InvesTime

Ngebet Borong Saham BUMI-ADRO cs? Waspada 3 Sentimen Ini

Investment - Emir Yanwardhana, CNBC Indonesia
19 August 2021 10:30
Aktivitas bongkar muat batubara di Terminal  Tanjung Priok TO 1, Jakarta Utara, Senin (19/10/2020). Dalam satu kali bongkar muat ada 7300 ton  yang di angkut dari kapal tongkang yang berasal dari Sungai Puting, Banjarmasin, Kalimantan. (CNBC Indonesia/Tri Susilo)  

Aktivitas dalam negeri di Pelabuhan Tanjung Priok terus berjalan meskipun pemerintan telah mengeluarkan aturan Pembatasan Sosial Bersekala Besar (PSBB) transisi secara ketat di DKI Jakarta untuk mempercepat penanganan wabah virus Covid-19. 

Pantauan CNBC Indonesia ada sekitar 55 truk yang hilir mudik mengangkut batubara ini dari kapal tongkang. 

Batubara yang diangkut truk akan dikirim ke berbagai daerah terutama ke Gunung Putri, Bogor. 

Ada 20 pekerja yang melakukan bongkar muat dan pengerjaannya selama 35 jam untuk memindahkan batubara ke truk. (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Kendati harga batu bara dunia saat ini berada di level tinggi, tapi sektor tambang batu bara masih dibayangi sejumlah sentimen yang berpotensi menekan saham-saham emiten sektor tambang ini di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Setidaknya ada tiga sentimen yang berkelindan terkait dengan isu lingkungan. Pertama, beberapa negara memang sudah berkomitmen mengurangi pemakaian Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) karena memiliki tingkat karbon tinggi, termasuk di Indonesia.

Pemerintah Indonesia juga sudah berkomitmen akan menutup beberapa PLTU, dan tidak akan membangun PLTU baru untuk ke depannya.


Kedua, dorongan adanya green energy yang memicu desakan agar perbankan global membatasi eksposur kredit ke perusahaan batu bara.

Ketiga, terkait dengan pasokan dan terbatasnya pendapatan ekspor. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) baru-baru ini memutuskan 34 perusahaan dilarang mengekspor batu bara karena tidak memenuhi kewajiban pasokan batu bara sesuai kontrak penjualan dengan PT PLN (Persero).

Dengan sentimen ini, apakah saham batu bara masih 'seksi' di masa depan?

Menurut Presiden Direktur PT Maybank Kim Eng Sekuritas, Wilianto Ie, memang ada kecenderungan dunia akan mengurangi pembangkit listrik yang berbasis batu bara, karena isu lingkungan.

Tapi yang perlu diingat, batu bara itu sumber energi yang mudah dan Indonesia kaya akan sumber daya ini.

Walaupun komitmen pemerintah tidak akan membangun PLTU batu bara lagi, tapi menurut Willianto sampai saat ini outlook permintaan batu bara masih tinggi untuk dalam negeri seiring dengan masih adanya PLTU yang tengah dibangun.

"Walaupun ada PLTU yang akan dipensiunkan atau komitmen tidak membangun lagi, tapi sampai saat ini masih banyak PLTU yang sedang dibangun dan berproduksi beberapa tahun ke depan ini membuat permintaan batu bara tinggi di dalam negeri," jelasnya dalam Investime CNBC Indonesia, Selasa (10/9/2021).

Dia mengakui, outlook pertumbuhan batu bara tidak akan semenarik tahun-tahun sebelumnya, karena tekanan isu lingkungan.

Tapi menurut dia, sumber energi dari PLTU batu bara tidak bisa dihilangkan begitu saja, karena road map dan rencana pengembangan PT PLN (Persero) dalam 5-10 tahun ke depan di mana energi yang dihasilkan dari PLTU batu bara hanya sepertiga dari sumber energi yang ada di Indonesia.

"Demand yang ada memang tidak akan secepat pertumbuhan seperti dulu. Tapi ini masih menjadi pilihan negara berkembang yang belum mampu ke Energi Baru Terbarukan (EBT) seluruhnya. Jadi batu bara ini hanya sunset, ketika EBT itu sudah sangat murah end to end dan batu bara tidak lagi ekonomis," jelasnya.

"Jadi isunya antara lingkungan dan isu kantong kemampuan daya beli untuk berpindah ke EBT. Dan itu masih lama sekali," tambahnya.

Menurutnya, dengan peningkatan harga batu bara yang ditopang permintaan tinggi beberapa tahun ke depan, prospek batu bara masih relevan.

Terlebih saat ini ada tren peningkatan harga yang tinggi, sehingga prospek perusahaan batu bara masih belum terlalu berubah banyak, walaupun tekanannya juga banyak.

Saat ini, emiten tambang batu bara memang menjadi salah satu pilihan investor pasar modal yang ingin mencari cuan di BEI.

Tercatat beberapa saham sektor ini seringkali masuk dalam top gainers pasar saham dalam negeri, sebut saja PT Adaro Energy Tbk (ADRO), PT Bukit Asam Tbk (PTBA), PT Harum Energy Tbk (HRUM) hingga PT Bumi Resources Tbk (BUMI), dan PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG).

Sementara itu, Senin pekan lalu (9/8), harga baru bara di pasar ICE Newcastle (Australia) tercatat US$ 161,3/ton, melesat 4,05% dari akhir pekan sebelumnya.

Sementara itu, pada perdagangan Rabu pekan lalu (11/9), harga batu bara di pasar ICE New Castle tercatat US$ 163,8/ton, melonjak 1,38% sekaligus menyentuh rekor tertinggi setidaknya sejak 2008.

Sebelumnya, Staf Khusus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bidang Tata Kelola Minerba Irwandy Arif mengatakan beberapa bank di dunia juga sudah tidak lagi mau mendanai pembangkit listrik batu bara atau proyek lain yang berhubungan dengan batu bara.

"Negara maju China dan AS akan hapus pembangkit fosil mulai tahun 2030 bertahap. Kemudian untuk finansial, keadaan financial industri batu bara beberapa bank gak lagi danai," paparnya dalam Webinar: Masa Depan Batu bara dalam Bauran Energi Nasional, Senin malam, (27/07/2021).

Irwandy menjabarkan beberapa bank yang sudah tidak mau mendanai pembangkit fosil di antaranya Bank-bank di Korea Selatan, Jepang, dan Singapura. Asian Development Bank (ADB), Malayan Banking Berhad (Maybank), dan Internasional Finance Corporation (IFC).

"Kalau kita lihat kembali, bahwa beberapa bank sudah kurangi memberikan finansial pada fosil fuel," jelasnya.


[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading