Trump Sudah Blacklist Huawei, Bagaimana Nasib Xiaomi Cs?

Fintech - Roy Franedya, CNBC Indonesia
21 May 2019 - 16:39
Trump Sudah Blacklist Huawei, Bagaimana Nasib Xiaomi Cs?
Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mendeklarasikan kondisi darurat nasional di bidang teknologi, pekan lalu. Setelah aturan ini dirilis, Departemen Perdagangan AS memasukkan Huawei Technologies dalam daftar hitam perusahaan yang harus mendapatkan linsensi bila ingin berbisnis dengan perusahaan AS.

Dampak aturan ini pun segera terasa. Alphabet, induk usaha Google, menangguhkan kerja sama dengan Huawei. Perangkat Huawei yang menggunakan Android Google tidak akan mendapatkan pemutakhiran (update). Google juga tidak melisensi ponsel Android Huawei, seperti dikutip dari Reuters, Selasa (21/5/2019).



Bloomberg melaporkan, produsen chip AS, Intel, Qualcomm dan Broadcom juga menangguhkan sementara kerja sama dengan Huawei. Produsen chip asal Jerman Infineon Technologies juga mengikuti langkah tersebut.


Selang beberapa hari kemudian, Departemen perdagangan AS melonggarkan beberapa sanksi. Selama 90 hari mendatang, perangkat Huawei masih bisa mendapatkan update dari Google dan software lainnya. Tetapi tetap saja Huawei tak bisa membeli perangkat, suku cadang dan komponen dari perusahaan AS.

Trump Sudah Blacklist Huawei, Bagaimana Nasib Xiaomi Cs?Foto: Huawei (REUTERS/Dado Ruvic)

Kebijakan tegas yang diambil Donald Trump pada Huawei menimbulkan pertanyaan soal masa depan perusahaan teknologi dan produsen ponsel asal China. Apalagi kini terjadi perang dagang jilid II antara AS dan China. AS dan China saling membalas dengan menaikkan tarif bea impor.

Riset Counterpoint menyebutkan hingga kuartal IV-2018, ada lima produsen ponsel China yang menguasai pasar ponsel, yakni, Huawei (28%), Oppo (20%), Vivo (12%), Xiaomi (9%) dan Meizu (2%).



Namun, Vivo, Oppo, Xiaomi dan Meizu tidak akan terseret dalam pusaran kasus Huawei. Pasalnya, keempat produsen smartphone China tidak dianggap melanggar aturan AS.

Huawei mulai bermasalah dengan AS ketika masa kepemimpinan Presiden Barack Obama. Ketika itu pemerintah AS menduga Huawei mengelabui bank-bank AS sehingga bisa menggunakan jasa perbankan AS untuk bertransaksi dengan Iran.



Padahal Iran sedang dijatuhi sanksi ekonomi oleh AS. Perusahaan asal AS dilarang memiliki hubungan bisnis dengan Iran. Saksi ini dijatuhkan AS karena masalah pengembangan nuklir di Iran.

Tersangka dalam kasus ini adalah Meng Wanzhou, CFO Huawei sekaligus anak dari Ren Zhangfei. Ia ditahan di Kanada atas permintaan AS dan sedang diusahakan untuk melakukan ekstradisi ke AS.

Trump Sudah Blacklist Huawei, Bagaimana Nasib Xiaomi Cs?Foto: Huawei (REUTERS/Dado Ruvic)

Tuduhan lain yang dihadapi oleh Huawei adalah terkait pencurian teknologi AS dan spionase. AS menuduh Huawei mencuri rahasia dagang milik T-Mobile US Inc. Kejadian tersebut antara 2012-2014.

T-Mobile menuduh Huawei mencuri teknologi yang disebut "Tappy," Teknologi yang meniru jari manusia dan digunakan untuk menguji ponsel cerdas. Huawei mengatakan kedua perusahaan menyelesaikan perselisihan mereka pada tahun 2017.



Masalah spionase dilayangkan AS kepada Huawei dengan menuduh perangkat teknologi internet 5G Huawei bisa digunakan pemerintah China untuk memata-matai AS. Tuduhan ini berdasarkan penelitian badan intelijen AS.

Tudingan ini semakin menguat karena latar belakang Ren Zhangfei. Sebelum mendirikan Huawei, Ren Zhangfei muda merupakan mantan perwira militer China. Ia juga disebut-sebut anggota dari Partai Komunis China.



Ren Zhengfei membantah tuduhan spionase tersebut dengan menyatakan Huawei independen dan tidak akan tunduk pada keinginan pemerintah China. Huawei juga menjamin perangkat mereka sangat aman.

Ren Zhengfei mengatakan tuduhan tersebut bersifat politis, alih-alih masalah keamanan (security) perangkat.


Simak video Google tangguhkan kerja sama dengan Huawei di bawah ini.

[Gambas:Video CNBC]


(roy/prm)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading