AS-China Berantem, iPhone Jadi Korban & Harga Berpotensi Naik

Market - Bernhart Farras, CNBC Indonesia
15 May 2019 09:57
AS-China Berantem, iPhone Jadi Korban & Harga Berpotensi Naik
Jakarta, CNBC Indonesia - Saham perusahaan raksasa teknologi, Apple Inc. anjlok hingga 6% pada perdagangan di bursa Wall Street AS, Senin kemarin (13/5/2019). Jatuhnya harga saham produsen produk ikonik, iPhone, ini disebabkan oleh kebijakan tarif balasan China terhadap produk impor asal AS.

China mengenakan tarif bea impor atas produk dari AS senilai US$ 60miliar atau setara dengan Rp 858 miliar (asumsi kurs Rp 14.300/US$) sebesar 25% dari tarif sebelumnya 5% hingga 10%. Pemberlakuan tarif baru ini akan berlaku pada 1 Juni mendatang.

Langkah China ini adalah balasan atas keputusan Presiden AS Donald Trump yang menaikkan tarif bea impor jadi 25% pada produk-produk impor China senilai US$ 200 miliar.


Perang dagang jilid II ini berdampak kepada saham Apple karena sebagian perakitan iPhone dilakukan di China dan hasilnya dijual di pasar AS. Jadi, produk iPhone bisa dikenakan tarif 25% bila masuk ke AS.

Analis Morgan Stanley Katy Huberty menghitung tarif 25% pada iPhone membuat harga iPhone XS naik sekitar US$ 160 (sekitar Rp 2,28 juta). Bila ditambah dengan pajak perusahaan, maka laba per saham Apple akan turun 23% pada 2020.

"Apple memiliki salah satu eksposur paling signifikan dalam perang dagang AS dengan China, apalagi banyak perakitan perangkat elektronik konsumennya berlokasi di China," tulis Huberty dalam sebuah catatan pekan lalu, seperti dikutip dari CNBC International, Selasa (14/5/2019).


"Mengingat ketergantungan pada tenaga kerja China yang mapan, berbiaya rendah dan keahliannya, perpindahan pabrik dari China tidak hanya berbiaya mahal, tetapi bisa memakan waktu beberapa bertahun-tahun untuk diselesaikan, berpotensi meningkatkan risiko," jelasnya.

Alasan lain, Apple menghasilkan banyak uang dengan menjual produknya ke konsumen China. Apple melaporkan pendapatan sebesar US$ 51 miliar pada tahun 2018 dari China daratan yang juga mencakup Hong Kong dan Taiwan.

Keputusan tarif baru ini diambil saat kedua negara sedang mengadakan perundingan dagang untuk mengupayakan kesepakatan. Saling ancam tarif ini juga terjadi setelah para pejabat dari kedua negara dengan ekonomi terbesar dunia ini mengatakan bahwa kesepakatan hampir tercapai, ternyata tidak.

Trump mengatakan serangan balik pemerintah China pada Senin pekan ini justru membuat negaranya dalam posisi yang sangat baik.

Perkembangan itu juga menunjukkan "langkah yang sangat positif" dalam negosiasi dagang yang tengah berlangsung.


"Saya menyukai posisi kita saat ini," kata Trump, dilansir dari CNBC International. "Akan ada aksi pembalasan namun tidak akan terlalu substansial bila dibandingkan."

Trump juga mengonfirmasi bahwa dirinya berencana bertemu Presiden China Xi Jinping dan Presiden Rusia Vladimir Putin di sela-sela pertemuan G20 di Jepang akhir Juni mendatang.

"Kami memiliki hak untuk mengenakan (bea impor) sebesar 25% terhadap barang-barang China lainnya senilai US$ 325 miliar," kata Trump. Namun, ia menambahkan bahwa ia "belum membuat keputusan soal itu."

Namun pada perdagangan Selasa, (14/5/2019), saham Apple yang tercatat di New York Stock Exchange (NYSE) dengan kode saham AAPL rebound dan ditutup naik 1,58% di level US$ 188,66/saham, sementara di Bursa Nasdaq saham Apple berkode AAPL juga naik 1,58% di level US$ 188,66/saham.


(tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading