Bersiap Hadapi Resesi! Yuk Kenali Investasi Rendah Risiko Ini

Investment - Tri Putra, CNBC Indonesia
10 September 2020 13:42
[THUMB] Resesi

Jakarta, CNBC Indonesia - Suka tidak suka, mau tidak mau, Indonesia kemungkinan bakal mengalami resesi jika pertumbuhan ekonomi di kuartal III-2020 negatif mengingat di kuartal II juga sudah minus.

Pahit memang, tetapi pandemi virus corona (Coronavirus Disease-2019/Covid-19) membuat ekonomi dunia mengkerut, bukan cuma Indonesia.

Definisi resesi sendiri adalah kontraksi ekonomi dalam dua kuartal beruntun pada tahun yang sama.


Pada kuartal I-2020, secara year-on-Year (YoY) ekonomi Indonesia masih bisa tumbuh 2,97%. Namun pada kuartal II-2020, Indonesia sudah tidak bisa menghindar dari kontraksi sebesar 5,32% sehingga apabila pada kuartal ketiga perekonomian Indonesia kembali terkontraksi maka Indonesia secara sah dan meyakinkan jatuh ke jurang resesi.

Bahkan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati kembali mengingatkan akan kontraksi ekonomi di kuartal III-2020. Meski tidak sedalam kuartal II, tapi dinilai masih terus diwaspadai.

"Kontraksi ekonomi Indonesia di tahun 2020 ini di kuartal kedua kemungkinan masih akan berlangsung, dari sisi kuartal ketiga meskipun suasana kuartal ketiga mungkin relatif lebih baik dari kuartal kedua tersebut," ujarnya di Gedung DPR RI, Rabu (9/9/2020).

Dengan kondisi ini, maka outlook ekonomi Indonesia di tahun ini pun direvisi ke bawah. Pertumbuhan ekonomi sebelum Covid diprediksi bisa tumbuh 5,3% dan saat ini menjadi -1,1 sampai 0,2%.

Tidak hanya Menkeu, Menkopolhukam Mahfud MD juga dengan gamblang menyebutkan Indonesia bakal masuk ke jurang resesi ekonomi. Bulan depan, menurut Mahfud resesi terjadi.

"Sementara kehidupan ekonomi turun terus. Bulan depan hampir dapat dipastikan 99,9 persen akan terjadi resesi ekonomi di Indonesia," demikian kata Mahfud.

Rilis data juga masih menunjukkan Indonesia siap terjun ke jurang resesi.

Terbaru, Bank Indonesia (BI) melaporkan, penjualan ritel yang dicerminkan oleh Indeks Penjualan Ritel (IPR) mengalami kontraksi 12,3% pada Juli 2020 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (year-on-year/YoY). Penjualan ritel belum bisa lepas dari kontraksi selama delapan bulan beruntun.

Bahkan pada Agustus 2020, BI memperkirakan penjualan ritel masih turun dengan kontraksi IPR 10,1% YoY. Dengan begitu, rantai kontraksi penjualan ritel kian panjang menjadi sembilan bulan berturut-turut.

Penjualan ritel yang lesu semakin memberi konfirmasi bahwa konsumsi rumah tangga domestik sedang bermasalah. Sebelumnya, sudah ada dua data yang menggambarkan hal itu yakni Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang masih terus di bawah 100 dan deflasi yang terjadi pada Juli-Agustus. Bahkan BI memperkirakan deflasi akan berlanjut pada September.

Nah tentu saja seluruh masyarakat Indonesia haru bersiap menghadapi resesi yang sudah di depan mata.

Pertanyaannya, instrumen investasi apakah yang paling cocok untuk mendulang cuan di tengah ketidakpastian ekonomi ini?

Syarat instrumen investasi ini tentunya harus mudah secara likuiditas, karena di tengah ketidakpastian ekonomi tentu saja investor bisa sewaktu-waktu membutuhkan dana sehingga aset instrumen investasi di kala resesi hendaknya mudah dicairkan.

Selain itu instrumen investasi ini harus cenderung memiliki resiko yang rendah, karena tentunya tidak ada yang mau sudah jatuh tertimpa tangga, sudah kesulitan ekonomi akibat resesi, tabungan pun habis di investasi bodong.

Syarat lainnya, instrumen investasi ini harus mudah di akses oleh segala jenis investor ritel dengan berapapun jumlah dana tempatan.

Jadi instrumennya apa?

Salah satu instrumen investasi yang berhasil memenuhi syarat-syarat tersebut adalah Money Market Mutual Fund atau lebih dikenal dengan sebutan reksa dana pasar uang.

Ini adalah salah satu dari jenis-jenis reksa dana konvensional selain reksa dana saham, reksa dana pendapatan tetap, dan reksa dana campuran. 

Reksa dana pasar uang adalah reksa dana yang penempatan dananya 80% diinvestasikan di instrumen-instrumen pasar uang seperti, Sertifikat Bank Indonesia (SBI), deposito berjangka, surat berharga pasar uang, surat berharga komersial (Commercial Paper) yang telah diperingkat oleh perusahaan pemeringkat efek, obligasi yang jatuh temponya kurang dari 1 (satu) tahun dan instrumen pasar uang lainnya.

Reksa dana pasar uang sendiri merupakan reksa dana dengan resiko paling kecil di antara reksa dana lain apalagi di tengah ketidakpastian ekonomi.

Bandingkan dengan reksa dana saham misalnya, memiliki resiko gerak saham yang liar dan reksa dana pendapatan tetap pun memiliki risiko gagal bayar perusahaan penerbit obligasi di tengah kondisi kesulitan keuangan.

Meskipun risikonya tergolong kecil ternyata memiliki imbal hasil yang lumayan apabila dibandingkan dengan deposito bank apalagi mengingat pajak deposito bank cukup besar yakni 20%.

Tercatat rata-rata Money Market Mutual Fund memiliki return sebesar 5-6,5% lebih tinggi daripada rata-rata deposito bank BUKU IV (bank umum kelompok usaha, modal inti di atas Rp 30 triliun) yang berada di bawah angka 4% mengingat suku bunga 7-Day Reverse Repo Rate baru saja diturunkan BI ke bawah 4%.

Sebagai perbandingan return, data Infovesta Utama mencatat, reksa dana pasar uang mampu memberikan gain sebesar 3,22% sejak 31 Desember 2019-31 Agustus 2020. Angka return ini lebih tinggi ketimbang reksa dana saham yang ambles 18,68%.

Kinerja Reksa Dana 31 Desember 2020

NoNama IndeksKinerja YTD 31 Agustus 2020
(31 Desember 2019 - 31 Agustus 2020) (%)
Kinerja MoM 31 Agustus 2020
(30 Juli 2020 - 31 Agustus 2020) (%)
1Indeks Harga Saham Gabungan-16,841,73
2Infovesta 90 Balanced Fund Index-8,420,85
3Infovesta 90 Equity Fund Index-18,681,39
4Infovesta 90 Fixed Income Fund Index5,190,73
5Infovesta 90 Money Market Fund Index3,220,40
6Infovesta Corporate Bond Index3,670,63
7Infovesta Government Bond Index4,900,95

Sumber: Infovesta

Selain itu berbeda dengan deposito, reksa dana (apapun jenisnya) bisa dicairkan kapan saja ketika anda membutuhkan dana secara tiba-tiba sehingga likuiditasnya tidak usah diragukan lagi.

Tak hanya itu, produk reksa dana juga mudah diakses oleh segala jenis kalangan dengan jumlah dana tempatan minimal biasanya hanya Rp 100 ribu.

Akan tetapi tentu saja instrumen ini bukan tanpa risiko. Risiko reksa dana pasar uang salah satunya adalah tingkat return yang tentunya berfluktuasi sehingga angkanya tidak pasti seperti deposito.

Selain itu berbeda dengan deposito yang dijamin oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) dalam jumlah dan bunga tertentu, sebagian dana reksa dana pasar uang bisa ditempatkan di surat berharga komersial (Commercial Paper) dan obligasi yang jatuh temponya kurang dari 1 (satu) tahun.

Dengan demikian, masih ada kemungkinan gagal bayar alias default apabila perusahaan penerbit surat berharga ini wanprestasi.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(trp/trp)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading