Mau Preteli Saham Properti Cek Dulu Cara Ini

Investment - Emir Yanwardhana, CNBC Indonesia
22 February 2021 20:58
citra maja raya Foto: citra maja raya

Jakarta, CNBC Indonesia - Analis membeberkan cara untuk memilah saham properti yang potensial ke depan. Berikut cara yang direkomendasikan Analis Senior Maybank Kim Eng Sekuritas Aurellia Setiabudi.

Seperti yang diketahui, Pemerintah telah merilis relaksasi pembiayaan kredit untuk rumah pertama dan seterusnya dengan down payment 0% serta pencairan dana KPR Inden yang lebih leluasa.

"Semua developer akan menikmati relaksasi ini dengan harapan masyarakat juga kembali berminat membeli properti. Tapi perlu dilihat emitennya, misal PPRO itu perusahaan developer perumahaan yang kecil dibandingkan yang lain, jadi kemungkinan naiknya lebih lambat dibandingkan developer hunian besar lainya," katanya dalam program Investime, Jumat (19/2/2021).


Bicara marketing sales dari emiten di Bursa, Aurelia mengatakan perlu dilihat dari segmen mana yang disasar oleh pengembang. Karena ini berkaitan dengan potensi pendapatan pengembang kedepan dimana saat ini dari beberapa riset kelas menengah atau harga rumah di bawah Rp 300 juta - Rp 1 miliar.

"seperti yang terbesar CTRA sempat menyentuh marketing sales Rp 10 triliun per tahun, walaupun tahun lalu hanya RP 5,5 triliun. Kita pilah lagi properti apa yang akan dijual oleh emiten seperti SMRA, BSDE mereka banyak jual rumah tapak yang lebih difavoritkan dibandingkan apartemen. Penjualan perkantoran masih lesu, jadi kita lihat CTRA dan PWON yang akan pembukuan pertumbuhan paling tinggi di 2021 ini," jelasnya.

Selain dari potensi proyek properti yang akan dijual, Aurelia juga mengusulkan untuk melihat posisi keuangan dari pendapatan berulang. Hal ini guna memberikan kepastian kalau finansial perusahaan bisa lebih stabil jika porsi recurring income lebih besar seperti PWON, SMRA, CTRA, BSDE dan LPKR.

"Mereka bisa mengalami pemulihan pendapatan dari rental tahun ini lebih cepat. Dengan asumsi mobilitas masyarakat berangsur normal dari berjalanya vaksinasi yang mencapai target," tambahnya.

Selain itu, debt to equity ratio atau rasio hutang juga perlu dilihat. Aurelia menjelaskan perusahaan yang sehat itu rasio hutangnya di bawah 50% terhadap equity. Dari catatanya, SMRA masih agak tinggi di 80% tapi perusahaan memiliki pendapatan berulang yang tinggi untuk menyeimbangi level hutang.


[Gambas:Video CNBC]

(dob/dob)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading