Internasional

Huawei, Perang Dagang, hingga Sengketa Teknologi 5G

Fintech - Roy Franedya, CNBC Indonesia
12 February 2019 14:45
Huawei, Perang Dagang, hingga Sengketa Teknologi 5G
Jakarta, CNBC Indonesia - Jika Apple Inc jadi perusahaan Amerika Serikat (AS) yang paling terpapar perang dagang, maka di pihak China, Huawei Technologies dan ZTE Corp yang jadi korbannya. Kedua perusahaan teknologi ini bahkan terancam tidak bisa berbisnis di Amerika Serikat (AS).

Perang dagang yang dicetuskan oleh Presiden Donald Trump awalnya berisi perang tarif bea masuk impor antar kedua negara dengan perekonomian terbesar di dunia. Namun kemudian merembet ke sisi teknologi.

Mengutip CNBC International, Presiden Trump mengeluhkan pencurian kekayaan intelektual milik perusahaan AS oleh perusahaan China. AS menuduh China mencuri teknologi perusahaannya melalui venture capital yang sebagian dananya berasal dari pemerintah China. AS juga menuduh pencurian terjadi melalui perjanjian kerja sama yang tidak adil dengan perusahaan AS.


Titik serang Trump dalam masalah pencurian kekayaan intelektual adalah inisiatif 'Made in China 2025'. Melalui program ini, China berusaha untuk bertransformasi menjadi negara terdepan dalam sektor teknologi. Salah satunya dalam jaringan internet 5G dan internet of things (IoT).

"Saya melihat China lima tahun lebih awal dari AS ketika sampai pada tingkat di mana digitalisasi telah terintegrasi ke dalam ekonominya," ujar Arun Sundararajan, profesor di Sekolah Bisnis Stern New York dalam diskusi pada konferensi World Economic Forum (WEF) di Tianjin, September 2018.

Huawei termasuk salah satu perusahaan terdepan dalam mengembangkan teknologi 5G. Namun, Huawei menghadapi tuduhan menjadi mata-mata China karena aksi mencuri rahasia dagang dari T-Mobile US Inc bernama teknologi robot Tappy.

Bahkan senator Partai Republik Tom Cotton secara terang-terangan menuduh Huawei sebagai bagian dari spionase China karena latar belakang pendirinya.

Huawei, Perang Dagang Hingga Sengketa Teknologi 5GFoto: Pendiri dan CEO Huawei, Ren Zhengfei (AP Photo/Vincent Yu)

"Huawei secara efektif adalah unit pengumpul informasi intelijen milik Partai Komunis China yang pendiri dan CEO-nya adalah seorang insinyur untuk angkatan bersenjata China, People's Liberation Army," kata Tom Cotton.

Sejak itu bisnis Huawei terhambat. di Amerika, Huawei dilarang menjual perangkatnya ke dinas kemiliteran dan intelejen negara. Australia dan Selandia Baru memutuskan untuk memblokir Huawei dalam teknologi 5G dengan alasan keamanan.


Simak video tentang kerajaan bisnis Huawei di bawah ini.

[Gambas:Video CNBC]


(roy/prm)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading