobi Rental DVDFoto: REUTERS/Mike Blake





Namun, sebelum meraih kesuksesan tersebut Hastings membangun bisnisnya ini dengan jatuh bangun berkali-kali.

Lahir di Boston, Massachusetts, Amerika Serikat pada 8 Oktober 1960, Hastings menempuh pendidikan sebagai sarjana matematika di Bowdoin College. Jiwanya memang petualang, saat kuliah ia mengelola klub untuk mahasiswa yang hobi memanjat gunung dan bermain kano.

Begitu lulus, ia menyempatkan diri menjadi sukarelawan di Peace Corps untuk mengajar matematika di SMA di Swaziland. Mengutip Business Insider, ia menyatakan pengalamannya ini sebagai kombinasi bertualang dan pengabdian diri ke masyarakat.

Usai menjalani masa pengabdiannya, ia kembali ke Amerika dan mengambil kuliah S2 di bidang artificial intelligence di Stanford.

Langkahnya terjun ke dunia bisnis mulai pada 1991 saat ia mendirikan Pure Software, yang menjual perangkat debugging bagi para teknisi komputer. Pendapatan perusahaannya ini naik berkali lipat setiap tahun, membuatnya naik pangkat menjadi CEO di perusahaan tersebut.

Lalu, pada 1995 Pure Software jadi perusahaan terbuka hingga akhirnya diakuisisi oleh Rational Software. Hastings meraup US$ 750 juta dari akuisisi tersebut.

Kisah Sukses Bos Netflix, Semua Berawal dari Hobi Rental DVDFoto: Netflix CEO Reed Hastings (REUTERS/Kim Hong-Ji)


Uang yang ia petik dari keberhasilannya itu dijadikan modal mendirikan Netflix pada 1997, bisnis ini bisa dibilang ia gagas karena pengalamannya sebagai pelanggan setia sewa DVD di blockbuster dan kena denda hingga US$ 40 karena telat kembalikan piringan yang ia pinjam.

Konsep Netflix saat itu adalah menjual dan menyewakan DVD dengan sistem digital dan keanggotaan untuk jadi pelanggan. Hingga akhirnya ia memiliki ratusan ribu pelanggan, dan mencoba menawarkan perusahaannya pada Blockbuster di tahun 2000 namun ditolak.

Lima tahun kemudian, Netflix justru tumbuh makin besar dengan 4,5 juta pelanggan. Mulai 2007, mereka membuat Netflix menjadi layanan streaming berbasin online dan memiliki 16 juta pelanggan di 2010.

Jalan Netflix meraup jutaan pelanggan bukan tanpa keringat, perusahaan ini menjadi perusahaan terbuka pada 2002 dan sahamnya bisa dibilang naik turun selama itu.

Hastings dan tim akhirnya memberanikan diri memproduksi konten original mereka dan menayangkannya secara eksklusif di Netflix pada 2013, dimulai dengan serial politik House of Cards yang sukses besar dan mendapat setumpuk penghargaan di Emmy Awards. Dari situ, Netflix terus kembangkan dan produksi konten original yang digilai publik.

Pada Agustus 2015, saham Netflix melonjak ke posisi tertinggi sepanjang masa dengan saham naik 9925% atau hampir 10.000% di atas harga IPO pada 2002. Selanjutnya, kita semua sudah tahu di mana Netflix kini berada.

Seperti jargonnya, kini Hastings tinggal menikmati jerih payahnya dengan menyibukkan diri di kegiatan filantropi. Sisanya, tinggal Netflix and Chill!

Simak video tentang Netflix di bawah ini:

[Gambas:Video CNBC] (gus)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading