Perjuangan Sopir Grab Perempuan Biayai Pengobatan Kanker Anak

Lifestyle - Donald Banjarnahor, CNBC Indonesia
24 December 2018 - 11:59
Perjuangan Sopir Grab Perempuan Biayai Pengobatan Kanker Anak
Jakarta, CNBC Indonesia - Menjadi sopir taksi online bukanlah pilihan pekerjaan utama bagi perempuan. Namun, pekerjaan ini tetap dipilih Saami yang sudah dua tahun melintas aspal untuk mencari rezeki.

Sebagai orang tua tunggal, perempuan 37 tahun ini memang tidak punya banyak pilihan untuk mendapatkan penghasilan. Namun, sedikit banyak penghasilan yang dia bawa pulang setiap hari sebagai sopir Grab Car, tetap menjadi andalan untuk biaya untuk hidup sehari-hari dan kedua anaknya.

Apalagi salah satu buah hatinya, mengidap penyakit yang cukup berat, kanker kelenjar getah bening. Tentu tidak sedikit biaya yang diperlukan untuk mengobati sang anak.


Dikutip dari CNN Indonesia, hidup Saami cukup berat meskipun dia telah berusaha maksimal dan bekerja keras. Kerap dia bekerja tak kenal waktu hingga larut malam. Lelah pun menjadi langganan bagi tubuhnya, namun pekerjaan sopir Grab Car mengharuskan dia tetap ramah dan komunikatif.

Jika beruntung, dia bakal mendapatkan penumpang yang sopan dan baik hati. Namun kadang kala, keramahannya juga disalahartikan. Ada beberapa penumpang yang melontarkan ucapan tak sopan kepadanya.

"Kalau ada customer yang laki-laki kadang ada juga yang agak nakal," ujar Saami saat ditemui di acara Grab Carnaval di Gambir Expo, Jakarta Utara, Sabtu (22/12).

"Kadang-kadang customer itu ngobrol gitu kan. Tapi lama-lama ada juga yang kadang ngbrolnya jadi ngelantur. Suka goda-godain."

Pengemudi yang juga sekarang ini merupakan moderator Sahabat Grab Jakarta Barat 1, sering mendapati kesulitan sebagai pengemudi perempuan lantaran merasa terancam oleh kelakuan nakal beberapa penumpang laki-laki.

Dia mengungkapkan ada juga penumpang yang menggoda dan mengajaknya untuk bertemu. ia mengaku selalu menolak baik-baik dengan alasan bekerja.

Ketakutan 
Saami juga mengaku merasa khawatir kalau ada penumpang laki-laki lebih dari satu orang yang datang di malam hari dan di daerah yang dirasanya rawan atau tidak aman.

Untuk mengakalinya, dia tak ragu untuk menolak order penumpang. "Saya cancel. Tapi kalau masih daerah ramai kadang saya bawa walaupun masih dag, dig, dug," ungkapnya.

Selain kesulitan menghadapi penumpang laki-laki, Saami juga punya ketakutan tersendiri ketika menghadapi masalah dengan kendaraannya. Ia tidak tahu cara memperbaiki kendaraan jika ditemui kendala di jalan, salah satunya mengganti ban.

"Satu yang saya enggak bisa ganti ban. Kalau ada apa-apa di jalan gitu. Itu kendalanya," kata dia. "Biasanya saya kirim informasi ke grup. Jadi ditolong kawan-kawan," ujar Saami.

Saami pun mengapresiasi Grab Indonesia yang sudah mengerahkan upaya guna melindungi pengemudinya yang perempuan. Salah satunya dengan menyediakan CCTV dan panic button di mobil pengemudi.

Hal ini menurutnya sangat membantu pengemudi yang merasa berada di situasi tidak aman untuk diinformasikan ke server Grab. "Bisa langsung terhubung ke server," katanya.

Selain itu, Saami menyampaikan dirinya merasa sangat terbantu dengan penghasilan yang ia dapat dari mengemudi taksi online. Ia mengatakan penghasilannya cukup untuk membantunya membayar pengobatan anaknya yang mengidap kanker.

Ia pun tetap ingin menyalurkan aspirasinya kepada Grab Indonesia untuk bisa menyediakan asuransi bukan hanya untuk mitra pengemudi namun juga untuk keluarganya.

Hal ini karena kata Saami, dirinya yang merupakan single mom dan memiliki dua orang anak di rumah sewaktu-waktu bisa saja terancam bahaya baik itu untuk dirinya maupun anak-anaknya.

"Jangan hanya untuk mitranya tapi juga untuk anggota keluarganya," ujarnya.


(dob/dob)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading