Konsumen China Ramai-ramai Ganti Gadget dari Apple ke Huawei

Fintech - Bernhart Farras, CNBC Indonesia
24 May 2019 - 14:25
Konsumen China Ramai-ramai Ganti Gadget dari Apple ke Huawei
Jakarta, CNBC Indonesia - Para konsumen China memberi dukungannya untuk Huawei dan menuduh Amerika Serikat (AS) telah "mem-bully perusahaan," menurut beberapa konsumen di media sosial.

AS telah meningkatkan tekanan pada Huawei dengan memasukkannya ke dalam daftar hitam perdagangan. Dengan ini, perusahaan-perusahaan AS harus mendapatkan lisensi dari pemerintah sebelum menjual produk mereka ke Huawei. Langkah ini mengancam pasokan komponen utama untuk Huawei.

Alphabet, induk usaha Google juga telah mengatakan akan menghentikan beberapa bisnis dengan Huawei pada awal pekan ini. Tetapi AS mengurangi beberapa pembatasan dan memberikan masa tenggang 90 hari bagi perusahaan-perusahaan AS, termasuk Google, untuk dapat bekerja sama dengan Huawei.


Pengguna media sosial China, yang seringkali mendukung merek lokal, telah bersatu mendukung Huawei. Sebuah tagar dengan hampir 50 juta postingan di situs media sosial mirip Twitter, Weibo, mengatakan "chip Huawei tidak perlu bergantung pada rantai pasokan AS," dilansir dari CNBC International, Jumat (24/5/2019).

Konsumen China Ramai-ramai Ganti Gadget dari Apple ke HuaweiFoto: Huawei (REUTERS/Thomas Peter)

Beberapa pengguna mengatakan mereka akan membeli produk Huawei daripada Apple.

"Saya juga telah memutuskan untuk membeli ponsel Huawei, dan saya akan mengubah rencana saya membeli Apple Watch menjadi produk Huawei, mengambil tindakan untuk mendukung Huawei," tulis seorang pengguna Weibo. "Huawei telah di-bully dengan sangat buruk baru-baru ini oleh AS."

"Meskipun akun investasi saham saya menghadapi kerugian terus-menerus, saya bersiap untuk mengganti ponsel saya ke Huawei untuk menunjukkan dukungan dengan tindakan nyata," kata pengguna lain.

Seorang pengguna mengatakan ini adalah "fantasi" untuk menghentikan Huawei. "Kami akan menghentikan Apple," kata netizen atau warganet itu.


Belum jelas sebesar apa sentimen anti-Apple di China, tetapi seorang ahli memperingatkan bahwa klaim di dunia digital tidak boleh dianggap terlalu serius.

"Memang benar bahwa sentimen nasionalistik meningkat sehubungan dengan peristiwa baru-baru ini, dan saya tidak akan terkejut jika Apple sedikit mendapat percikan apinya," kata Bryan Ma, wakil presiden riset perangkat di perusahaan riset pasar International Data Corporation.

"Tetapi banyak pengguna di China masih menginginkan prestise dan produk Apple. Kita perlu berhati-hati untuk tidak melakukan generalisasi berlebih berdasarkan sampel pengguna vokal online," ujarnya.

Apple menolak berkomentar ketika dihubungi oleh CNBC International perihal laporan ini.

Greater China menyumbang sekitar 17% dari penjualan bersih Apple. Di kuartal kedua tahun fiskal perusahaan, penjualan bersih di wilayah ini turun lebih dari 21% secara tahunan.

Konsumen China Ramai-ramai Ganti Gadget dari Apple ke HuaweiFoto: Tim Cook, CEO Apple, berbicara selama acara khusus Apple di Steve Jobs Theatre di Cupertino, California, AS, 25 Maret 2019. REUTERS / Stephen Lam

Apple telah bersaing ketat dari Huawei di China dan pemain lain seperti Xiaomi. Perusahaan juga telah berjuang dengan strategi penetapan harga untuk perangkat terbaru di negara itu dan pengecer terpaksa memangkas harga beberapa model tersebut awal tahun ini.

Tetapi para ahli mengatakan ketegangan politik antara AS dan China dapat lebih memukul Apple.

"Saya pikir tidak sulit bagi Beijing untuk membalikkan sentimen nasional dan benar-benar menyerukan larangan langsung," kata David Riedel, presiden dan pendiri Riedel Research Group, Rabu (23/5/2019).

Huawei adalah pembuat smartphone dengan pangsa pasar terbesar kedua di dunia di belakang Samsung. Tetapi pembatasan akses terhadap pemasok-pemasok utama AS dapat merusak ambisi globalnya, kata para ahli.

Sementara Huawei bergantung pada perusahaan AS untuk produk-produknya, Apple juga memiliki sejumlah besar pemasok Cina. Jika ada gangguan pada rantai pasokan untuk Apple, hal itu bisa mengganggu penjualan.

Nicole Peng, wakil presiden mobilitas di Canalys, mencatat sebelumnya Apple pernah terkena kegiatan boikot yang "biasanya hanya berlangsung selama beberapa minggu."

Namun, kali ini bisa berbeda.


"Meskipun Apple sangat berpengalaman, kali ini bisa menjadi yang paling sulit yang pernah dialami perusahaan dan mereka harus mencoba segalanya untuk berkomunikasi dengan pengguna setia mereka," kata Peng kepada CNBC.

Menariknya, CEO Huawei Ren Zhengfei sering memuji Apple. Dia menyebutnya "perusahaan hebat" selama wawancara dengan CNBC International awal tahun ini.

Dalam wawancara lain pada Rabu dengan media China, Ren juga berbicara tentang pentingnya bekerja dengan perusahaan-perusahaan AS.

"Dalam momen kritis seperti itu, saya berterima kasih kepada perusahaan-perusahaan AS karena mereka telah banyak berkontribusi pada pengembangan Huawei dan menunjukkan kesadaran mereka tentang masalah ini," kata Ren, menurut Global Times, outlet berita yang dikelola oleh Partai Komunis China. (prm)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading