Industri Batu Bara Terpuruk, Bank Ogah Kasih Utangan

News - Anisatul Umah, CNBC Indonesia
27 July 2021 10:46
Labourers load coal on trucks at Bari Brahamina in Jammu May 20, 2010. REUTERS/Mukesh Gupta/Files

Jakarta, CNBC Indonesia - Dunia mulai meninggalkan pemakaian energi fosil salah satunya batubara untuk pembangkit. Negara-negara maju seperti China dan Amerika akan membatasi dan menghapus penggunaan batu bara sebagai pembangkit secara bertahap mulai tahun 2030 mendatang.

Staf Khusus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bidang Tata Kelola Minerba Irwandy Arif mengatakan beberapa bank di dunia juga sudah tidak lagi mau mendanai pembangkit listrik batu bara atau proyek lain yang berhubungan dengan batu bara.

"Negara maju China dan AS akan hapus pembangkit fosil mulai tahun 2030 bertahap. Kemudian untuk finansial, keadaan financial industri batu bara beberapa bank gak lagi danai," paparnya dalam Webinar: Masa Depan Batubara dalam Bauran Energi Nasional, Senin malam, (27/07/2021).

Irwandy menjabarkan beberapa bank yang sudah tidak mau mendanai pembangkit fosil di antaranya Bank-bank di Korea Selatan, Jepang, dan Singapura. Asian Development Bank (ADB), Malayan Banking Berhad (Maybank), dan Internasional Finance Corporation (IFC).

"Kalau kita lihat kembali, bahwa beberapa bank sudah kurangi memberikan finansial pada fosil fuel," jelasnya.

Bahkan Credit Mutuel bank dari Perancis sudah mengurangi investasi untuk fosil fuel sampai 100% dari US$ 19 miliar di tahun 2016 menjadi nol pada tahun 2020. Beberapa bank lain yang sudah mulai mengurangi pendanaan di antaranya UBS, Sberbank, State Bank of India, Intesa Sanpaolo, Deutsche Bank, Credit Suisse, dan lainnya.

"Ini sudah kurangi. Yang nomor satu ini adalah 100% Credit Mutual dari Perancis yang lain masih bertahap pengurangannya," jelasnya.

Sementara itu sampai saat ini sebesar 41% listrik dunia masih dipenuhi dari sumber energi batu bara. Batu bara menjadi energi yang paling terjangkau.

Menurutnya ada tiga hal yang mempengaruhi industri batu bara saat ini. Pertama adalah aspek lingkungan, kedua finansial industri batu bara, dan terakhir adalah transisi menuju Energi Baru Terbarukan (EBT).

"G20 di Italia itu ada 2 poin pokok kesepakatan percepat aksi pengurangan emisi dan mendesak pengembangan strategi jangka panjang untuk dibahas di KTT tahun depan, dalam rangka supaya kita ada upaya pembatasan pemanasan global 1,5 derajat dan net zero," ungkapnya.

Selanjutnya mendorong penerapan teknologi bersih termasuk investasi dan pembiayaan pada sektor energi dengan mempertimbangkan kondisi masing-masing negara dan percepatan transisi ke kendaraan listrik serta mengurangi deforestasi.

"Kedua dorong teknologi bersih G20 pikirkan pada sektor energi dengan pertimbangan masing-masing negara," tuturnya.



[Gambas:Video CNBC]

(dru)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading